
Hari beranjak menjelang malam. Kedua orangtua Iris memesankan makan malam untuk mereka berempat,selesai makan malam kedua orangtua itu langsung berpamitan untuk pulang.
Awalnya tadi mereka akan menginap. Namun karenw mulai besok Iris tidak lagi bekerja membantu papanya Bagas,tuan dan nyonya Bagas mengurungkan niatnya untuk menginap karena harus kembali bekerja pagi-pagi mulai besok.
Tuan Bagas juga berencana akan mencari asisten CEO pengganti Iris,niatnya ingin meminta Damar. Namun pria itu menolaknya dengan halus dengan alasan belum siap untuk saat ini.
Tuan Bagas pun juga tak memaksanya.
♡♡♡
"Ceklek.."
Damar menutup pintu depan setelah kedua mertuanya itu pulang.
Selesai menutup dan mengunci pintu,Damar berbalik dan kedua alisnya mendadak mengkerut saat melihat Iris tengah berdiri dengan kedua tangan terentang.
Damar berusaha mengabaikan apa yang akan Iris perbuat dengan meninggalkan pintu dan mengabaikan tingkah Iris.
Iris yang melongo melihat Damar berjalan melewatinya begitu saja pun langsung menurunkan tangannya,membalikkan badan dan mengejar Damar dengan perasaan jengkel.
"Damar tunggu!!" Teriak Iris saat Damar akan masuk ke kamar utama tempat di mana seharusnya ia tidur.
Iris berdiri di depan pintu menghadang langkah Damar dan merentangkan tangannya kembali.
"Peluk aku dulu!" Pinta Iris spontan tanpa aba-aba.
Damar seketika melotot dibuatnya.
"Yang benar saja." Batin Damar.
"Maaf nona,saya tidak berminat. Dan tolong menyingkirlah,jangan ganggu saya." Pinta Damar dengan nada datarnya.
Iris mendengus mendengar nada bicara Damar yang kembali datar. Mulut bawelnya langsung memprotes.
"Ish kau itu! Kenapa lagi sih Damar? Bukannya tadi kau sudah menyetujui pernikahan kita,dihadapan orangtua ku juga kau bilang siap untuk bertanggung jawab. Kenapa sekarang kau bersikap jutek lagi? Kau berbohong ya tadi?"
Damar mengangkat bahunya dengan ekspresi acuh tak acuh.
"Saya menyetujuinya karena saya tidak mau nona mengapa-apakan nona Rima. Itu saja." Jawab Damar jujur.
Iris seketika memegangi dadanya. Ada rasa sakit yang mendadak muncul di sana.
"Jahat sekali kau Damar! Ku kira kau mengiyakannya karena kau menyukaiku,ternyata.."
Iris menggeleng-geleng dengan tatapan tak percayanya.
Damar mendengus. "Sudahlah nona. Tidak usah drama,saya tau kalau nona juga tidak menyukai saya. Saya tidak tau apa niat terselubung yang membuat nona mengikat saya seperti ini tapi bisa saya pastikan. Kita tidak akan menjadi seperti yang nona harapkan. Percaya saja."
__ADS_1
Damar mengakhiri kalimatnya sembari menggeser paksa tubuh Iris dan setelahnya ia membuka pintu lalu masuk ke dalam kamarnya.
Iris tak tinggal diam,sebelum Damar menutup kembali pintu. Ia sudah lebih dulu menyelinapkan tubuh kecilnya lewat ketiak Damar dan masuk ke dalam kamar Damar dengan raut penuh kemenangan.
"Hehe,terserah dengan apa yang kau pikirkan sekarang Damat. Yang jelas,mulai hari ini aku tekankan bahwa kita harus sekamar. Tidak ada penolakan."
Iris mendorong paksa tubuh Damar,mengunci pintu dan mengambil kuncinya lalu memasukkan kunci kamar tersebut ke dalam bra-nya lewat celah baju bagian atas.a
Setelah melakukan hal konyol tersebut,ia tertawa kencang sedangkan Damar hanya bisa melongo melihat kelakuan gila Iris.
"Astaga,kunci kamarku ternodai." Batin Damar miris.
Tak ada pilihan lain bagi Damar selain sekamar dengan Iris karena tak mungkin juga ia memaksa mengambil kunci tersebut dari Iris karena bisa bahaya jika hal itu ia lakukan.
Mau tak mau lah,Damar berjalan ke kasurnya dan dengan langkah gontai ia mengambil satu bantal guling dan satu bantal kepala lalu berniat pergi ke sofa kecil yang ada di kamar itu.
Iris segera menghentikan langkah Damar dan langsung merebut kedua bantal yang Damar pegang dengan gerakan memaksa.
"Jangan berpikir untuk kabur dariku Damar. Kembali ke kasur dan tidur di sana!!" Perintah Iris tegas.
