Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Penyelesaian 4


__ADS_3

Iris mendapat berita dari Damar,bahwasanya dua minggu lagi akan ada acara peresmian hotel milik Parsena group,hotel yang diberi nama Centaury Hotel tersebut berhasil rampung dibangun tiga minggu yang lalu dan akan diresmikan dua minggu lagi.


Damar sebagai manager sekaligus kaki tangan Parsena group mendapat amanat langsung dari Ridwan selaku Founder untuk ikut menghandle kegiatan peresmian.


Sebagai mana upaya agar semuanya berjalan dengan lancar,Damar pun meminta bantuan Iris yang sebelumnya sudah punya cukup banyak relasi untuk kemudian mencarikan perusahaan even organizer yang siap membantu kelancaran acara peresmian.


Salah satu perusahaan EO MoonLight company's menyatakan siap menangani segala persiapan acara peresmian dan siang ini rencananya Damar akan menemui manager yang bersangkutan untuk kemudian mengadakan runding perihal apa saja persiapan yang harus disiapkan sekaligus membahas masalah berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh Parsena Group.


♡♡♡


Dua minggu kemudian...


Seluruh persiapan acara peresmian Centaury Hotel bersiapkan disiapkan dengan baik oleh segenap staff Parsena Group.


Siang tadi juga para staff di pulangkan lebih awal karena malam ini akan diadakan acara khusus langsung di hotel yang akan diresmikan tersebut.


Saat ini Damar dan Iris berada di kediaman keluarga Bagaskara. Mengingat tadi siang sepulang bekerja Iris meminta agar dia dan Damar pergi bersama keluarga Bagaskara saja mengingat keluarga Bagaskara juga di undang,Damar pun tak punya pilihan lain kecuali menerima ajakan sang istri yang belum sepenuhnya ia jadikan istri tersebut.


"Pakai baju yang ini,cocok tidak?"


"Atau yang ini?"


Dua buah gaun panjang tanpa lengan Iris perlihatkan pada Damar agar suaminya itu menilai.


Damar pun mengamati kedua gaun itu dengan seksama lalu mencebik.


"Tidak ada yang bagus. Sama-sama kurang sopan,apa tidak ada yang lebih sopan dari itu?"


Iris mendengus. "Ini gaun mahal tau! Lagi pula kita pergi ke sebuah pesta bukan rumah ibadat,tidak harus selalu sopan."


Damar mengabaikan ucapan Iris. "Jika meminta penilaianku maka jawabanku tetap sama,pakaiannya kurang sopan. Coba kau pakai gaun yang aku belikan waktu itu. Ada di sini kan?"


Iris mencebikkan bibirnya tak berkomentar,kakinya terpaksa ia seret lagi menuju lemari lalu mengeluarkan sebuah gaun berwarna putih tulang berbahan brokat dari sana.


Itu adalah gaun pemberian Damar dan walaupun harganya tak semahal baju-baju Iris. Iris tetap membawanya ke ruang ganti dan memakainya.


"Bagus?" Tanya Iris sesaat setelah ia keluar dari ruang ganti.

__ADS_1


Damar menatap Iris ulang dari atas sampai ke bawah. Setelah memastikan penampilan Iris oke. Ia pun mengangguk.


"Bagus,terlihat lebih anggun dan sopan tak ketinggalan sederhana juga. Aku lebih suka kau yang seperti ini,kecantikanmu lebih terpancar."


Iris tersenyum malu,ucapan Damar berhasil membuat ribuan kupu-kupu bertebangan di sekitar rongga dadanya,kedua pipinya juga ikut memanas merespon pujian Damar.


"Kau sendiri tidak siap-siap?"


"Aku sudah siap. Hanya tinggal menunggu istriku memasangkan dasi untukku saja." Jawab Damar enteng.


