
Wikra bisa tahu betapa Yifei merasa tidak diinginkan, perkataannya seperti orang yang sangat tersakiti. Padahal ia tidak berniat menyakiti Yifei lagi. Apalagi membunuh Ahin. Sejahat-jahatnya dia tidak mungkin berniat mencekai anaknya sendiri.
Tangisan Yifei membuat Wikra sadar betapa berartinya Ahin, ia juga merasa sangat kehilangan. Hatinya sakit, ingin memutar waktu dan menyelamatkan putranya.
Pantas saja dulu Yifei pergi ketika hamil, Yifei tidak akan menyerahkan anak pada orang bodoh sepertinya.
"Maaf, maafkan aku." Wikra mendekap Yifei yang terus memukul dadanya.
"Kembalikan Ahin, aku mohon. Hanya dia alasanku hidup."
Yifei masih menangis dalam pelukan Wikra, memukul dada terus menerus. Hingga wanita itu jatuh pingsan.
"Fei! Yifei! Bangun!" Wikra mengangkat tubuh lemas tak berdaya itu ke mobil ambulan, di sana Yifei diberikan pertolongan pertama.
Wikra keluar dari ambulans, dia merasa hancur dan bingung. Kejadian ini menjadi guncangan hebat untuknya. Baru sekarang dia tidak peduli ketika orang-orang berteriak barang yang sudah dirangkai ikut terbakar.
Apa gunanya menyelamatkan barang jika anaknya sendiri terbakar di dalam sana. Ahin tidak akan pernah memaafkan ayah bodoh sepertinya, membayangkan Ahin ketakutan di dalam kobaran api sungguh mengerikan.
Anak kecil yang suka mainan kucing itu pasti menangis ketakutan mencari ibunya, mempertanyakan kepada ayahnya kenapa malah menyelamatkan barang dan bukan dia.
Wikra menangis, untuk pertama kalinya dia merasakan betapa tidak berguna hidup. Ia telah melakukan kesalahan paling fatal. Semua orang pantas membencinya.
"Aku mohon Tuhan, beri kesempatan memperbaiki kesalahanku."
Wikra menunduk, memegang lututnya karena lemas hingga tidak bisa berdiri tegak. Ia meminta keajaiban untuk mengembalikan Ahin. Air matanya menetes jatuh ke tanah.
Dia jarang mengingat Tuhan, kalau pun ingat dia tidak menjalankan perintahnya. Kali ini, dia merasa tidak berdaya hingga berharap Tuhan mau berbelas kasih.
Wikra janji akan berubah, ia akan menjadi orang baik dan menyayangi anak istrinya. Wikra memohon dengan sangat hingga air matanya terus menetes.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia mengeceknya, dari Mama. Apa yang harus dia katakan, pasti Mama akan membencinya kalau tahu apa yang terjadi terhadap Ahin.
"Ma... maaf." Wikra menunduk, siap dibenci.
"Kamu ini gimana sih, masak biarin Ahin pulang sendirian?!"
Mendengar itu wajah Wikra langsung lurus kedepan, dia sangat terkejut hingga kehilangan kata-kata.
"Gimana kalau terjadi sesuatu sama Ahin, kamu ini dikasih kepercayaan buat jaga Ahin kok malah kayak gini?!"
__ADS_1
"Ahin... di rumah?"
"Iyalah, dia pulang sendirian naik taksi. Kamu ini gimana sih jadi ayah. Kok biarin anak kecil naik taksi sendiri."
Wikra menangis, dia tidak lagi mendengarkan suara di telepon. Kakinya sungguh lemas hingga dia hampir jatuh jika tidak memegang lututnya.
Ahin selamat, Tuhan mengabulkan doanya. Dia diberikan kesempatan lagi. Wikra segera mematikan telepon tanpa peduli Mamanya masih bicara. Ia menghapus air mata. Berbalik ke mobil ambulan.
Yifei baru saja sadar, Wikra segera memeluknya.
"Ahin selamat, dia sekarang di rumah. Ayo pulang," kata Wikra setelah melepas pelukannya.
"Ahin...."
Wikra mengangguk. "Ahin baik-baik saja."
Yifei segera turun, dia ditarik Wikra menuju mobil. Tanpa supir Wikra menyetir mobil sendiri. Meninggalkan kebakaran yang masih menyala-nyala. Sekarang Wikra tidak peduli berapa kerugian perusahaan.
Asal anaknya selamat maka dia tidak peduli apapun.
Mobil dikendarai dengan kecepatan tinggi langsung menuju rumah. Yifei pegangan erat tanpa protes dengan kecepatan mobil. Mereka sama-sama tidak sabar bertemu Ahin.
"Bunda ...."
Ahin keluar setelah mendengar teriakan, bocah itu memegang plastik, menunjukkan ke Yifei dengan bibir tersenyum.
"Ahin!" Yifei berlari memeluk putranya dengan erat, wanita itu menangis kencang. Takut kehilangan lagi.
Wikra ikut berlutut, dia tak kuasa menahan kelegaan hati hingga air matanya menetes.
"Ain eli maltabak." Bocah itu menunjukkan plastik berisi martabak.
"Ahin, maafkan ayah." Wikra memeluk Ahin setelah Yifei melepaskan pelukannya.
Mereka sungguh lega Ahin baik-baik saja, tidak ada yang lebih berharga dari pada seorang anak. Sekarang Wikra paham perasaan menjadi seorang ayah.
Betapa sakitnya kehilangan anak, betapa bahagianya melihat anak baik-baik saja dan ia kini menganggap anak lebih berharga dari apapun.
"Ahin ke mana aja, kenapa buat khawatir?" tanya Yifei, dia menghapus air matanya.
__ADS_1
Wikra melepas pelukannya terhadap Ahin. Dia juga ingin bertanya hal yang sama.
"Ain eli maltabak 20 libu, telus ulang aik takci."
"Ahin pulang sendirian?" tanya Wikra.
Kepala bocah itu mengangguk dengan polos.
"Ahin tahu alamat rumah?" tanya Wikra lagi.
Lagi-lagi Ahin mengangguk.
"Aku yang mengajarinya untuk mengingat alamat rumah dan nomor telepon." Yifei menanggapi.
"Ahin sangat cerdas, maafkan ayah karena melepas tanganmu saat kebakaran tadi."
"Ain gak au unggu Wikla, Ain pulang."
Yifei tersenyum mendengarnya, dia memeluk Ahin lagi.
"Lain kali tunggu di tempat yang aman, jangan pulang sendirian dan buat Bunda khawatir."
"Maaf Bunda."
"Terima kasih karena kamu baik-baik saja," ucap Wikra mencium kepala Ahin.
Mama melihat keluarga kecil itu dari kejauhan, beliau tersenyum melihat Wikra yang sadar dengan posisinya sebagai seorang ayah.
.
.
.
.
bersambung
temen-temen bisa dpt mini cerpen cerita ini (side story yg gk aku up di sini) di channel telegramku. Cari aja di pencarian telegram ketik Dimensi Halu. trus pilih yang ada profilku. lalu klik bergabung. Bebas biaya dan gk ada syarat apapun buat ikutan baca.
__ADS_1