Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Bangkit


__ADS_3

Jemari Ahin sangat kecil untuk memainkan mouse, dia masih mempelajari apa yang dikatakan Papanya, wajah imut itu tampak serius dengan pipi tembem.


Berbeda dengan Ila yang sedih karena kehilangan rumah mewah dan mobil, juga tidak ada lagi jalan-jalan ke luar negeri atau tempat bagus. Ahin tampak biasa saja.


Anak itu sudah terlatih hidup sederhana dari kecil, dilahirkan di pinggiran laut membuatnya tidak shock jika harus kembali ke tempat semula.


"Sekarang udah waktunya Ahin tidur," ucap Wikra.


"Bentar, Pa."


"Nggak boleh, nanti Mama marah."


Wikra langsung menggendong Ahin menjauh dari komputer, membuat anak itu cemberut melihat komputernya yang masih menyala. Kemarin Yifei marah-marah karena Ahin tidak belajar dan malah main komputer.


"Tuh liat Dek Ila sudah tidur, cepat tidur samping Dek Ila."


Wikra menurunkan Ahin di dalam kamar, di dalam rumah itu hanya ada dua kamar utama. Dulu ditempati orang tua Yifei dan Yifei. Kamar pembantu ada di belakang itu pun tak kalah sempit. Sebenarnya Wikra ingin menambah kamar tapi uangnya belum cukup.


Wikra dan Yifei pernah menanyai Neli, kalau seumpama ingin mencari majikan baru tidak masalah. Karena mereka hanya bisa membayar seadanya, tidak seperti saat mereka masih kaya raya.


Neli berkata bahwa ingin mengikuti mereka apapun yang terjadi, sejak putus sekolah, ia hanya punya Wikra dan Yifei. Tidak mau mencari majikan lain. Katanya uang bukan segalanya karena dia sudah menganggap mereka keluarga.


"Selamat tidur, Ahin." Wikra mengusap kepala Ahin sebelum menutup pintu.


Saat Wikra berbalik ia terkejut dengan keberadaan Yifei, perempuan yang rambutnya sudah tumbuh itu tersenyum.


"Mau aku buatin teh?" tanya Yifei.


"Boleh," jawab Wikra.


Wikra melihat punggung Yifei menjauh, badannya terasa pegal. Ia mengikuti Yifei ke dapur. Sudah pukul setengah sepuluh malam. Beberapa hari ini ia jarang tidur.


Ia memerhatikan Yifei membuat teh, memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Saat ini Wikra butuh dikuatkan.


Tradingnya belum menemui titik pasar yang sesuai, harga saham global tidak stabil membuatnya kesulitan. Apalagi ini baru pertama dijalani. Ia takut salah menempatkan uangnya.


"Kalau aku gagal gimana?" tanya Wikra lirih. Ia takut.


"Gagal coba lagi," jawab Yifei.


"Seharusnya aku bisa memberikan yang terbaik untukmu, maaf karena kamu harus ikut susah kayak gini."


"Jangan lihat ke atas terus, coba Mas lihat ke bawah juga. Emang dibanding hidup kita yang dulu, sekarang jauh berbeda, tapi di bawah kita masih banyak yang jauh lebih susah.


"Kita masih bisa makan, punya kendaraan dan rumah. Banyak orang di luar sana yang kelaparan dan nggak punya tempat berteduh. Kalau gagal coba lagi, nggak ada kesuksesan yang dibayar murah."


Mendengar nasihat itu membuat Wikra semakin mempererat pelukannya. Di titik rendah, ia dikuatkan oleh orang yang paling dicintai.


"Makasih karena kamu hadir di hidupku lagi."


Pernikahan kedua membuat matanya terbuka lebar, ia akan berusaha yang terbaik supaya bisa membahagiakan orang-orang yang disayangi.


Mobil mereka kini hanya satu, keadaan Yifei membaik dan tidak membutuhkan baby sitter lagi. Tidak ada supir dan Wikra yang mengantar anak-anak sekolah, mereka pindah ke sekolah yang tak jauh dari rumah.

__ADS_1


Tidak lagi di sekolah elite. Kata kepala sekolah TK, Ahin bisa masuk SD lebih cepat dari anak seusianya. Tapi Yifei menolak karena takut Ahin tertekan meskipun cerdas.


"Anak kita genius, kata gurunya aja dia udah bisa masuk SD walaupun usianya baru 5 tahun." Wikra sangat senang setelah pulang dari TK Ahin.


"Nggak boleh, minimal Ahin masuk SD umur 6 tahun. Nanti dia kesulitan dapat teman, nggak semua hal tentang pelajaran, tapi kehidupan sosial juga penting. Ahin harus tinggal setahun lagi di TK dan masuk SD tahun depan bareng Ila."


Ila tampak senang mendengar keputusan Mamanya, selama ini ia takut ditinggal Ahin di TK.


"Kak Ahin sama Ila ya?"


"Nggak mau, aku kan pinter."


"Benar, Ahin genius. Kita harus maksimalkan bakat dia." Wikra sangat bangga terhadap Ahin.


Sekali lagi Yifei menggeleng. "Ahin emang pinter, tapi Ahin nggak punya temen. Coba liat Ila, dia pernah bawa temen pulang, tapi Ahin setelah pulang sekolah masuk ruang kerja Papanya. Mama jadi sedih liatnya."


"Aku punya temen, Ma!" Ahin protes.


"Mana? Tunjukin ke Mama."


Ahin diam, dia sedih karena tidak bisa membantah.


"Satu tahun lagi Ahin di TK, itu keputusan mutlak!" Yifei membuat keputusan.


"Ma!"