Iris tertawa kecil mendengar jawaban Damar. Dengan segera ia meraih sebuah dasi hitam yang ada di atas ranjang dan mulai mengenakannya pada kerah baju Damar. Selesai dengan dasi,Iris mengambil jas Damar dan mengenakannya di tubuh pria itu.


"Perfect." Ujar Iris setelah menambahkan sapu tangan ke saku jas Damar.


Keduanya pun keluar kamar dengan keadaan bergandengan,sesampainya dibawah sana kedua orang tua Iris sudah menunggu mereka.


"Pengantin lawas,sudah turun rupanya?" Nyonya Bagaskara terdengar meledeki Iris dan Damar.


Damar tersenyum canggung sedangkan Iris mengangguk malu.


Nyonya Bagas menggeleng disambung ucapan tuan Bagas.


"Tidak lama. Papa sama mama juga baru keluar dari kamar,mamanya hanya bergurau."


"Habisnya jarang bisa membuat Damar gugup. Selama ini kan pisah rumah,kalian sih tidak mau tinggal di sini." Celetuk nyonya Bagas.


"Bukannya tidak mau ma. Saya dan Iris kan sudah punya rumah lagian dari sana dekat untuk ke kantor. Kecuali nanti jika Iris hamil,baru kami akan tinggal di sini."


Mendengar jawaban Damar yang membahas kehamilan. Iris mencibir di dalam hati.


"Sok-sok-an membicarakan kehamilan. Membuatnya saja belum pernah bagaimana mau hamil. Dasar!" Batin Iris mengumpati akting Damar.


"Kalau sudan bagas cucu begini,apa boleh buat ya pa. Kita cuma bisa mengamini." Ujat nyonya Bagas dengan lirikan penuh ledekan.


"Sudah-sudah jangan diledekkin begitu. Kasihan Iris dan Damar jadi malu,bagaimana kalau kita berangkat saja? Sudah hampir jam tujuh. Acaranya mulai jam setengah delapan kan?" Kata tuan Bagas melerai.


Damar dan Iris mengangguk.

__ADS_1


"Mau satu mobil atau bagaimana?" Tanya tuan Bagas lagi.


Damar dan Iris kali ini tak langsung menjawab melainkan memberi kode lewat sorot mata masing-masing.


"Kami naik mobil kami saja. Nanti papa sama mama di depan kamu mengikuti dari belakang."


"Ah begitu.." Nyonya Bagas mengangguk-angguk.


"Biar lebih private ya Ris ya." Godanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Iris yang cemberut karena lagi-lagi di goda oleh sang mama.


Keluarnya kedua orangtua Iris di sambut dengan deringan handphone Damar yang berbunyi.


"Nona Olivia." Begitulah nama yang terpampang di layar ponsel Damar.


Iris yang ikut membaca langsung tahu jika yang menelpon adalah Oliv si manager EO.


"Iya halo nona ada apa?" Sapa Damar langsung pada intinya.


"Ah,tidak apa pak Damar. Saya hanya mengkonfirmasi bahwa tim kami sudah stay on location jadi jika ada apa-apa jangan sungkan langsung menghubungi saya agar saya segera memberi arahan."


"Oh begitu. Baiklah nona Oliv,terimakasih untuk partisipasinya."


"Oh iya,satu lagi. Pak Damar dan istri belum datang ya?"


"Belum." Damar melirik pada Iris yang terlihat menguping.


"Sebenarnya baru saja mau pergi namun harus terjeda karena mengangkat telepon." Ujar Damar terus terang.


"Oh,begitu. Maaf pak maaf,saya tidak tau. Kalau begitu saya tutup dulu ya teleponya. Selamat malam pak dan sampai jumpa nanti malam."


Telepon terputus,Damar menoleh ke samping dan mendapati istrinya tengah menatapnya sinis.


"Manager Oliv naksir kamu kayaknya...!"


♡♡♡


Guys..,beberapa bab lagi ya. Sekitaran dua bab konflik dan dua bab penyelesaian lagi baru deh end. Sabar ya...

__ADS_1


__ADS_2