Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Kapan Wikra Dewasa?


__ADS_3

Kupikir Wikra sudah berubah, bisa mempercayakan Ahin padanya dan pergi dengan tenang. Rupanya memang manusia tidak bisa berganti kulit. Sifat Wikra yang hanya tobat sambal membuatku khawatir.


"Papa mana?" tanya Ahin.


"Papa lagi kerja, nanti juga pulang."


Aku berbohong, sudah dua hari Wikra pergi. Tidak mau melihat Kalea yang terbukti anak kandungnya. Bocah perempuan tidak bersalah itu belum terbiasa di rumah ini dan terus mencari Mamanya. Hal itu membuatku pusing.


"Papa gak suka Ila, suluh Ila pelgi." Ahin meminta supaya Kalea pergi biar Papanya pulang. Dia sadar sumber ketidakharmonisan keluarga ini adalah kedatangan Kalea.


Aku mendesah berat, berjongkok mengimbangi tinggi Ahin. Mengusap pipinya yang tembem.


"Ahin nggak boleh gitu, Kalea adalah adik Ahin, sebagai kakak Ahin harus bisa jagain Kalea."


Bocah kecil itu menggeleng, sejak awal menolak kehadiran anak lain dari ayahnya. Sekalipun itu Kalea yang imut dan cantik. Aku bingung menjelaskan.


"Ain mau Papa," ucap Ahin. Ia memberontak dan berlari ke kamarnya.


Ini sulit, tak hanya untuk Wikra tapi juga Ahin. Seharusnya Wikra tidak melampiaskan kemarahan pada anak kecil yang tidak tahu apapun, sebagai pria seharusnya dia bertanggung jawab dan menebus kesalahannya. Bukannya malah pergi seperti ini dan membuat Ahin ikut membenci Kalea.


Aku berdiri, tidak menyusul Ahin dan pergi ke kamar Kalea, dibandingkan Wikra atau Ahin, Kalea lah yang harus dikasihani. Anak kecil itu pasti kebingungan kenapa tiba-tiba Mamanya menaruhnya di sini.


Aku mengetuk pintu sebelum masuk, sudah dua hari dia di sini dan hanya mengurung diri di kamar, tidak mau keluar dan terdengar menangis di malam hari. Aku meminta salah satu pelayan untuk mengurusnya sebelum menemukan pengasuh.


"Lea, kamu di mana?" Aku mencari sekeliling.


Kamar luas tak nampak gadis kecil berusia 3 tahun, usia Kalea hanya berjarak 10 bulan dari Ahin. Bisa dibilang mereka seumuran. Tapi Ahin masuk sekolah lebih cepat, kata Wikra biar Ahin tidak terganggu melihat pengobatanku.


Wikra bilang ke kepala sekolah yang ternyata teman akrabnya, kalau seumpama Ahin belum sanggup dan harus tinggal kelas. Tidak masalah. Kami hanya ingin Ahin ceria bersama teman-temannya.


"Lea, main sama Tante yuk?"


Aku mencari ke kamar mandi, dia belum bisa mandi sendiri, buang air kecil sendiri saja masih dibantu. Tapi kenapa pelayan yang aku tugaskan tidak ada di sini? Sepertinya mereka mengabaikan Kalea.


Aku mencari ke setiap sudut, dari bawah tempat tidur hingga tirai. Tapi tak menemukan Kalea. Aku membuka lemari, menyikap baju-baju dan menemukan Kalea terduduk di sana sembari menangis dalam diam.


Aku berjongkok, Kalea terlihat ketakutan. Ia memeluk erat boneka Teddy bear. Hatiku miris melihatnya. Perlahan tanganku terulur mengusap kepala.


"Kalea kenapa di sini?" tanyaku.


Perlahan ia mengangkat wajahnya, membalas tatapanku dengan linangan air mata. Jemariku terulur mengusap air mata gadis kecil itu.


".... Ila ngin Mama. Ila ngen Mama."

__ADS_1


Hatiku seperti teriris, tidak bisa mengatakan bahwa kemarin Mamanya pergi mengusul suaminya ke Amerika meninggalkan dia sendiri.


"Mama Kalea lagi kerja, Kalea disuruh tinggal di sini dulu sama Tante, Mama bilang Kalea bisa menganggap Tante, Mama Kalea juga." 


"Mama ulang apan?"


"Kalau Kalea jadi anak baik, nanti Kalea bisa ketemu Mama."


Bocah itu menunduk lagi, menenggelamkan wajahnya di antara kaki yang tertekuk. "Mama benci Ila. Papa benci Ila."


"Nggak sayang, Mama sama Papa Ila nggak pernah benci Ila. Tapi sekarang Ila harus tinggal di sini dulu sama Tante."


Bukannya mereda, Kalea malah tambah menangis. Dia sadar telah dibuang. Kata Yumna, suaminya tidak mau menerima setelah tahu Kalea anak Wikra. Seharusnya ada rasa sayang sedikit saja meski tanpa ikatan darah.


