Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Nama Kalea


__ADS_3

Wikra kesulitan beradaptasi dengan Kalea. Bocah itu selalu ketakutan setiap melihatnya, Wikra pikir kerena dia tak pandai, tapi ternyata karena selama ini ia sering dipukul ayah tirinya.


"Ila akut," ucap Kalea dan bersembunyi di belakang Yifei.


Wikra yang berjongkok memberi es krim kembali berdiri, ia melirik Ahin yang makan es krim. Bocah lelaki yang terlihat santai menikmati musim semi di Korea.


Mereka sedang liburan ke Korea, menikmati keindahan bunga sakura yang bermekaran. Yifei menginginkan liburan sejak dua minggu lalu. Katanya selama dia masih bisa berjalan, ia ingin memberikan kenangan indah pada anak-anak.


Ahin mengambil es krim yang dibawa Wikra lalu memberikan ke Kalea. "Ila, maem es."


Kalea menatap kakaknya yang makan es krim, terlihat ingin tapi malu. Ahin mendekat, memberikan es krim hingga Kalea tidak bisa menolak.


"Sini Mama bukain," ucap Yifei membukakan plastik es krim.


Guguran bunga sakura jatuh di syal mereka, udara masih dingin di 15 derajat. Matahari bersinar tanpa memberikan kehangatan. Mereka kembali berjalan di trotoar. Menikmati keindahan bunga sakura yang berguguran.


"Enak." Kalea berkomentar.


Yifei mengelus kepala Kalea penuh sayang, anak perempuan yang manis. Ahin menggandeng tangan Kalea dan mereka berjalan di depan. Terlihat gembira bermain bersama di antara sakura.


Perlahan Wikra menggandeng tangan Yifei, membuat wanita itu mendongak ke atas. Wikra hanya tersenyum. Mereka berjalan santai dan menikmati pemandangan seperti orang-orang.


"Aku ingin kayak gini terus," ucap Wikra.


"Sama, aku juga." Yifei menyandarkan kepalanya di lengan sang suami.


"Foto bareng, yuk." Wikra melepas genggaman tangannya dan mengambil ponsel.


Ia memfoto anak-anak yang berjalan duluan dengan gembira, merekam semua orang, berniat mengabadikan momen keluarga.


Mereka semua mudah menerima kedatangan Kalea, menyayangi anak itu layaknya keluarga. Ahin yang awalnya tidak suka kini terus mengajaknya bermain.


Sebelum ke Korea, mereka ke Amerika mengunjungi Yumna. Meminta kejelasan tentang Kalea tidak hanya asal menaruhnya begitu saja. Anak perempuan itu berlari ke Mamanya. Ia berjanji akan berlaku baik dan tidak menyusahkan Yumna.


"Ila punya adik yang masih butuhin Mama, kalau kamu sama Mama, Mama harus berpisah sama adikmu. Kamu harus ngerti." Yumna memegang kedua bahu Kalea.


Wanita itu menyuruh anak yang belum genap berusia 4 tahun mengerti. Kalea menggeleng.


"Ila uga mau Mama." Bocah itu memeluk Mamanya. Tidak hanya adiknya, tapi ia juga butuh mamanya. Sejenak Yumna terpaku sebelum melepaskan.


"Nggak bisa, kamu sama mereka aja." Yumna mendorong Kalea pergi.

__ADS_1


Anak balita itu menangis, meronta ingin bersama Mamanya, segera Yifei gendong, ikut merasakan patah hati terbesar dari seorang anak, yakni dibuang orang tuanya sendiri.


"Aku akan merawat Kalea," kata Yifei. Nadanya bergetar.


Wikra merasakan betapa hati Yifei ikut sakit, istrinya itu berjuang keras tetap hidup untuk anaknya. Malah Yumna membuang anaknya sendiri.


"I hope we don't meet again, bawa anak itu pergi!" Suami Yumna merangkul pundak istrinya. Ia menggendong balita berusia 1,5 tahun. Adik Kalea.


"Ila baik, Pa. Bawa Ila." Kalea mencoba meraih ayah tirinya, tapi ditepis. Membuat Kalea menangis kencang.


"Jangan kasar!" Bentak Wikra.


Tangan Kalea merah.


"Go! Bawa anak haram itu, jangan pernah datang lagi."


