
Perkataan Sofia menyulut amarah dalam diri Wawan. Tangan pria itu menggantung di udara hampir saja menciptakan kenangan buruk di pipi istrinya.
"Mau nampar? Tampar aja," tantang Sofia bahkan memberikan pipinya dengan senang hati.
Bugh. Tangan itu mendarat di tambok tepat di samping pipi Sofia.
"Begini cara kamu ingin bercerai? Ternyata keputusan menikahi kamu adalah sebuah kesalahan," ujar Wawan dengan senyum sinis dan nada dingin. Sofia sampai terperangah mendengar ucapan Wawan yang tidak biasanya.
Usai mengucapkan kalimat yang pasti menyakitkan bagi Sofia, Wawan pergi ke kamar mandi. Selesai dari kamar mandi Wawan melihat Sofia masih di tempat yang sama dengan pandangan kosong. Namun dia enggan untuk mendekat dan lebih memilih berangkat ke masjid.
Suara pintu di tutup membuat Sofia menoleh namun enggan untuk beranjak. Separuh jiwanya seperti dibawa Wawan entah ke mana.
Sementara di Masjid setelah melaksanakan shalat, Wawan duduk terpekur. Haruskah dia menyerah sampai di sini saja. Sepertinya hati Sofia begitu sulit untuk diketuk.
"Kang Wan?" Imam masjid menyapa dan duduk di dekat Wawan. "Sehat? Baru kelihatan lagi."
"Alhamdulillah, ustadz, sekarang sudah lebih baik," balas Wawan dengan senyum.
"Syukurlah, semoga selalu diberikan jalan dan kemudahaan dalam setiap pekerjaan."
Usai shalat isya Wawan baru pulang ke rumah. Sofia sudah tidak ada di tempat tadi. Harum masakan tercium dari arah dapur. Ternyata istrinya sedang menyiapkan makanan. Perempuan itu hanya menoleh saat menyadari suaminya pulang. Tidak menyapa, tidak juga meminta maaf. Bukan tidak menyadari kesalahan namun begitulah perempuan, ada rasa gengsi untuk meminta maaf lebih dulu.
"Aku masih menepati janji, terserah mau di makan atau enggak," ujar Sofia yabg melihats uaminya malah menggelar kasur dan merebahkan tubuh.
Perkataan itu tidak digubris oleh Wawan, dia memilih memejamkan mata.
Sudah capek memasak tapi tidak dihargai itu sangat menyedihkan, itu yang sedang dirasakan Sofia saat ini.
Aksi saling mendiamkan ini terjadi sampai hari-hari berikutnya. Namun Wawan meskipun mendiamkan bukan berarti abai. Dia tetap menyediakan sarapan dan mencuci pakaian sebelum berangkat bekerja. Selalu mengunjungi kamar sang istri setiap malam meski hanya sekedar duduk dan menatap wajah yang terlelap. Memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
Saat mendengar handle kamar diputar, Sofia segera memrjamkan mara untuk pura-pura tidur. Dia ingin tahu apa yang dilakukan suaminya.
Setengah jam telah berlalu hingga terdengar kembali handle pintu seperti diputar, dia tidak mendengarkan kalimat apa pun yang terucap dari suaminya.
***
"Nanti sore walimatul khitannya anak A Dani, kamu datang kan?" tanya Sofia. Pada akhirnya dia yang memulai kembali bicara setelah gencatan senjata hampir tiga hari.
"Mungkin enggak. Kamu pasti malu berdampingan sama aku." Wawan membalas tanpa menoleh, dia sibuk menjemur pakaian. Rutinitas setiap pagi agar rumah selalu bersih dan rapi.
Sofia menunduk, sejenak mengolah kata lalu kembali menatap suami yang tengah membelakanginya. "Aku minta maaf."
Sedikit menoleh hanya untuk memastikan apa yang Wawan dengar. Benarkah istrinya meminta maaf? Kini mereka saling menatap namun Sofia segera menunduk kala merasakan adanya getaran akibat tatapan mata.
"Aku udah minta maaf, jadi kamu harus datang. Jangan sampai bapak menyadari ini. Aku gak mau kena omel lagi."
Wawan masuk ke dalam rumah setelah mengedikkan bahu sebagai jawaban. Sarapan kemudian berangkat.
