
Sekitar pukul empat sore,Damar keluar dari kantor menuju ke gerbang luar.
Terlihat sebuah taxi yang tadi ia pesan sudah stand by menunggu kedatangannya.
Damar pun masuk ke dalam taxi tersebut,tanpa menyadari jika ada seseorang yang juga menyusulnya masuk dari pintu sebelah.
"Brakk." Bunyi dua daun pintu beradu membuat Damar tersadar jika bukan hanya dirinya yang baru saja masuk.
Dengan refleks ia pun menoleh ke belakang dan langsung mengernyit saat melihat sosok yang ada duduk di samping kursi kemudinya itu.
"Nona Imel? Kenapa anda di sini?" Tanya Damar bingung sekaligus langsung memasang wajah tak bersahabat.
Imel yang ditanyai dengan wajah tak bersahabat tersebut hanya memamerkan senyum manis pada Damar.
"Mobilku rusak Damar. Lagi pula,kenapa? Memangnya ada larangan bagiku untuk menumpang taxi? Tidak ada kan?"
Damar menggeleng,membuat Imel lagi-lagi tersenyum senang.
"Kalau begitu berati aku boleh dong naik taxi ini?"
Damar menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Terserah nona saja." Jawabnya acuh tak acuh.
Damar kemudian beralih pada supir taxi lalu meminta izin untuk pindah duduk ke depan. Setelah itu ia meminta agar supir tersebut mengantarkannya terlebih dahulu ke sebuah cafe yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.
Sementara itu,Imel yang berada di kursi belakang hanya bisa memberenggut karena kesal dengan sikap Damar yang terang-terangan menjauhinya.
"Dasar lelaki kere kurang ajar!! Lihat saja nanti,kau akan menyesal karena sudah berlaku sekurang ajar ini padaku."
Batin Imel sambil membuang pandangannya keluar jendela mobil.
Sepersekian detik berlalu,suasana di mobil benar-benar terasa sepi sampai pada saat mobil berhenti di lampu merah,tatapan Imel terpaku pada satu mobil yang berhenti tak jauh dari tempat mobil mereka berhenti.
Dari jarak yang tak begitu jauh itu,Imelda mengerutkan keningnya saat melihat sosok yang ada di dalam mobil tersebut.
"Seperti kenal,tapi siapa ya?" Batin Imel bergumam. "Ah,aku ingat dia itu kan..." Imel tak jadi melanjutkan gumamannya namun senyum licik seketika terpancar dari wajahnya.
"Kedatangan tak terduga di momen yang sempurna.." Lanjut Imel setelah mobil tersebut berjalan dan plat mobilnya pun sudah ia ingat.
__ADS_1
♡♡♡
"Ting..." Suara notifikasi dari ponsel Iris membuat gadis yang tengah membaca majalan harian di kursi ruang tamu itu mengalihkan antensinya dari majalah tadi lalu mengambil ponsel untuk ia lihat siapa yang mengirimkan pesan padanya itu.
+62856..xxxx..
"Hallo baby..."
"Aku ada di Indonesia saat ini,apa ada waktu untuk bertemu?"
Mata Iris seketika membulat. Buru-buru ia menekan fitur profil pemilik nomor tersebut untuk memastikan siapa pemilik nomornya.
Dan setelah membaca nama yang tertera di bio,detak jantung Iris seketika terhenti selama beberapa detik sembari mengerjabkan matanya berkali-kali.
"Tidak mungkin. Ardo ada di Indonesia??" Gumam Iris dengan nada tak percayanya.
Belum lega kekagetan Iris. Terdengar bel pintu berbunyi membuat ia mau tak mau harus beranjak untuk membukakan pintu dan ternyata..
"Eh,Damar..? Kau ternyata,aku kira siapa." Ujar Iris dengan senyum kakunya. Kegugupan yang ia rasakan belum juga hilang kendati yang datang adalah Damar,suaminya sediri.
"Kenapa dengan wajahmu nona? Apa ada yang aneh dengan kedatanganku?" Tanya Damar heran.
"Ah,tidak ada kok. Hehe,aku..,aku tadi hanya terkejut. Aku sedang membaca buku dan hampir tertidur,lalu kau datang. Jadi agak sedikit terkejut dan pusing saat di bawa berjalan dan membuka pintu." Elak Iris menutupi kegugupannya.
