
Aku dan Ezhar sudah bersahabat sejak lama, sebenarnya kami tidak hanya berdua, tetapi bertiga. Satu lagi sahabat kami sekarang tinggal di Paris.
Aku tahu Ezhar memiliki pacar walaupun tidak saling mencintai, Tania seorang artis papan atas. Kata Ezhar, pacaran seperti itu di dunia entertainment sudah biasa, dari dulu Ezhar juga sering gonta-ganti pacar demi kariernya. Aku tidak tahu apakah salah satu dari mereka ada yang benar-benar Ezhar sukai.
Tapi yang aku tahu, ia sangat menyukai pekerjaannya yang diimpikan sejak dulu.
Namun, sekarang apa yang barusan dia katakan? Menikahiku, seorang janda satu anak yang sebentar lagi mati? Dia pasti tidak waras.
"Ez, aku anggap nggak pernah denger omonganmu barusan."
Aku menunduk, mengambil kain yang jatuh. Ezhar menarik bahuku, membuat mata kami bertatapan. Dari sana aku melihat tatapannya bukan cinta melainkan iba.
Cengkraman di lenganku kuat hingga tidak bisa bergerak. Aku tidak tersenyum bahagia setelah dia melamarku seperti ini. Malah kesal.
"Aku serius akan menikahimu," ucapnya.
Aku tahu sorot mata itu menunjukkan bahwa tidak bercanda, dia takut aku tersakiti lagi jika menikah dengan Wikra. Beberapa hari ini dia terus membujuk supaya aku berubah pikiran.
Dari dulu dia membantuku, dan sepertinya hari ini dia ingin merelakan kariernya karena mau membantuku juga, hanya saja bukan ini bantuan yang aku inginkan. Sungguh, aku tidak butuh.
"Keputusanku buat nikah lagi sama Mas Wikra udah bulat, tolong hargai keputusan ini."
"Aku nggak mau kamu disakiti lagi sama Wikra," katanya.
"Mas Wikra nggak bakal bisa nyakitin aku lagi, aku bukan Yifei yang dulu. Aku bakal ngubah Mas Wikra jadi ayah yang baik buat Ahin."
Aku mundur, membuat tangannya terlepas dari bahuku. Matanya sendu, terlihat kecewa. Tidak boleh ada pembahasan seperti ini lagi atau aku bisa marah padanya.
"Gimana kalau seumpama Wikra tetap nggak berubah?" tanya Ezhar.
Manusia memang tidak gampang berubah, apalagi Wikra, dari dulu sifatnya seperti itu. Sudah berlalu 4 tahun pun, dia masih dingin.
"Kamu nggak perlu khawatir, ada Om Yuda sama Tante Zara yang bakal ngerawat Ahin."
"Bukan Ahin, tapi kamu! Dia bakal nyatikin hatimu lagi! Bukankah kamu masih mencintainya?!"
Aku tersentak, dia menebak perasaanku yang tidak bisa disembunyikan.
Kalau ditanya apakah aku masih mencintai Wikra, jawabannya adalah masih. Hanya saja berada dalam tingkatan yang berbeda.
__ADS_1
Dulu hatiku tersakiti karena mengharapkan cinta Wikra, sekarang aku tidak lagi mengharapkan cintanya.
Dia sudah membunuh harapan di hatiku ketika mengatakan tidak mencintaiku dan tidak akan pernah mencintaiku. Saat itu aku tahu bahwa harus berhenti berharap.
"Empat tahun lalu hatiku udah mati, sekarang aku nggak berharap apapun lagi sama dia."
Mendengar jawabanku, Ezhar mendesah berat, mungkin sadar bahwa keputusanku menikah kembali tidak bisa diganggu gugat.
"Baiklah, tapi Fei, kalau dia menyakitimu lagi, kali ini sungguh aku akan memberikan pelajaran padanya."
Ezhar tampak sangat cemas, aku paham apa yang dia pikirkan. Aku hanya bisa memberi senyum pertanda bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kamu nggak perlu khawatir," jawabku.
Aku memberikan kain untuk Ezhar, dia akan datang memakai seragam keluarga. Hal yang aku sesali di pernikahan sebelumnya adalah Ezhar datang hanya sebagai tamu undangan.
Dialah keluargaku, selalu ada di sampingku sebagai bagian terpenting. Mendampingiku layaknya kakak laki-laki. Menjagaku layaknya keluarga. Sungguh, aku bersyukur mengenalnya.
Hingga, hari pernikahan tiba. Aku memakai gaun pengantin yang sangat cantik. Dihias sedemikian rupa hingga Ahin pangling melihat ibunya.
Dia tidak protes kenapa aku menikah dengan Wikra bukan Ezhar, aku rasa dia paham ayahnya siapa walaupun tidak mau mengakuinya.
"Bunda antik," puji Ahin sembari menggelayut di sampingku.
"Anak Bunda juga ganteng banget," kataku.
"Alau udah nikah, bunda gak cakit agi?"
Aku tersentak mendengar pertanyaannya, Ahin tahu aku sakit? Sejak kapan? Padahal aku menyembunyikan serapat mungkin darinya.
"Bunda nggak sakit," kataku berbohong.
"Celakang gak akit?"
Dia mendongak ke wajahku yang sudah dirias, bola matanya bulat bening berwarna hitam kecoklatan. Menanti jawabanku dengan penuh harap.
"Bunda baik-baik saja, kan ada Ahin."
Dia terdiam, terlihat sedang berpikir. Lalu tersenyum dan memelukku.
__ADS_1
"Bunda dah cembuh," katanya.
Bagaimana bisa aku menjelaskan ke Ahin bahwa usiaku tidak lama lagi, aku menikah lagi dengan ayahnya bukan untuk sembuh, melainkan untuk mempersiapkan kematianku.
Supaya ada yang merawat Ahin ketika aku tiada, bagaimana bisa aku mengatakan itu semua padanya? Aku takut dia terluka, tapi cepat atau lambat Ahin pasti tahu saat penyakitku semakin parah.
Dia akan kehilangan ketika tidak ada lagi ibu yang merawatnya, dia akan mencari ku saat tidak bisa tidur. Ya Tuhan, aku tidak sanggup meninggalkan Ahin.
"Fei, penghulunya udah datang." Panggil Tante Zara dari pintu.
Aku menghapus air di sudut mataku.
"Iya, Tante."
"Kamu ini masih aja panggil Tante, coba biasain panggil Mama."
"Udah kebiasaan manggilnya gitu, jadi susah."
"Mulai sekarang harus dibiasain," katanya.
"Iya, aku coba."
"Ahin ikut Oma yuk, Bunda mau nikah saya Ayah."
Ahin turun dari pangkuanku, berlari ke arah neneknya. Aku dibantu perias manten berjalan ke area pernikahan.
Untuk kedua kalinya aku melihat Wikra memakai baju pengantin, dia masih tetap tampan dan gagah seperti 4 tahun lalu. Kali ini dia tersenyum, tidak masam seperti dulu.
Kebalikannya, sekarang aku malah tidak bisa tersenyum. Memikirkan suatu hari nanti Wikra akan menjadi duda lagi dan merawat anak kami tanpaku.
.
.
.
.
bersambung
__ADS_1
temen-temen bisa baca side story dr semua novelku di telegram, ketik aja nama channel telegramku Dimensi Halu di pencarian, klik yg ada profilku, trus gabung. gratis dan tanpa syarat apapun.
Jangan lupa pencet like, komen dan lempar bunga ya ❤️😘