Yifei meninggalkan Ahin menuju dapur, hendak membuat makan malam. Wikra mengikuti dan berharap Yifei berubah pikiran. Ia berbicara tentang Ahin yang menjadi profesor dan ilmuwan.


Namun, Yifei bergeming. Ia bersikeras ingin Ahin tumbuh normal seperti anak seusianya.


"Besok Ila bantu Kak Ain dapat temen," kata Ila. Ia memegang boneka kesayangan.


"Aku terlalu sibuk buat temenan." 


"Tapi Mama sedih. Besok Ila bantu."


"Terserah."


Ahin berjalan meninggalkan Ila menuju ruangan Wikra, sudah lebih dari setengah tahun mereka tinggal di rumah itu. Ahin pernah mendengar pepatah, menjadi genius itu kesepian. Mungkin Mamanya takut ia seperti itu.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Wikra masuk. Ia menggeleng ke Ahin, pertanda tidak bisa membujuk Yifei.


"Kamu harus setahun lagi di TK."


Mendeteksi itu mata Ahin berkaca-kaca, hendak menangis, paham keputusan Mamanya tidak bisa diubah. Wikra segera mendekat dan memeluk putranya yang tengah sedih.


"Aku nggak mau, Pa."


"Papa ngerti, tapi mau gimana lagi."


Wikra mengelus punggung Ahin yang bergetar, anak itu menangis, merengek seperti anak seusianya.


"Udah jangan nangis, kalau setahun lagi di TK kan Ahin bisa santai dan fokus bantuin Papa. Oh ya gimana, katanya Ahin udah nemu tempat inves yang bagus?"

__ADS_1


Mendengar itu Ahin melepaskan pelukannya ke Wikra, ia masih sesenggukan dan menghapus air matanya. Papa adalah orang yang paling mengerti kemampuannya.


"Pa... kita harus beli saham di startup e-commerce, menurut DailySocial ada enam startup yang masuk daftar Unicorn, berarti udah punya nilai valuasi di atas USD1 miliar setara dengan Rp14,1 triliun.


"Baru tiga tahun berdiri, perkembangannya pesat banget, Ahin yakin setahun yang akan datang perusahaan ini bisa ngasih keuntungan 15 persen."


"Bagus sih, tapi ini jangka panjang, kita butuhnya trading harian."


"Nggak semua dimasukin situ, kan bisa sepertiga uang kita. Trading harian yang lain juga masih Ahin pantau. Kripto kemarin makin turun, jadi Ahin jual sebagian."


Enam bulan Wikra mengajari Ahin, sekarang anak itu sudah bisa diajak diskusi. Wikra bisa membayangkan di masa depan Ahin akan menjadi pemimpin perusahaan besar yang didirikan sendiri.


Wikra bangga mempunyai anak genius. Ia mengusap kepala Ahin. Beberapa bulan lalu mereka merayakan ulang tahun Ahin ke 5 dengan sederhana. Jauh berbeda dengan ulang tahun Ahin yang ke 4. Namun, bocah itu tetap terlihat senang.


Hal yang masih sulit diterima Wikra adalah Next Media diambang kebangkrutan, sebulan lalu orang tua angkatnya ke sini. Memohon supaya Wikra mau masuk perusahaan lagi dan Papa akan membujuk para pemegang saham untuk mengangkat Wikra menjadi CEO lagi.


Wikra menolak, tidak mau bekerja di bawah orang-orang sombong itu. Kehidupannya sekarang sudah jauh lebih baik, hanya lewat tranding ia menghasilkan puluhan juta perhari.


Next media ayahnya yang mendirikan, pemilik saham paling banyak yakni 19 persen atas nama Ahin dengan wali Yifei, Wikra 15 persen. Reina 10 persen. Tetap kurang melawan mereka. Wikra tidak ingin membuang waktu.


"Mas, aku mau ngomong bentar." Yifei muncul di pintu. Membuatnya terkejut.


Ahin membuang muka, tidak mau melihat Mamanya yang menahannya di TK. Wikra berdiri dan berjalan menghampiri Yifei.


Mereka berada di kamar, Yifei memberikan berkas.


"Apa ini?" tanya Wikra.


"Hadiah ulang tahun buat kamu, selamat ulang tahun suamiku. Terima kasih kamu udah bekerja keras demi kami."


Yifei mencium pipi Wikra dengan cepat, Wikra lupa bahwa hari ini ulang tahunnya. Terlalu sibuk membuatnya tidak ingat.


Wikra membuka bungkusan map. Matanya terkejut melihat tulisan di sana. Yifei membeli 12 persen saham Next Media.  Ia langsung memandang Yifei.


"Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?" tanya Wikra.


"Enam tahun lalu kamu menceraikan ku dengan memberi uang 50 miliar, aku membeli tanah di Lampung, kebun sawit dan kebun karet. Hasil kebun itu aku belikan tanah terus menerus. Sekarang nilainya sudah sangat banyak.


"Aku sengaja menunggu saham Next Media terus turun supaya bisa membelinya, dengan ini total saham di pihak kita 56 persen. Next media sepenuhnya bisa kamu kendalikan.


"Aku tahu Next Media adalah impian dan kebanggaanmu, majulah ambil Next Media kembali."


Mendengar penuturan Yifei, membuat Wikra menunduk. Ia terharu sekaligus sedih. Uang Yifei digunakan untuk impiannya. Wikra tidak ingin menyia-nyiakannya dan berjanji mengganti tiga kali lipat setelah ia masuk Next Media lagi.


Meskipun uang hasil trading saham banyak, tapi bukan itu yang Wikra impikan dan banggakan.


Wikra memeluk Yifei erat. "Makasih, aku nggak bakal ngecewain kamu."


.


.


.

__ADS_1


bersambung


gaess bentar lagi tamat


__ADS_2