
Aku ingin minta maaf karena menjadi pengecut, seharusnya dulu aku lebih berani sehingga tidak ada kesalahan pahaman seperti sekarang. Banyak hal yang terlewat tanpa aku sadari.
"Ini...." Wikra masih tak mempercayai berkas yang berada di tangannya.
"Dulu kamu membelikan gelang di hari ulang tahunku. Tapi aku tidak menerima apapun termasuk ucapan, itu yang membuat aku berpikir kamu tidak peduli."
Mendengar ucapanku, tangan Wikra mengepal. Kepalanya menunduk.
"Apa termasuk kamu tidak menerima undangan dinner dariku di Jetski Cafe?"
Aku menggeleng. "Aku nggak pernah nerima apapun darimu. Satu-satunya yang kamu berikan padaku adalah uang 50 milyar saat kita cerai."
Wikra memejamkan mata, dia terlihat menahan emosi. Ahin yang berada di gendonganku mempererat tangannya, terlihat takut karena suasana yang begitu tegang.
Wikra berbalik, dia segera turun ke lantai dua. Aku mengikuti dari belakang, di sana sudah ada Robi bersama para pelayan.
Wikra datang dan langsung memukul wajah Robi hingga terjatuh, matanya terlihat emosi. Sementara Robi bukannya takut malah tersenyum di antara bibirnya yang berdarah.
"Kenapa kamu lakukan itu?! Padahal aku sudah memberikan semua yang kamu mau?!" Teriak Wikra menarik kerah baju Robi.
Robi tak gentar, dia meludah ke samping.
"Kau pikir aku puas dengan pemberianmu?"
Aku tidak maksud obrolan mereka, kenapa Wikra memberikan kemauan Robi dan Robi tidak puas hingga menghancurkan rumah tangga Wikra? Apakah sebenarnya mereka memiliki hubungan spesial? Apa mereka.... gay?
Aku menutup mulutku sendiri, bagaimana bisa Wikra ternyata belok? Padahal saat pembuatan Ahin dia terlihat sangat macho. Sebenarnya kenapa aku malah mikir ke situ? Aku memukul kepalaku sendiri.
"Neli, tolong bawa Ahin ke kamarnya."
"Ain au Bunda." Ahin tidak mau lepas dariku.
"Sayang, Bunda harus bantuin Ayah. Nanti Bunda nyusul ke kamar."
Akhirnya Ahin mau dibawa Neli ke kamarnya. Lalu aku berteriak kepada semua pelayan supaya pergi dari sini. Meninggalkan kami bertiga dalam perkelahian.
Bagaimana pun juga Wikra adalah suamiku, kalau ternyata dia belok aku harus menutupi aibnya. Aku sungguh tidak menyangka Wikra memiliki hubungan spesial dengan Robi.
Setelah semua orang pergi, Wikra melepaskan cengkraman tangannya dari leher Robi. Dia berteriak karena emosi.
"Bagaimana rasanya hidup sebagai Wikra, Alan?" tanya Robi.
Hah, Alan? Apa itu panggilan kesayangan Robi untuk Wikra? Aku terus mengamati mereka dari jarak tiga meter. Robi melirikku sembari tersenyum.
"Aku akan memberimu uang dan pergilah dari rumah ini," kata Wikra. Dia terlihat melirikku juga. Wajahnya merah padam. Terlihat khawatir aku tahu sesuatu.
"Apa tidak mau," jawab Robi.
__ADS_1
Wikra emosi lagi dan menarik kerah baju Robi. "Aku akan memenjarakanmu kalau kau tidak mau pergi!"
"Kalau aku masuk penjara, kau juga yang rugi. Aku akan mengatakan ke seluruh dunia bahwa kamu bukan Wikramawardhana, kau hanyalah anak panti asuhan yang berpura-pura menjadi Wikra. Kalau itu terjadi, apa istrimu yang cantik masih mau bersama pembohong besar sepertimu?"
Robi menyeringai, dia sungguh meremehkan Wikra. Tatapannya beralih padaku yang berada di samping mereka, tersenyum penuh arti hingga membuat badanku gemetar.
Apa yang barusan Robi katakan, Wikra bukan Wikra, apa maksudnya? Tangan Wikra yang mencengkram kuat tiba-tiba melemah. Suamiku itu menunduk.
"Hay Yifei, apa kau tahu kebohongan besar suamimu? Dia bukanlah Wikra yang dijodohkan denganmu. Dia adalah Alan, anak panti asuhan yang miskin dan tidak punya apapun."
"Diam!" Teriak Wikra.
Apa maksudnya itu? Wikra bukan anak kandung Tante Zara? Tapi mereka adalah keluarga harmonis, Tante Zara dan Om Yuda sangat menyayangi Wikra, tidak mungkin Wikra bukan anak kandung.
"Alan berpura-pura hidup sebagai Wikra, pewaris NEXT Media parabola yang sudah meninggal"
"Kubilang diam!" Wikra berteriak lagi.