Aku sangat menyayangkan hal itu, pasti Kalea shock tiba-tiba dibenci pria yang selama ini dianggap ayah. Ia juga harus tinggal di tempat asing dan merasa sendirian.


"Ada Tante, Kalea jangan nangis."


Aku membawa Kalea dalam gendongan, mencoba menenangkan dengan memperlihatkan kolam ikan dan taman bermain.


"Neli, tolong panggil Ahin ke taman bermain."


"Baik Nyonya."


Sekarang sudah sore, waktunya Ahin makan cemilan, sekalian dengan Kalea. Mulai hari ini aku punya dua anak. Menyatukan mereka sebagai saudara merupakan tantangan terbesar.


"Mama!" Panggil Ahin, ia berlari ke arahku. Wajahnya tidak suka melihat kedekatanku dengan Kalea.


Ayunan Kalea berhenti, aku menurunkannya, menggandeng tangan kecil itu menghampiri Ahin.


"Ahin sekarang harus akrab sama Dek Ila ya?" Kataku.


Ahin tampak tidak suka, ia membuang muka dan tidak mau berjabat tangan. Aku mendesah berat dan mengangkat Kalea duduk di kursi, mengusap rambutnya sembari memberi stroberi.


"Neli, tolong awasi."


Neli mengangguk, ia melangkah berdiri di dekat Kalea yang sedang makan stroberi. Sementara Ahin hanya memerhatikan.


"Ahin, ikut Mama bentar."


Aku menggandeng tangan bocah berusia 4 tahun itu. Memang tidak adil bagi Ahin harus mengerti keadaan di usia dini. Apalagi ia masih sayang-sayangnya dengan Wikra, kini harus berbagi karena kedatangan Kalea.


Setelah kami berjalan cukup jauh dari Kalea, aku memegang kedua pundak Ahin dan berjongkok menyeimbangkan tubuh kami.

__ADS_1


"Ain gak suka Ila."


Padahal aku belum bicara apapun, tapi Ahin sudah berkaca-kaca. Ia merasa tersakiti dengan kehadiran Kalea. Aku memeluknya, mengusap punggung kecil yang terisak itu.


Walaupun Ahin cerdas, dia tetaplah anak berusia 4 tahun. Aku mengerti kekhawatirannya.


"Ahin... Mama dan Papa sayang banget sama kamu, tapi Ila... dia ditinggalkan Mamanya, sementara Papa tidak mau menerima Ila. Kalau bukan Ahin sebagai kakaknya menemani Ila, lalu siapa lagi?


"Coba bayangin, gimana kalau Ahin yang jadi Ila. Ditinggalin Mama, tidak disukai Papa dan Ahin cuma sendirian. Ahin pasti sedih banget kan?"


Ahin mengangguk dalam pelukanku, ia menghapus air matanya sendiri. Dipaksa dewasa dan pengertian di usia sekecil ini.


"Ain gak mau ditinggal. Ain mau sama Mama telus."


Aku semakin erat memeluk putraku, bisa-bisanya Yumna meninggalkan anaknya begitu saja, sementara aku berjuang keras untuk bertahan hidup demi bersama anak.


Yang aku takutkan bukan mati, tapi bagaimana nasib anakku nanti setelah aku tiada. Wikra tidak bisa diandalkan sama sekali.


Ahin melepaskan pelukannya, aku menghapus air mata di pipinya. "Sekarang Ahin makan buah sama Dek Ila ya?"


Bocah itu mengangguk, kami kembali ke tempat semula. Makan buah bersama di samping kolam renang. Aku sudah bosan menghubungi Wikra, biarlah dia mau apa. Aku kecewa padanya yang lari dari masalah.


Hari ketiga, Wikra pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Beruntung anak-anak sudah tidur. Wikra mengoceh tidak jelas hingga aku kesulitan membawanya ke kamar.


Dia kembali seperti semula, aku mengembuskan napas berat. Membuka sepatunya dan mencoba menyelimuti. Ketika aku hendak pergi, Wikra menarik tanganku. Ia duduk. Lalu menangis.


"Fei! Pasti kamu lagi tertawa aku dapat karma 'kan? Sekarang aku dapat karma! Hahahaha."


Aku duduk di ranjang, melihatnya yang berantakan. Bau alkohol di mana-mana. Dia tampak sangat gila.


"Aku nggak pernah tertawa kamu dapat karma, terlalu pendek pikiranmu kalau menganggap Kalea sebagai karma. Sadar! Kamu ini kepala keluarga, kapan sih kamu dewasa?"


Wikra menunduk. "Aku malu pulang, aku malu telah menelantarkan anak-anakku. Aku malu bertemu kamu yang sudah aku sakiti berulang kali."


Ternyata itu yang dipikirkan Wikra, aku kira dia tidak mau mengakui Kalea. "Kalau malu ya perbaiki bukannya lari!"


Aku kesal.


.


.


.

__ADS_1


. bersambung


__ADS_2