Damar sempat mengangkat sebelah alisnya menelisik,namun karena tidak menemukan hal yang bisa di curigai ia akhirnya hanya mengangguk mempercayai penjelasan Iris.
"Baiklah,kalau begitu nona istirahatlah lagi karena saya juga akan mandi dan bersih-bersih,rasanya badan saya sudah sangat gerah dan lengket."
Ujar Damar sambil berjalan masuk ke depan dan membuka sepatu yang ia kenakan di rak sepatu yang sudah di siapkan. Tak lupa ia juga mengambil kaus kaki yang tadi ia pakai lalu membawanya menuju ke keranjang di dekat mesin cuci untuk kemudian di cuci nantinya.
Iris yang melihat Damar hendak masuk ke kamar,buru-buru menghalangi tubuh Damar dengan tubuhnya membuat Damar hampir terjengkang.
"Astaga nona..,anda menganggetkan saya.." Protes Damar dengan nada kesal.
Iris menyengir. "Maaf ya suamiku. Tapi sebaiknya anda tunggulah di ruang tamu sebentar,biar aku yang siapkan air hangat di bathtup untuk kau mandi. Okey..,tunggu di sini sebentar ya,aku janji tidak akan lama-lama."
Iris bergegas masuk ke kamar mandi mendahului Damar dan tak lama,bunyi gemericik air terdengar sayup-sayup dari balik pintu kamar mandi yang memang tak tertutup rapat.
Damar menunggu dengan sabar hingga tak berapa lama,terlihat Iris keluar dari dalam kamar mandi dengan bercak basah di beberapa bagiannya.
__ADS_1
Damar hanya bisa menghembuskan napasnya dengan pelan,ia yakin jika di dalam sana tadi,Iris pasti sempat bermain-main air. Makhlumlah gadis itu memang selalu bertingkah kekanak-kanakan.
"Mandilah,airnya sudah aku siapkan lengkap dengan lilin aroma terapinya. Kau akan relax dan beban pekerjaanmu akan terlupakan sejenak jika kau berendam di sana." Ujar Iris dengan PD yang malah terdengar sepert sales promosi.
Damar hanya mengangguk singkat kemudian berjalan masuk ke kamar mandi sembari menenteng handuk yang tadi ia sampirkan di bahunya.
"Damar tunggu dulu.." Iris berteriak lagi sebelum Damar masuk ke kamar mandi. Mau tak mau pria jangkung itu berbalik kembali dengan memasang raut malas.
"Apalagi nona Iris?"
"Em...,itu...,anu..,pakaianmu. Apa tidak sebaiknya aku siapkan juga?" Tanyanya dengan gugup.
"I..ltu tadi,aku membaca di google katanya sebagai istri yang baik aku juga harus memperhatikan penampilan suamiku dimulai dari menyiapkan pakaian,jadi apa aku boleh..."
"Tidak perlu nona Iris,untuk urusan pakaian biar aku siapkan sendiri. Nona sebaiknya kembali saja keluar atau membaca buku atau lakukan pekerjaan yang lain saja. Dan terimakasih untuk air hangatnya.."
Lanjut Damar sambil masuk kembali ke kamar mandi dan menutup pintu dengan rapat.
Di sisi lain,Iris *******-***** tangannya dengan gugup antara kecewa dan lega.
Kecewa karena Damar belum menerima dan memaafkan ia sepenuhnya,namun lega juga karena tidak jadi menyiapkan pakaian Damar.
"Karena sebenarnya,aku pun belum siap jika harus memegang dalaman yang harus Damar kenakan,hi...,membayangkannya saja sudah ngeri,apalagi menyentuhnya."
Iris membatin sambil memukul-mukul kepalanya dan berlalu kembali keluar kamar.
Saat sampai di ambang pintu,terdengar bel pintu berbunyi.
Iris lagi-lagi mengernyit heran. Tak biasanya ada orang yang bertamu ke rumahnya dan Damar apalagi di jam sesore ini,jadi dengan langkah penasaran Iris mempercepat langkahnya menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ceklek..."
♡♡♡
Bersambung...
To be continue...
(sabar ya gesss,aku mau boom up...tapi otakku dan mataku ora bisa di ajak kerjasama. Pengennya turu ae..,yo wes lah akunya pun tidak bisa berword-word lagi..."
__ADS_1
Dh lah,bye bye...