
Pagi ini Iris kembali bangun lebih awal. Setelah merapikan sisa-sisa piring kotor bekas makan malam ia dan Damar semalam,Iris pun berlanjut mencuci,mengeringkannya dan serbet dan menyusunnya di rak piring.
Selesai dengan urusan membersihkan perabotan dapur,Iris melanjutkan kegiatannya dengan memilih bahan-bahan sayur yang akan ia masak untuk sarapannya dan Damar pagi ini.
"Pagi.."
Terdengar sapaan berat nan serak dari arah belakangnya membuat Iris refleks menoleh dan langsung disuguhkan dengan pemandangan wajah Damar yang terlihat segar sehabis mandi.
Iris tiba-tiba saja meneguk ludahnya dengan kasar.
"So sexy..." Batin Iris sambil menatap Damar tanpa kedip.
"Nona,masakanmu gosong." Bohong Damar yang berhasil membuat Iris panik.
"Astaga...,matikan kompornya..!!" Teriak Iris sembari berlari menuju ke kompor yang bahkan tidak menyala.
Kekehan kecil dari bibir Damar membuat Iris sadar jika ia ternyata dibohongi oleh Damar.
"Astaga Damar!! Bisa-bisanya kau mengerjaiku sepagi ini." Omel Iris dengan wajah terkejutnya.
Damar kembali terkekeh. "Makanya nona,lain kali jangan suka melamun. Lagipula masa nona tidak sadar jika sedari nona masih memotong-motong bahan masakan. Apa pesonaku sebegitu menghipnotis nona?"
Iris mendengus. "Cih,kau itu terlalu percaya diri. Memangnya kau pikir dirimu itu tampan apa??"
Damar mengangkat kedua bahunya dengan santai sembari mendudukkan tubuhnya ke kursi.
"Tentu saja saya tampan,apa kurang jelas di penglihatan nona? Oh,atau apa perlu saya ceritakan tentang berapa banyak karyawan wanita di kantor yang menyukai saya?"
"Ohh,pamer ini ceritanya? Jadi sekarang apa kau ingin mengatakan secara tersirat padaku bahwa banyak yang menginginkan dirimu di kantor dan kau berniat mencari daun muda,begitu?"
Damar menggeleng sembari menyeruput kopi dingin yang sepertinya sudah Iris buat dari tadi.
"Saya tidak berniat mencari daun muda nona. Di halaman sudah terlalu banyak daun yang bahkan belum di bersihkan,jadi untuk apa mencari daun lagi."
"Hah..,terserah kau sajalah!!"
Kata Iris mengalah,ia memilih mencuci bahan sayuran yang tadi sudah ia potong-potong lalu mulai mengulek bumbu masakan.
Usai mengulek bumbu,Iris pun menumis bumbu-bumbu tadi di wajan dan tak seberapa lama tercium aroma wangi dari masakan yang berhasil membuat sudut bibir Damar terangkat.
__ADS_1
"Ternyata dia serius dengan ucapannya kemarin." Batin Damar sembari beranjak dari kursinya dan masuk kembali ke kamar untuk mengganti pakaian dan bersiap pergi ke kantor.
♡♡♡
"Nah,ini bekalmu untuk makan siang nanti. Hari ini aku tidak bisa mengantarkan bekal untukmu ke kantor. Beberapa stok bahan makanan di dapur mulai menipis,aku mau berbelanja ke supermarket dan mungkin pulangnya agak sore karena ingin mampir juga ke rumah mama nanti."
"Jadi bekal ini ku siapkan untukmu agar kau tidak perlu makan di luar apalagi dengan gadis jelek kemarin itu,aku tidak sudi jika kau dekat-dekat dengannya. Dia itu parasit yang membawa pengaruh buruk."
"Kau nanti di kantor jangan cari-cari kesempatan untuk dekat dengannya. Jika pun dia yang mendekat,kaulah yang harus menjauh. Kau paham??"
Damar mengangguk-angguk bak orang bodoh saat mendengarkan nasehat panjang lebar dari istrinya itu.
"Oh ya,satu lagi." Iris berkata sambil merogoh saku piyama yang kini tengah ia kenakan.