Ahin terlihat takut dan bersembunyi di belakang kaki Wikra, baginya orang di hadapan Papa sangat menakutkan, berkumis lebat dengan postur tubuh seperti orang Amerika.


"Kami ke mari bukan untuk mengembalikan Kalea, dia putri saya dan saya yang akan merawatnya, asal kalian tahu. Setiap malam dia menangis minta dipertemukan dengan kalian yang dianggap orang tuanya.


"Kalea selalu berkata akan menjadi anak baik supaya boleh bertemu kalian lagi, dia hanya merindukan kalian. Apa salahnya bicara baik-baik padanya?" tanya Wikra berusaha menahan emosi.


Yumna membuang muka, tidak mau melihat Kalea yang menangis sesenggukan. Sementara Yifei menahan tangan Wikra supaya menahan emosi.


Wikra mengembuskan napas berat. "Kalau begitu bawa kemari akta lahir dan berkas-berkas Kalea yang lain, dia membutuhkan itu di masa depan untuk sekolah."


"Semua barang-barang anak itu sudah saya bakar, saya juga tidak rela anak itu memakai nama mendiang ibu saya dan nama belakang saya!"


Kalea Harder Feretand. Nama suami Yumna adalah Harder Feretand. Wikra tidak tahu kalau Kalea diambil dari nama ibu Harder. Ia juga tidak rela anaknya memakai nama orang lain.


"Saya akan mengganti nama Kalea dan berjanji tidak akan membuatnya menjadi anak kalian lagi! Mengemis seperti apapun kalian di masa depan, Kalea tidak akan pernah mengakui kalian!"


"Kami tidak butuh pengakuan bocah haram itu! Melihatnya saja sudah membuat muak."


Mereka tidak ada pilihan lain, niat baik ditolak mentah-mentah. Andai mereka bisa lebih terbuka, pasti dua keluarga bisa hidup rukun merawat Kalea.


Wikra menoleh, mencium kening Kalea yang masih menangis di gendongan Yifei. "Ayo kita pergi, mereka bukan orang tua kamu lagi. Papa akan memberikan nama baru dan menjagamu."


Mereka berbalik, melangkah pergi dari rumah yang baru Yumna tempati itu.


Brak! Pintu dibanting dengan keras oleh Harder.

__ADS_1


Wikra memang ba jingan, tapi dia tidak pernah menyakiti anak-anaknya sendiri. Bahkan perihal nama saja dipermasalahkan. Ia baru pertama bertemu orang yang keterlaluan seperti itu.


Dua hari di Amerika, mereka terbang ke Korea, Kalea tampak sedih, ia murung dan terus mimpi buruk. Trauma dengan pertemuan kemarin.


Baru hari ini ketika mereka jalan-jalan di bawah pohon sakura Kalea mau tersenyum lagi, Wikra menyimpan foto-foto mereka di sosial media. Memperlihatkan betapa bahagianya keluarga Bos Parabola.


"Mas beneran mau ganti nama Kalea?" tanya Yifei.


Wikra masih sibuk dengan kameranya. "Setelah pulang dari sini, aku akan mengurus surat-surat untuk Kalea dan mengganti namanya. Memang agak sulit karena dia sudah punya paspor."


"Yumna sebenarnya udah ngasih berkas Kalea, tapi cuma paspor dan kartu keluarga."


"Padahal kita cuma minta akta kelahiran, tapi malah disuruh ganti nama." Wikra selesai memotret dan melihat ke arah Yifei.


"Kalau gitu kamu mau namain siapa?" tanya Yifei.


"Kamu ada saran nggak?"


Yifei terlihat berpikir sejenak.


"Dulu Mamaku ingin menamaiku Putri Nandia soalnya nama Mamaku Nandia, tapi Papaku yang orang Chinese nggak setuju dan pilih nama ala Chinese. Gimana kalau Kalea diganti jadi Putri Nandia?"


"Bagus, tapi harusnya Cucu Nandia bukan putri Nandia. Hahahaha."


Yifei manyun. Candaan Wikra menyebalkan. "Aku serius."


"Iy iya, Putri Nandia. Tapi tambahin depannya Kirana, gimana?"


"Kirana Putri Nandia?" tanya Yifei menegaskan.


Wikra menggangguk. "Aku berharap dia tubuh menjadi gadis yang ceria dan jauh dari kata murung."


"Aku setuju, semoga anak-anak tumbuh dengan baik dan rukun."


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2