
Setelah sekian lama akhirnya Wikra kembali ke rapat pemegang saham, ia mengantongi suara 56 persen. Belum pernah ia merasa gugup seperti ini.
"Aku pakaiakan dasi," ucap Yifei. Sudah membawakan dasi senada dengan jas Wikra.
Pagi ini Yifei cukup sibuk, ia menyiapkan anak-anak sekolah dan menggosok kemeja Wikra. Sementara Neli bertugas masak dan bersih-bersih rumah.
"Apa aku bisa merebut posisi CEO kembali?" tanya Wikra lirih. Ada ketakutan di dalam ucapannya.
"Aku yakin kamu bisa, Wikra yang aku kenal sangat keren. Bisa bangkit dari keterpurukan. "
Mendengar ucapan Yifei membuat Wikra tersenyum, mengurangi kegugupan berhadapan dengan para pemegang saham.
Wikra mengambil kedua tangan Yifei yang tengah membenarkan dasinya, dicium dengan penuh kasih. Penyemangat nomor 1.
"Makasih banyak."
Yifei melihat kedua tangannya dicium merasa semua ini seperti mimpi. Cintanya terbalas dan dia bisa hidup lebih lama bersama Wikra serta anak-anak.
"Aku juga harus siap-siap, sini aku benerin dasimu dulu." Yifei mengambil tangannya kembali, dengan cekatan memakaikan dasi.
"Kamu istri yang terbaik dan terhebat. Love you so much."
Wikra mencium kening Yifei, membuat wanita itu tertawa tidak fokus. Pagi cerah saat semuanya begitu damai.
Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, sebagai perwakilan saham Ahin, Yifei ikut ke kantor, di sana sudah ada Reina.
Perdebatan cukup alot, tapi para pemegang saham tidak ada pilihan lain karena Wikra memiliki saham mayoritas. Mengalahkan suara mereka semua.
"Saya akan menurunkan CEO yang lama dan menyelidiki soal produk baru yang gagal."
Seorang pemegang saham berteriak dari belakang. "Kau menjilat ludah sendiri, sok-sokan meninggalkan Next Media tapi akhirnya balik lagi."
Wikra menjawab dengan santai. "Saya tidak pernah meninggalkan Next Media, kalian yang membuat saya keluar. Setelah saya keluar, liat Next Media jadi seburuk ini."
"Ck sombong."
"Dasar orang tidak jelas asal usulnya."
Mereka berbisik, berniat membuat serangan balasan. CEO yang sekarang maju, Bayu Krisnamurthi, sepupunya.
"Kamu memang pemegang saham mayoritas, tapi kalau kamu berani menurunkanku dari posisi CEO. Kami semua berniat menjual saham Next Media."
__ADS_1
Wikra terdiam sesaat, tidak menyangka mereka berani membuat ancaman semacam itu.
"Aku nggak ikutan, jujur aku berada di pihak Wikra."
Salah satu investor maju, sepupu Wikra yang lain sekaligus teman kuliah. Wildansyah. Pemilik 4 persen saham.
Disusul investor yang tidak ada hubungan darah dengan keluarga Wikra, Louise, pemilik 5 persen saham. "Aku sudah bosan melihat saham terus menurun, aku setuju CEO diganti."
Sisa 35 persen. 5 persen berada di masyarakat dan 30 persen yang terbagi menjadi 4 orang termasuk Bayu. Semua kerabat yang menentang keras Wikra kembali menjadi CEO.
"Kalian berdua sudah gila bisa-bisanya mengkhianatiku!" Teriak Bayu.
"Kamu yang udah gila!" Reina ikut campur. Kesal melihat Bayu menyudutkan kakaknya.
Mereka bertiga saling pandang. Ragu untuk maju di saat suara saham tinggal segitu. Tapi Bayu pemilik 10 persen saham masih bersikeras.