"Tidak mau! Nona tidurlah di sana sendiri,saya akan tidur di sofa dengan ataupun tanpa bantal itu."
Iris geram mendengar penolakan Damar padanya.
"Tidur di kasur ku bilang! Kau jangan menguji kesabaran ku atau aku akan berteriak agar tetangga kompleks kira kau berbuat macam-macam padaku. Kau mau aku melakukan itu??"
"Tidak." Jawab Damar cepat.
"Tidak mau! Nona duluan saja,biar nanti saya tidur di lantai saja."
"Damar! Kau benar-benar ingin aku berteriak ya? Baiklah kalau begitu aku akan..."
"Sampai nona berani berteriak. Saya akan membuat nona tidak bisa melihat matahari lagi besok pagi!"
Iris tercekat seketika mendengar ancaman Damar. Gemetar-gemetar takut,ia memberanikan diri bertanya.
"Me..memangnya kau mau berbuat apa padaku? Jika aku berteriak?" Tanya Iris dengan raut takut.
Damar terkekeh kemudian berjalan mendekati Iris dan menarik pinggang Iris membuat tubuh keduanya merapat.
Perlahan namun pasti,Damar mendekati bibirnya ke wajah Iris dan berkata dengan nada lirih.
"Saya akan memutilasi nona." Kata Damar dengan nada berat.
Kedua mata Iris membulat. Sebelah tangannya terangkat untuk memukul dada Damar.
"Bukk.."
__ADS_1
"Cih..,yang benar saja Damar. Aku ini istrimu,bisa-bisanya kau memikirkan ide se-psikopat itu terhadapku. Kau pikir kau mafia hah?"
Bukannya takut,Iris malah mengomeli dan menantang Damar dengan raut wajah menyebalkannya.
Damar hanya bisa menghela napas dengan berat. Menakuti Iris memang tak ada gunanya,gadis ini punya pendirian yang lebih keras dari batu karang di Raja Ampat.
"Daripada kau mengancamku dengan ancaman palsumu itu. Baiknya sekarang kau berbaring di kasur."
"Aku berjanji,malam ini aku mengalah padamu. Biar aku yang tidur di sofa."
Sebuah kalimat yang sangat di luar dugaan Damar.
Saking di luar dugaannya,Damar hanya bisa menatap cengo sosok Iris yang sudah berjalan menjauhinya dan terlihat menata bantal di atas sofa.
Dengan canggung,Damar mencoba bertanya pada istrinya itu.
"Nona,anda serius akan tidur di sofa?"
Iris menghentikan kegiatannya menata bantal,kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Damar dengan senyum simpul.
"Ya. Tentu,seperti yang kau lihat. Aku sudah menata bantal di sini,itu artinya aku akan tidur di sini. Lagipula,kenapa kau bertanya? Apa kau berubah pikiran dan hendak memintaku tidur di kasur?"
Damar buru-buru menggeleng. "Haha,tidak sama sekali nona. Nona tidurlah di sana. Atau jika merasa tidak nyaman dengan sofanya,nona bisa tidur di kamar yang pintunya nona rusak kemarin malam. Di sana kasurnya lebih empuk bukan?"
"Ah,terimakasih Damar. Kau cukup perhatian ternyata. Tapi tidak perlu ku rasa. Aku lebih nyaman tidur di sini. Dan kau juga sebaiknya tidurlah. Tidak baik mengajak seorang gadis mengobrol di dalam kamar tanpa menawarinya hal lain. Rasanya kurang lengkap."
Ujar Iris dengan kerlingan jahilnya.
Damar melengos mendengar pembicaraan Iris yang mulai melenceng. Tanpa menjawab lagi Damar berbalik dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Ia teringat jika dirinya belum membersihkan badan setelah acara makan malam tadi.
Melihat Damar yang berjalan menuju kamar mandi. Iris bangun dari sofa dan melangkah keluar kamar. Ia baru ingat jika dirinya pun belum gosok gigi dan membersihkan badan.
Iris keluar kamar dan mengunci pintunya dari luar. Ia sengaja membawa kuncinya bersama dirinya agar Damar tidak bisa berbuat apa-apa di dalam sana.
♡♡♡
Lima belas menit berlalu,Iris sudah selesai dengan kegiatan membersihkan diri.
Ia masuk lagi ke dalam kamar dan mendapati lampu kamar sudah dimatikan dengan Damar yang jugs sudah berbaring terlentang di kasur dengan mata tertutup dan tubuh yang sudah di tutupi selimut sebatas perut.
Pelan-pelan Iris berjalan mendekati Damar dan..
"Hap..."
Gadis itu tanpa sopan santun menghempaskan tubuhnya ke atas tubuh Damar dan memeluk leher Damar dengan erat.
"Jangan mengusirku. Aku mau tidur di posisi sini. Titik."
__ADS_1
♡♡♡
Jangan lupa like vote komen..