Waktu berjalan begitu cepat tanpa banyak yang menyadari itu. Banyak dari sebagian penduduk bumi yang begitu sibuk dengan dunia. Bekerja, bekerja, bekerja lalu bersenang-senang.
Tak sedikit yang mendifinisikan mensyukuri hidup yaitu dengan bersenang-senang. Bahkan ranjang yang belum halal banyak disinggahi. Dengan dalih hidup itu hanya sebentar jadi nikmati saja yang ada di depan mata sekarang. Lupa bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah setelah raga dan nyawa tidak lagi menyatu.
Sibuknya Wawan dalam mengejar dunia semata untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang suami yang harus mencari nafkah, membuat dia lupa bahwa istrinya mengajak hadir pada acara kakak iparnya. Hal tersebut menghadirkan rasa cemas pada diri Sofia. Beberapa kali ia menoleh pada pintu, berharap sang suami datang dan orang-orang di sekitarnya tidak lagi menanyakan keberadaan Wawan.
"Wawan belum datang?" tanya Dani yang tengah memangku si bungsu. Ilah juga ikut menanyakan hal yang sama. Sehingga Sofia merasa tengah ditodongkan dua senjata yang sewaktu-waktu akan memisahkan raga dengan nyawa.
"Belum. Tadi bilangnya masih banyak pekerjaan katanya harus selesai hari ini."
Dani mengangguk, "Nanti kalau sudah datang suruh temui 'Aa, ya!" kata Dani sebelum menyapa kerabat dan saudara jauh yang rela datang memenuhi undangannya.
__ADS_1
"Fiuuuuh." Terdengar hembusan nafas lega dari bibir Sofia. "Awas aja kalau bener-bener gak datang."
Sebuah pesan ia terima dari nomor yang sama yang waktu itu mengirimkan foto Wawan dan Rahma. Kali ini tidak ada Rahma, hanya saja foto tersebut menampilkan Wawan yang tengah berdiri di depan pintu gerbang rumah Rahma.
(Dua insan yang saling mencintai itu tak akan mudah terpisah meski sebuah tembok menjadi penghalang.) Begitulah isi pesannya.
(Harusnya kamu itu sadar Sofia, bahwa kamu hanya menjadi tempatnya berlari untuk sementara. Sebentar lagi dia akan kembali pada rumah yang sesungguhnya. Rahma. Aku masih melihat cinta dalam mata suamimu untuk gadisnya pak Lurah.)
Sofia meremas tangan setelah membaca rentetan pesan dari nomor itu. Apalagi sampai waktu isya telah berlalu namun Wawan tak kunjung datang. Jangan salahkan ia jika akhirnya lalat hijau hinggap pada makanan yang mulai membusuk.
Wawan sendiri pulang ke rumah setelah membantu Teh Ai mengantarkan pesanan ke rumah Pak Lurah. Dia segera mandi lalu menyusul istrinya ke rumah Dani.
"Malam banget, Wan?" sapa Pak Yanto yang sedang membereskan panggung untuk acara pengajian yang akan digelar dua jam lagi.
"Iya tadi nganter dulu pesanan Pak Lurah, Pak. Neng ada di dalam?"
"Ada, langsung masuk aja. Makan dulu sekalian, belum makan kan?"
Wawan mengangguk lalu masuk dan menemui istrinya. Wajah kecut beberapa hari yang lalu kini terlihat lagi. Bedanya sekarang tidak langsung berteriak seperti waktu itu.
"Dari mana dulu?" tanya Sofia sambil menyodorkan makanan.
"Nganter pesanan Pak Lurah dari Teh Ai. Sedikit lama menunggu karena di rumah Pak Lurah tidak ada orang." Wawan menjawab sambil menikmati makan malamnya. Jelas dia merasakan lapar karena hanya makan tadi pagi sebelum berangkat kerja. "Jangan marah di sini ya, di rumah aja."
Sofia yang tengah mengumpulkan kalimat umpatan menoleh. Bagaimana bisa Wawan berpikir seperti itu, gumam Sofia di dalam hati.
"Shuuut, nanti saja." Wawan menghentikan bibir yang tadi entah akan mengatakan apa.
"Wan, eh lagi makan ya." Dani menghampiri adik iparnya. Dirangannya terdapat berkas yang dibalut kertas mika berwarna kuning.
__ADS_1
"Sebentar lagi selesai, kenapa 'A?"
"Ini mau minta tolong nganterin ini ke rumah Pak Lurah."