
Aku tidak ingin terus berpikir tentang kematian. Tapi semangatku habis terkikis ketika dokter mengatakan usiaku tidak lama lagi. Aku sudah mencari cara hingga berobat ke luar negeri.
Sayangnya semua itu percuma jika tidak bisa menemukan pendonor, andai kesehatan bisa dibeli dengan uang, aku pasti sudah membelinya.
"Maaf, sampai sekarang belum ada yang bisa menjadi pendonor."
"Anda harus mencarinya dari keluarga anda."
"Bisa kerabat atau orang tua."
"Anda harus memiliki saudara."
"Golongan darah anda sangat langka."
Dari semua saran dokter, aku tidak memiliki satupun. Lucu sekali karena orang tuaku sudah meninggal. Aku anak tunggal. Tidak memiliki kerabat.
"Dokter bukan Tuhan, kamu nggak usah percaya." Bude menyemangatiku ketika pertama kali divonis dokter.
Awalnya aku stres, setiap waktu menangis menyalahkan Tuhan hingga membuat Ahin bingung. Namun, perlahan aku bisa menerima keadaan.
Tuhan menyayangiku dengan memberikan peringatan sebelum kematian, memberiku waktu untuk berkemas dan menyiapkan segalanya. Supaya aku lebih menghargai waktu dan menyadari banyak hal.
Sekarang, aku menerima keadaan. Mataku juga jadi lebih terbuka tentang Wikra. Kupikir aku sudah sangat mengenal pria itu, ternyata tidak.
Dia pria yang perhatian dan hangat, sebenarnya dari dulu dia seperti itu tapi aku terlalu takut untuk mendekatinya. Hubungan kami di masa lalu penuh dengan kesalahpahaman.
"Fei, ini obat apa?" tanya Wikra ketika menemukan obat di tas.
Kami berkemas menuju Paris, aku tidak ingin merusak acara keluarga ini. Kalau Wikra tahu aku punya penyakit, dia pasti akan membatalkan liburan kami.
"Cuma vitamin, soalnya kepalaku gampang sakit."
"Beneran?"
"Bener," jawabku. Berbohong. Kami pun kembali berkemas.
Setelah pulang dari Paris aku akan memberitahu Wikra yang sebenarnya. Ahin aku ganti pakaiannya, barangnya selesai dikemas. Dia masih ngambek karena tidak bisa membawa Miao.
"Miao ikut, Ma." Rengeknya untuk kesekian kali.
__ADS_1
"Nggak bisa, Miao tinggal di rumah aja. Ada Mbak Neli yang bakal ngasih makan Miao. Ahin nggak perlu khawatir."
Bocah itu tampak ingin menangis, matanya berkaca-kaca. Dia berjalan ke ranjang. Menenggelamkan wajahnya di pinggirannya. Kakinya terus bergerak. Itu adalah kebiasaannya kalau ngambek.
"Gimana dia ngambek?" tanya Wikra khawatir.
"Biarin aja nggak papa, nanti juga baikan." Aku menjawab dengan santai.
Kami selesai berkemas dan dibantu pelayan membawa ke bawah, hanya tiga koper untuk kita bertiga.
Aku tidak ingin tergesa-gesa, fokusku sekarang adalah menikmati setiap detik yang Tuhan berikan. Menyayangi Ahin dan terus bersama Wikra.
Aku menurunkan kaca mobil, menikmati angin yang menerpa wajah. Terasa dingin hingga meresap ke kulit. Di akhir hidupku bersama anak dan pria yang aku cinta. Ini adalah kenikmatan yang luar biasa.
Dua bulan pernikahan yang aku impikan, Wikra berubah, Ahin menerima Wikra dan kami menjadi keluarga harmonis.
Saat itu aku terlalu fokus melihat pemandangan sampai tidak sadar bahwa Wikra mengambil sempel obatku. Dia tidak percaya ketika aku mengatakan bahwa itu hanya vitamin.
Penerbangan ke Paris memakan waktu sekitar 17 jam, waktu yang sangat lama untuk Ahin. Anak itu rewel hingga minta cepat turun dari pesawat.
"Mau Papa ceritain masa kecil Papa nggak?" tanya Wikra.
"Gak." Ahin masih ngambek.
"Teliak?"
Ahin mulai tertarik, dia mendengarkan cerita Wikra.
"Papa akan teriak gini 'pesawat! Aku minta uang."
"Minta uang?"
"Iya minta uang."
"Pesawat asih?"
"Nggak, ngapain pesawat ngasih uang. Kalau mau dapet uang ya kerja."
Aku tertawa mendengar cerita mereka, Wikra sudah tahu cara menenangkan Ahin. Mereka terus bercerita hingga bisa membuatku fokus ke majalah.
__ADS_1
Dua hari lagi tahun baru, kami akan melihat kembang api di menara Eiffel. Itulah tujuan liburan. Membuat kenangan sebanyak mungkin sebagai keluarga.
Kami sampai di bandara Charles de Gaulle pukul dua dini hari, Ahin sudah tidur hingga harus Wikra gendong sementara aku membawa koper dengan rolling.
"Berat nggak?" tanya Wikra. Melihatku kesulitan mendorong rolling yang berisi tas bawaan.
Ia membantu mendorong dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya menggendong Ahin. Tubuhnya yang tinggi besar tidak kesulitan sama sekali. Berbeda denganku yang pendek dan kurus.
"Nggak papa, kok. Apa kita jalan masih jauh?"
Dari tadi kami memutari bandara yang sangat luas ini.
"Nggak, di depan ada imigrasi habis itu ngambil koper dan kita bisa keluar pesan taksi."
Ini pertama kalinya aku ke Paris, udara di sini mulai terasa dingin. Setelah melewati imigrasi dan mengambil koper, Wikra minta istirahat sebentar untuk memakai palto dan mantel untuk Ahin.
Bocah itu menguap, matanya terlihat lengket. Dia tidak membuka mata meskipun kami sibuk memakaikan mantel di tubuh kecilnya. Di sini sedang musim dingin, salju turun dan mengenai mantelku ketika kami hendak naik taksi.
Kota Paris tampak indah, kami menuju hotel yang dekat dengan menara Eiffel. Saat pertama kali melihatnya aku tersenyum.
"Apa ini pertama kalinya kamu ke Paris?" tanya Wikra.
"Iya, ini pertama kalinya."
Dan mungkin yang terakhir. Aku benar-benar tidak perlu menyesali hidupku karena pernah merasakan hal-hal indah. Tidak pernah menyangka sama sekali akan liburan bersama Wikra dan Ahin.
"Aku akan ajak kamu jalan-jalan sampai puas," kata Wikra lagi.
Aku mengangguk sembari tersenyum, senang sekali hingga rasa kantuk hilang. Kami tiba di hotel pukul empat pagi. Aku langsung istirahat setelah shalat subuh. Tidak peduli dengan barang-barang berserakan.
Saat itu, Wikra tidak tidur. Aku pikir dia memang hobi begadang. Rupaya ia sedang menghubungi dokter kenalannya untuk menyelidiki tentang obatku. Obat yang akan menjadi pertengkaran kami.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung
gaes jangan lupa lempar bunga yahh