"Kenapa? Apa kau takut Yifei akan pergi seperti Yumna setelah kuberitahu kenyataan yang sebenarnya?"
Jadi, Yumna pergi setelah tahu bahwa Wikra-- maksudku Alan. Bukan anak kandung? Memang sulit menerima ini. Wikra bukan Wikra. Identitasnya sebagai anak konglomerat ternyata hanya sandiwara. Cukup sulit dipahami.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Wikra.
"Apa kau masih tidak mengerti kenapa aku datang ke sini 7 tahun lalu?"
"Pikiranmu selalu dangkal hingga aku membencimu sampai ubun-ubun," jawabnya.
"Kau sudah menghancurkan rumah tanggaku dua kali, apa itu masih kurang?"
"Aku akan puas setelah melihatmu menderita lebih dari ini," jawab Robi.
"Apa lagi yang perlu aku lakukan supaya kau puas? Apa aku harus memotong tangan dan kakiku? Aku tahu aku salah karena hidup sebagai Wikra, tapi aku tidak mau kembali lagi ke panti asuhan yang miskin itu!"
Mata mereka beradu, bukan hanya kemarahan di mata Wikra, tapi juga ada kesedihan yang tidak bisa aku ungkapkan.
"Ya, kau benar. Itu hanya panti asuhan miskin, tapi apakah kau lupa Bunda rela melakukan apa saja supaya kita bisa makan?" tanya Robi.
"Kau meninggalkan panti dengan janji akan mengunjungi Bunda setelah sukses, kau yang berkata begitu! Sampai sekarang Bunda masih menunggumu yang sudah berubah jadi Wikra dan hidup sebagai orang lain!"
Wikra menunduk, secara garis besar aku mulai paham apa yang terjadi.
"Aku membiarkanmu korupsi dan tidak protes berapapun yang kau minta, aku tahu itu untuk Bunda dan panti. Apa itu masih kurang?" balas Wikra. "Meski begitu kenapa kau mengambil uang untuk Yifei dan membuat rumah tanggaku hancur, apa kamu tahu anakku hidup menderita di luar sana karenamu?"
Saat itu Robi diam, raut wajahnya berubah. Melihat ke arahku. Mungkin dia berpikir bahwa kebenciannya terhadap Wikra tidak ada hubungannya dengan Ahin.
"Anak itu menderita kau tahu itu? Kau membuatnya mirip denganku dulu. Dia bahkan membenci ayahnya sendiri yang tidak tahu keberadaannya." Wikra menjambak rambutnya sendiri. Dia tampak kacau.
__ADS_1
Aku tidak tahu bahwa Wikra sungguh memikirkan Ahin. Melihatnya yang merasa bersalah membuatku berpikir Wikra tidak seburuk itu. Robi tidak membalas ucapan Wikra lagi. Ekspresinya tampak kacau, aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Robi.
Mereka hening untuk sesaat, lalu Robi berbalik dan pergi begitu saja. Meninggalkan kami berdua. Setelah Robi tak terlihat lagi, Wikra menghampiriku dengan raut wajah yang tidak bisa aku mengerti.
"Wikra--"
"Namaku Alan, bukankah kau sudah dengar?"
Pertanyaan membuat mulutku susah bergerak.
"Bersyukur karena pernikahan kita adalah perjanjian, kalau tidak pasti kau akan langsung pergi."
"Kenapa aku harus pergi?"
"Yang seharusnya kau nikahi Wikra, bukan Alan."
"Aku nggak peduli, buatku kau tetap ayahnya Ahin."
"Kau masih aja berhati dingin."
"Jadi Robi kayak gitu karena dendam sama kamu, dia udah ngambil banyak loh. Nggak papa dibiarin pergi gitu aja?"
"Nggak papa," jawabnya.
"Seenggaknya dia harus minta maaf sama aku, yang dia ambil kan bukan cuma punya kamu. Tapi jatahku juga." Aku menyilangkan tangan di depan dada.
"Kenapa kamu malah membahas Robi, bukankah banyak yang ingin kau tanyakan tentang Wikra dan aku? Aku sudah membohongi semua orang dengan menjadi Wikra, apa itu nggak membuat kamu penasaran?"
Aku menghembuskan napas berat, memang banyak yang ingin aku tanyakan. Tapi itu tidak jauh lebih penting dari kesalahpahaman kami.
"Aku nggak peduli mau namamu Wikra atau Alan, mau kamu anaknya Tante Zara atau anak panti asuhan. Buat aku, kamu tetap kamu. Orang keras kepala dan pemarah."
Wikra tampak terkejut mendengar jawabanku, sementara aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Tak lama kemudian Wikra tertawa tanpa aku tahu sebabnya.
.
.
.
.
.
bersambung
Makasih udah mampir, bantu share cerita ini ya gaes. info cerita/info up aku umumin di IG ku @ka_umay8
__ADS_1