Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Wanita Lain


__ADS_3

Tuhan melukis langit dengan indah, berwarna jingga beserta sorot mentari yang hampir tenggelam. Kicauan burung terbang bebas menuju laut lepas. Helaian rambutku terbang tertiup angin. Aku menunduk, melihat surat dari dokter.


Pengobatanku gagal, kanker hati sudah menyebar. Tinggal hitungan bulan tubuhku akan semakin lemah, lalu satu persatu tidak bisa berfungsi dengan baik. Hati yang semakin rusak menggerogoti hingga suatu hari aku tidak bisa membuka mata lagi.


"Bunda!"


Aku menoleh, putraku berlari membawa baling-baling bambu. Senyumnya merekah dan memelukku.


"Ahin sudah makan belum?" tanyaku mengusap kepalanya.


Bocah berusia 3,5 tahun itu mengangguk. Pipinya merah alami. Gen kakeknya begitu kuat, padahal kata orang, aku lebih mirip ibu dari pada ayah yang keturunan China.


"Ain dah maem,"


Aku menggandeng tangannya dan berjalan menuju rumah, tepat di tepian pantai. Sudah empat tahun aku tinggal di sini, bertiga. Aku, Ahin dan bude.


Sepanjang jalan Ahin bercerita banyak hal, tentang kerang yang dia temukan bersama teman-temannya juga permainan yang lain. Putraku tampak bahagia dan senang hidup sederhana di pedesaan seperti ini.


Padahal, ayahnya adalah seorang CEO PT NEXT Media Tbk. Perusahaan yang menghasilkan uang ratusan juta rupiah perhari. Produk Next media setiap saat bisa dijumpai, aku melihat ke parabola yang dipasang di atap rumah tetangga. Itu adalah salah satu produk ciptaan Wikra, mantan suamiku sekaligus ayah Ahin.


Aku ingat betul ketika dia yang dijuluki genius abad ini bekerja keras ikut dalam penelitian sampai pemasaran produk. Kerja kerasnya yang membuatku jatuh cinta sampai mau dijodohkan.


Empat tahun tidak bertemu, next media berkembang sangat pesat, sekarang tidak hanya memasarkan produk teknologi tetapi juga memiliki stasiun televisi.

__ADS_1


Benar kata Wikra, pernikahan kami hanya penghambat karirnya. Sekarang dia jauh lebih sukses tanpa bisa aku gapai dengan angan lagi. Pantas saja dia membuangku begitu saja.


Andai bisa mengulang waktu, aku tetap memilih hal yang sama. Yakni mencintai Wikra dan pernah berada di sisinya.


Awalnya aku pikir jika berlaku baik dan tulus, maka Wikramawardhana akan jatuh cinta. Pria arogan yang menganggap semua hal bisa dia dapatkan dengan bekerja keras. Aku mencoba menjalankan kalimatnya itu ketika mendengarnya di seminar.


Mencintai Wikra, menjalankan tugas sebagai istri, berlaku menyenangkan dan membuatnya terus tersenyum. Namun, cinta di hatinya tak kunjung hadir hingga dia membawa wanita lain ke rumah.


"Aku sudah menikahi Yumna secara siri," kata Wikra sembari menggandeng wanita bertubuh seksi.


"Seharusnya kamu bilang ke aku dulu."


Kalau mau poligami seharusnya bicara dulu baik-baik, bagaimanapun juga aku istri sahnya.


Sorot matanya penuh cinta terhadap Yumna, mencium pucuk kepala wanita itu di hadapanku. Seperti orang bodoh, aku hanya melihat tanpa bertindak apapun suamiku diambil wanita lain.


"Kalau seumpama aku hamil, apa kamu akan berubah pikiran?" tanyaku lembut.


"Nggak, biar anak itu diurus kami dan kau pergilah. Jangan mempersulit keadaan, kamu tahu 'kan kalau pernikahan kita adalah kesalahan?"


Aku membasahi bibir, berulang kali Wikra bilang menolak perjodohan. Dia mencintai wanita lain. Aku menghalangi karir dan kisah cintanya. Namun, dengan percaya diri bahwa Wikra bisa mencintaiku asal aku kerja keras. Aku menerima perjodohan, membuatnya terikat dan membenciku.


Bayi ini tidak bersalah, baru dua hari lalu aku mengetahui bahwa aku hamil. Berharap cinta Wikra akan hadir ketika mengetahuinya. Tetapi ternyata hanya anak ini yang diterima dan aku tetap dibuang.

__ADS_1


Aku hanyalah anak yatim-piatu, orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Ibu Wikra yang membiayai sekolahku sebagai sahabatnya Mama.


"Baiklah, aku tanda tangan. Selamat atas pernikahan kalian," kataku. Menerima secarik kertas yang diulurkan Yumna.


"Seharusnya kamu nggak pernah nerima perjodohan dengan Wikra." Yumna tersenyum kemenangan.


Aku membalas senyumannya dengan senyum juga. "Aku nggak pernah nyesel nikah sama Wikra."


Karena aku mencintainya, walaupun hanya tinggal bersama 7 bulan, aku merasa senang. Apalagi sebentar lagi memiliki anak yang mirip Wikra. Itu sudah lebih dari cukup untuk ku yang dari dulu tidak pernah bahagia.


Meskipun sebentar, aku merasakan kebahagiaan bersama pria yang aku cintai, juga keluarga yang memperlakukanku dengan hangat. Aku tidak menyesal.


"Besok kemasi barangmu, malam ini Yumna akan tinggal di kamar utama bersamaku," perintah Wikra.


Mereka mengambil kertas yang sudah aku tanda tangani, melewatiku tanpa permisi menuju lantai atas. Semua pelayan berbisik dan menghindariku.


Mataku masih melihat ke pintu masuk yang terbuka lebar, mobil sport Lamborghini milik Wikra belum dipindahkan dari sana. Salah satu dari 12 mobil yang terparkir di garasi. Mobil itu kesayangannya Wikra.


Hanya digunakan untuk orang penting. Aku saja belum pernah menaikinya, tetapi Yumna diajak jalan-jalan memakai mobil itu.


"Nyonya, mari saya antar ke kamar tamu."


Aku berbalik, melihat Neli yang matanya berkaca-kaca. Hanya dia pelayan yang berani memihak nyonya yang sudah dibuang. Aku mengangguk sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2