
Pasangan yang penuh cinta mengharapkan kebahagiaan lewat pernikahan, bersama selamanya sampai kakek nenek baik suka maupun duka.
Senyum Wikra membuat jantungku berdebar, dia menatapku dengan kagum. Itu adalah hal yang tidak pernah ia lakukan di pernikahan pertama kami.
"Kamu cantik," pujinya. Terlihat sangat tulus.
Aku hanya tersenyum dan duduk di sampingnya, penghulu mulai membuka acara, menanyai apakah pernikahan kami dilakukan secara suka rela, lalu apakah kami siap berbagi kehidupan dan saling bertanggung jawab?
Wikra menjawab dengan mantap, dia tampak bahagia. Berkali-kali tersenyum ke arahku. Seolah menikah karena cinta. Ijab kabul yang dia ucapkan atas namaku untuk kedua kalinya terdengar lantang.
Setelah sah dan bedoa, penghulu meminta kami berdiri saling berhadapan, Wikra memberikan mahar berupa perhiasan.
"Istriku, aku memberikan mahar berupa perhiasan untukmu." Wikra mengulangi kalimat yang dipandu penghulu.
"Suamiku, aku menerima mahar darimu."
Lalu aku mencium tangannya, getaran aneh itu muncul lagi. Sama seperti 4 tahun lalu ketika perasaan cinta membara. Mata kami bertatapan, Wikra tersenyum.
"Aku mencintaimu," katanya.
Tubuhku membeku, kalimat yang dulu ingin sekali aku dengar hingga menyerahkan segalanya.
"Bukankah tugas pertama yang kau berikan padaku adalah mengucapkan cinta setiap hari di hadapan Ahin?" Bisiknya.
Ah, aku baru ingat. Itu adalah perjanjian pernikahan kami. Kenapa aku bisa lupa hingga jantungku bergetar?
Rupanya aku masih berharap mendengar dia mengucapkan cinta walaupun itu sebuah kebohongan, aku sungguh bodoh. Hal yang sangat aku inginkan dahulu.
"Aku juga mencintaimu," jawabku.
Itu bukan kebohongan, aku mengungkapkannya dengan yakin. Perasaanku masih sama, yakni mencintainya dengan setulus hati.
__ADS_1
Anehnya, aku merasa lega karena tidak menahan perasaanku lagi. Sekarang aku mengakui bahwa masih berharap bisa bersama Wikra.
Bibirku tersenyum padanya. Mungkin, ini adalah hadiah dari Tuhan sebelum kematianku. Yakni bersama pria yang aku cintai dan pernikahan yang aku impikan.
Semua orang menyalami kami, Ahin datang ke arahku. Ia akan mengingat hari ini dengan senyum. Orang tuanya saling mengungkapkan cinta di hari pernikahan.
Sekarang, Ahin memiliki keluarga lengkap. Saat nanti dia di sekolah dan menceritakan tentang orang tuanya, Ahin akan percaya diri karena memiliki cerita tentang Ayah dan ibunya. Betapa bahagianya itu.
"Selamat ya, semoga kali ini langgeng dan Wikra nggak aneh-aneh lagi." Tante Zara memeluk kami.
"Aku udah tobat, Ma. Sekarang udah dewasa." Wikra tampak serius dengan ucapannya. Dia pintar akting.
"Makasih, Ma." Aku memeluk Tante Zara lebih lama.
Ucapan selamat berdatangan, termasuk dari Ezhar yang wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan. Ia masih saja khawatir.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Fei." Katanya ketika memelukku.
Dia beralih ke Wikra, menatapnya tajam. "Kalau kamu sakiti Yifei lagi, aku akan membunuhmu."
"Kamu nggak perlu khawatir," jawab Wikra santai.
Foto keluarga memakai seragam tampak sangat bahagia, Ahin senang dan gembira. Ada musik mengalun merdu dan tamu berdatangan. Tidak banyak seperti permintaanku, tetapi cukup membuat lelah.
"Malam ini Mama akan tidurkan Ahin, biar kalian ada waktu berduaan." Bisik Tante Zara.
"Mama yang terbaik." Wikra terlihat sangat senang.
Tamu mulai sepi, tidak ada pesta bujang atau gadis. Kami hanya menggelar acara terbatas. Kerabat jauh mulai masuk ke kamar yang sudah disediakan di hotel ini.
Kami memakai kamar paling atas, honeymoon dengan taburan bunga di ranjangnya. Paling besar dan mewah. Kakiku memasuki kamar itu dengan memakai gaun pengantin.
__ADS_1
"Fei," kata Wikra lirih.
Aku menoleh, melihat gelagatnya yang aneh. Ia terlihat canggung seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Apa?"
Aku merasa perutku tiba-tiba sakit, sepertinya kambuh, kepalaku berdenyut nyeri. Pasti karena kelelahan, aku juga belum minum obat setelah makan malam.
"Di pernjanjian nggak disebutkan kalau nggak boleh melakukan hubungan suami istri, aku nggak bakal melakukannya tanpa izinmu. Tapi kan aku nggak boleh jajan di luar, kayaknya emang lebih baik kalau kita----"
"Aku mau ke kamar mandi," kataku memotong ucapannya. Mengambil tas dan buru-buru masuk.
Aku tahu yang diinginkan Wikra, hubungan malam pertama, sesuatu yang tidak dia minta dahulu. Bukannya tidak mau memberikan, hanya saja sekarang penyakitku kambuh.
Darah mengalir dari hidungku menodai gaun putih, aku mengambil tissue dan berusaha menghentikan pendarahan, buru-buru mengambil obat di tas. Memakannya tanpa air.
Aku duduk di lantai karena perutku sangat sakit, juga masih berusaha menyumbat mimisan. Air mataku jatuh.
Empat tahun lalu, di malam pertama kami. Wikra pergi, membuatku menunggu sendirian di kamar yang ditaburi bunga.
"Fei, kalau nggak mau nggak papa. Aku nggak maksa. Keluarlah, aku bakal tidur di sofa."
Wikra salah paham, aku takut keluar karena tidak mau dia melihat keadaanku sekarang. Apa yang akan dia pikirkan kalau tahu penyakitku? Pasti dia akan marah karena menikah kembali dengan wanita penyakitan.
Sungguh, aku takut kebahagiaan ini sirna. Meskipun penuh kebohongan dan sebentar. Aku ingin menjadi istrinya lagi yang setiap hari diucapkan kalimat cinta dan senyuman.
......
bersambung
Bantu promo gaes biar aku gk nangis-nangis amat liat viewsnya yg seuprit
__ADS_1