Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Wisata


__ADS_3

Ciuman Wikra datang, menjelajahi setiap sudut wajah istrinya. Pikirannya kalut, kalau benar Yifei menderita kanker. Tak bisa dibayangkan rasa sakit yang akan dia derita.


Dia tidak mau kehilangan Yifei, baru menyadari cinta dan harus kehilangan. Bukan cerai melainkan tidak bisa melihat lagi untuk selamanya. Itu berat. Wikra tidak sanggup.


"Pelan, nanti Ahin bangun." Yifei menepuk punggung Wikra yang memeluknya.


Wikra menggigit leher Yifei, dia meluapkan emosinya lewat sentuhan. Memenuhi kebutuhan biologisnya.


Tanpa Yifei tahu, hati Wikra terasa perih. Dia tidak bisa melepaskan Yifei sekalipun Tuhan menginginkannya. Tidak tahu sejak kapan, tapi Wikra merasa lebih baik mati dari pada kehilangan Yifei.


"Jangan pernah tinggalkan aku," ucap Wikra. Dia memeluk Yifei semakin erat, ciumannya datang lagi, kali ini sangat dalam hingga Yifei kehabisan napas.


Wikra melepaskan ciuman, membuat Yifei terbatuk-batuk mengambil napas. Tapi Wikra tidak memberikan ruang untuk istirahat. Dia tetap berkerja mencari kebutuhan biologis mereka berdua.


Berbeda dari dulu, sekarang Wikra selalu memberi ruang jika pelepasan itu datang dari Yifei. Membuat wanita itu menikmatinya.


Setelah permainan panjang, Wikra mencapai puncak. Dia masih memeluk Yifei dengan erat.


Napas mereka terengah-engah. Yifei duduk sembari membenarkan bajunya setelah Wikra melepaskannya.


Udara dingin di luar dan suara hiruk pikuk kota Paris tidak mereka hiraukan. Kepala Wikra berbaring di paha sang istri dengan manja. Memeluk pinggang kecil itu.


Perlahan tangan Yifei mengusap rambut pria yang saat ini tengah kalut.


"Kamu tahu apa yang paling aku sesali dalam hidupku?" tanya Yifei.


"Menikah denganku?"


Yifei menggeleng. "Nggak, itu malah hal yang sangat aku syukuri."


"Kenapa? Padahal aku nggak pernah bahagiain kamu."


"Mas udah ngasih Ahin, itu adalah kebahagiaan luar biasa untukku."

__ADS_1


"Lalu apa yang kamu sesali?"


"Aku nggak bisa ngabisin waktu lebih lama bareng kamu dan Ahin, aku benar-benar menyesal."


Pelukan tangan Wikra semakin erat, dia membenci perkataan Yifei yang seolah sebentar lagi mati.


"Stop! Jangan bicara omong kosong!" Bentak Wikra.


Dia tidak memercayai ucapan Yifei, mengelak tidak mau menerima perasaannya. Setelah dokter keluarga meneliti obat itu maka Wikra tahu kebenaran.


Satu hal yang pasti, Yifei tidak sakit kanker apalagi stadium akhir. Yifei hanya sedang memanfaatkan penyakit itu. Yifei sehat dan akan hidup lama bersama Ahin.


Yifei yang dibentak tidak berucap lagi, usapannya di rambut Wikra pun terhenti. Wikra merasa bersalah.


"Aku nggak bermaksud bentak kamu, tapi di sini kan kita lagi liburan. Lebih baik omongin hal-hal baik aja."


"Maaf," balas Yifei.


Wikra mencium perut Yifei, seolah di sana ada darah dagingnya. Dia telah melewatkan kehamilan Ahin, tidak mau melewatkan kehamilan anak kedua.


"Dulu waktu hamil Ahin, kamu ngidam apa?"


"Apa ya ... kayaknya aku cuma ngidam buah naga."


"Pantes Ahin suka buah naga."


Malam itu mereka bercerita banyak hal, tantang Ahin saat kecil hingga kehidupan yang dijalani Yifei setelah mereka berpisah.


Terkadang mereka membahas masa lalu, kebiasaan kecil hingga kejadian-kejadian yang selalu terkenang.


Ikatan itu rupanya terjalin sempurna sejak dulu, dan sekarang mereka membuat ikatan baru. Lebih kencang dan kuat. Wikra sadar bahwa Yifei adalah segalanya bahkan melebihi Ahin.


Teman hidup, tempat berbagi cerita dan masa tua. Yifei adalah pelabuhannya dalam mencari kebahagiaan sekaligus arti hidup.

__ADS_1


Keesokan harinya mereka mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Paris. Hanya saja semua tempat terlihat membosankan bagi Ahin.


"Tisnilan, yuk." Ahin menarik tangan Wikra.


Meminta mereka segera pergi dari Palace of Versailles yang merupakan bangunan istana terkenal dan monumen sejarah yang telah menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO.


Bagi Ahin, museum itu membosankan. Bocah kecil itu ingin bersenang-senang di tempat lain. Sebelum ke Paris, dia membuka laptop baru yang Papanya berikan.


"Ahin mau ke Disneyland?" tanya Wikra.


Bocah itu mengangguk dengan tersenyum lebar. Wikra segera mengangkatnya.


"Ayo kita ke sana," kata Wikra semangat.


"Tapi kan jauh?" Yifei lebih suka di museum.


"Kalo naik kereta cepat kok."


Yifei akhirnya setuju, mereka naik taksi lalu lanjut naik kereta. Ahin tampak begitu senang, sekarang dia tidak sungkan minta apapun pada ayahnya.


Ahin punya pengalaman, meminta ke Papa lebih cepat dikabulkan dari pada minta ke Mama. Terkadang dia merasa lebih kompak dengan Papa.


Hari itu Ahin merasakan kehidupan keluarga harmonis, dia mengingatnya sebagai hari nasional keluarga. Memory indah yang tidak terlupakan sekalipun di masa depan keluarganya kacau.


Di hari itu juga, dia melupakan kucingnya dan tertawa lebar bersama Papa Mama. Foto bersama sebagai keluarga. Foto itu dia simpan di dompet hingga dewasa.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


cerita ini up santai Krn bentar lagi tamat season 1. Tenang aja. season 2 ttp di sini kok


__ADS_2