"Ini kunci mobilku,kau pakai saja untuk ke kantor agar tak perlu naik taxi lagi. Aku juga tidak mau ada cewek-cewek centil di kantor yang sengaja sok heroik menawarkan tumpangan padamu. Kau harus ingat,aku istrimu juga tak kalah kaya dan cantik dari mereka."
"PAHAMKAN??"
"Tapi nona,yang ini..."
"Tidak ada yang ini atau yang itu. Berangkat sekarang pakai mobilku atau aku akan menyuruh om Ridwan memberhentikan kau dari kantornya dan kau tidak usah bekerja saja. Biar aku yang cari nafkah."
"B...baiklah nona. Saya akan berangkat ke kantor sekarang dan jangan menyuruh siapapun memecat saya. Saya masih ingin bekerja."
"Good. Berangkat sekarang dan ingat! JANGAN BERANI BERMAIN SERONG DI BELAKANG KU! JANJI??"
"Ya nona saya berjanji."
"Cup.." Tanpa aba-aba Iris mencium pipi kanan Damar dan setelahnya ia berlari masuk ke dalam rumah sembari berteriak.
"Hati-hati di jalan ya......!!!"
♡♡♡
"Tingg..." Suara notifikasi ponsel dari handphone Iris berbunyi membuat gadis yang baru selesai mandi dan akan berganti pakaian itu menghentikan aktifitasnya dan berjalan menuju nakas untuk melihat siapa yang barusan mengirimkan pesan padanya.
+62856....xxxx
"Morning Baby. Apa agenda mu hari ini? Jika tak keberatan,bisakan kita bertemu dan mengobrol-ngobrol sebentar?"
__ADS_1
Mata Iris sontak melotot tak santai. Tanpa membalas pesan yang barusan masuk ke ponselnya.
Iris langsung memblokir kontak tersebut dan memilih menghapus kontaknya karena ia sudah tau siapa si pengirim pesan tanpa perlu bertanya.
♡♡♡
Dua puluh menit kemudian....
Iris keluar dari kamarnya dengan kaos berwarna peach lengan panjang dengan bawahan rok tutu berwarna putih yang di sepanjang roknya terdapat hiasan manik-manik yang menambah kesan feminim pada penampilan Iris hari itu.
Usai mematut-matut penampilannya sekali lagi dan memastikan tidak ada yang aneh dengan penampilannya,Iris pun beranjak keluar rumah mengunci pintu dan berjalan keluar pekarang lalu masuk ke taxi yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Kita ke supermarket yang di jalan Cendana ya pak." Perintah Iris pada supir taxi tadi."
Supir taxi itu mengangguk singkat dan tak beberapa lama setelahnya taxi yang Iris tumpangi mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya.
Dari kejauhan sebuah mobil berwarna hitam tampak berjalan pelan dengan jarak sekitar delapan meteran dan terus mengikuti kemanapun taxi yang Iris tumpangi itu bergerak.
Tanpa Iris sadari,bahwa saat itu dirinya telah dibuntuti oleh seseorang yang entah apa niatnya...
♡♡♡
Mobil yang Iris kendarai sampai di depan sebuah minimarket yang berada di jalan cendana tak jauh dari tempat tinggal orang tuanya.
Setelah membawayar ongkos taxi,Iris masuk ke dalam untuk membeli kebutuhan rumah yang tadi sudah ia list dan tinggal di cari saja barangnya.
Masuk ke dalam,Iris langsung mengambil sebuah troli dan mulai berjalan menuju ke rak-rak kebutuhan dapur seperti minyak goreng dan lain sebagainya.
Iris mengambil satu persatu barang yang sudah ia list lalu memasukkannya ke dalam troli,untung ini bukan pertama kalinya Iris belanja,dulu selama masih tinggal di rumah keduanya Iris pernah beberapa kali iseng mengikuti pembantu di rumahnya berbelanja ke supermarket jadi saat sekarang ia mengulangnya sendiri ia tak kaku lagi.
Setengah jam berlalu....
Iris selesai dengan kegiatan belanjanya dan bersiap untuk membayar ke kasir. Begitu tangannya terulur untuk memberikan kartu atm miliknya.
Sebuah tangan terlebih dahulu mendahului pergerakan Iris.
"Biar saya saja yang bayar..."
♡♡♡
__ADS_1