"Kami akan menjual saham jika Wikra mendesak kembali, Next Media akan semakin terpuruk kalau masyarakat tahu terjadi perpecahan di antara para pemegang saham."
Dari pintu Ezhar masuk, melepas kacamata hitam. "Aku akan membeli saham yang dijual."
Semua menoleh ke sumber suara. Ezhar berniat membeli saham Bayu dan menyingkirkan Bayu dari Next Media untuk selamanya.
"Ka... kau... artis berani-beraninya."
"Aku akan membeli sahammu sekarang juga dan tinggalkan tempat ini." Ezhar menantang.
Bayu melihat tiga sekutunya, mereka berdehem dan memalingkan muka.
"Apa kamu takut? Hah? Dasar." Reina memanasi.
"Ehem, kami tidak berniat menjual saham. Biarkan Bayu saja yang jual, kami tidak." Tiga investor yang tadi mendukung Bayu kini berbalik.
"Kalian...." Bayu merasa terkhianati.
Tak ada pilihan dan dukungan, Bayu tidak mau menjilat ludahnya sendiri.
"Lihat saja, tanpaku Next Media akan hancur!" Bayu bersikeras.
Pada akhirnya Bayu keluar ruangan bersama Ezhar untuk transaksi jual beli saham. Kini kemenangan sepenuhnya berada di tangan Wikra.
Ia menempati posisi CEO kembali. Semua orang bertepuk tangan, para karyawan yang ketar ketir Next Media bangkrut kini semangat kembali. Pemimpin mereka yang sesungguhnya telah datang.
__ADS_1
Mereka semua optimis Next akan meraih kejayaannya lagi, semua orang bersuka cita penuh kebahagiaan.
Wikra melirik Yifei, istrinya itu laksana malaikat yang telah datang di hidupnya. Tanpa Yifei, ia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Wikra memegang tangan Yifei yang berada di sebelahnya, membuat wanita itu menoleh, sedikit mendongak menatap penuh tanya.
"Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Terima kasih karena menjadi malaikat di hidupku."
Mendengar itu Yifei tersenyum. Ia menepuk lengan Wikra ringan. "Makasih juga karena kamu sabar punya istri sakit-sakitan."
"Apapun keadaanmu, kamu tetap bidadariku." Wikra memeluk Yifei tanpa memedulikan orang-orang di ruangan itu.
Mereka semakin heboh melihat tindakan Wikra. Para karyawan menyaksikan rapat dari luar kaca. Ikut senang atas kemenangan dan kebahagiaan Wikra.
Setelah rapat selesai dan para pemegang saham pulang, para karyawan berdatangan menemui Wikra. Mereka adalah orang-orang yang rindu bekerja di bawah kepemimpinan Wikra.
Orang-orang itu juga yang senantiasa bersilaturahmi ke rumah barunya, mereka membawakan hadiah rumah baru. Wikra jadi tahu bahwa para bawahannya sangat menghormatinya.
"Akhirnya Bapak kembali ke Next Media," ujar salah satu kepala devisi.
"Kami nggak sabar ngeliat Next Media berjaya kembali."
"Ayo kita siap-siap luncurkan produk baru."
Semua orang sangat bersemangat dengan kembalinya Wikra, membuat pria itu sungguh tersentuh. Banyak hal yang tidak ia sadari.
Dulu, dia hanya tahu tentang bekerja dan menghasilkan uang. Tanpa peduli sekitar. Ia memang sering memberikan bonus pada para karyawan, memberikan kesejahteraan kepada mereka dengan maksud supaya mereka semakin giat bekerja.
Tak disangka, bahwa para karyawannya tak hanya giat bekerja, juga menjadi sangat menghormati dan setia padanya. Wikra sangat bersyukur.
"Ayo kita buat Next Media kembali berjaya!" Teriak Wikra disusul tepuk tangan dan antusias para karyawannya.
.
.
.
bersambung
gaesss.
__ADS_1
cerita ini bentar lagi tamat.