Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Perintah


__ADS_3

Wikra menunduk, melihat anak laki-laki yang mirip dengannya. Tanpa tes DNA ia sudah tahu bahwa itu adalah darah dagingnya. Wikra memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan menahannya di dada sebelum diembuskan.


"Ahin, hentikan."


Yifei berjongkok, menahan tangan putranya supaya berhenti memukul. Bocah kecil itu masih melirik Wikra dengan penuh kemarahan.


"Wikla ukul Bunda."


"Huss Ahin nggak boleh ngomong kayak gitu, Ayah itu nggak mukul Bunda. Ahin salah lihat."


Bocah itu cemberut, tidak percaya omongan ibunya. Kepalanya mendongak, melihat wajah Wikra yang arogan.


"Gak ukul, telus apa?"


"Ayah mau ngusap kepala Bunda, bukan mukul."


Saat ini hati Wikra bertentangan, dia bingung bagaimana bersikap kepada anak yang baru pertama dia temui. Terlebih anak itu melihat perbuatan kasarnya, pasti akan sangat berbekas di ingatan bahwa ayahnya suka memukuli ibunya. Kesan pertama saja sudah buruk begini. Bagaimana kedepannya?


"Usap?" tanya Ahin mulai mempercayai.


"Iya, usap kepala kayak gini."


Yifei mengambil tangan Wikra di sebelahnya, diusap di kepalanya sembari tersenyum kepada Ahin. Saat ini Wikra membatu. Tubuhnya tidak bisa menolak tindakan Yifei.


"Oohh usap."


Akhirnya Ahin percaya, Yifei melepaskan tangan Wikra dan menggandeng Ahin masuk ke dalam.


Wikra masih bingung, dia tidak menyangka sama sekali akan seperti ini. Dia pikir Yifei tidak akan kembali muncul dalam hidupnya. Wanita yang menjadi benalu akan selalu jadi benalu. Wikra benci.


Dia mengambil batang rokoknya, berusaha meredamkan emosi. Andai ada alkohol, dia akan menegakkan sekali minum.


Satu batang rokok tidak mengurangi emosinya, hingga Papa datang dan menghampiri Wikra yang tampak frustasi. Dia terlihat sungguh bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Wikra," panggil Papa.


Ia menoleh ke belakang, melihat Papanya membenarkan kacamata. Rambut Papa sebagian besar sudah beruban, tetapi masih tampak jelas kegagahan di sana.


"Aku sungguh tidak tahu kalau Yifei hamil, Pa. Kalau aku tahu, pasti aku tidak akan menceraikannya."


"Yifei sudah mengatakan semuanya, tidak perlu menyesali masa lalu, yang harus kau pikirkan adalah masa depan. Bertanggung jawablah sebagai ayahnya Ahin."


"Papa mau aku lakukin apa?"


Dari kecil, Wikra selalu menuruti semua perkataan Papanya, obsessinya adalah diakui Papa dan Mama. Dia rela melakukan apapun termasuk menikahi wanita yang dia benci.


Bahkan dia membangun perusahaan ayahnya hingga besar seperti sekarang, padahal dulu hanyalah perusahaan TV kecil. Hanya menjual antena parabola dan jasa pemasangannya. Sekarang mereka bahkan memiliki stasiun televisi yang diperhitungkan.


"Sebenarnya Papa tidak ingin memberikanmu kesempatan lagi, tapi melihat Ahin tumbuh tanpa kenal ayahnya sungguh membuat hati miris! Nikahi Yifei dan jadilah Ayah yang baik untuk Ahin."


"Pa! Jangan bercanda, pernikahanku dan Yifei sebelumnya saja berantakan. Sekarang sudah tidak bisa diperbaiki lagi!"


"Dulu Papa tidak memutuskan dengan tegas, sekarang Papa memutuskan, kalau kamu tidak menikahi Yifei dan menjadi ayah yang baik untuk Ahin. Papa tidak akan mewariskan perusahaan padamu."


Anak kandung tetaplah anak kandung, sekali pun dia sudah bekerja keras pada akhirnya perusahaan akan jatuh pada anak kandung Papa.


Tiba-tiba Reina menyela setelah membuka jendela dengan keras, ia melihat miris ke kakaknya sembari menggelengkan kepala.


"Maaf ya, Kak. Aku akan jadi pengacara hebat, nggak tertarik sama perusahaan. Pa, kasih aja perusahaan ke Ahin. Dari pada ke Kak Wikra yang nggak bertanggungjawab."


"Diam kamu!" Bentak Wikra.


Reina mengejek lalu menutup jendelanya.


"Reina benar, Papa akan memberikan perusahaan ke Ahin kalau kamu tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik."


"Tapi, Pa--"

__ADS_1


"Nggak ada tapi tapian. Itu keputusan bulat."


Papa berbalik, meninggalkan Wikra yang tidak bisa membantah lagi. Hubungannya dengan Yifei sudah tidak bisa diperbaiki. Sekarang harus menikah kembali? Wikra sungguh berharap ini cuma mimpi.


Wikra kembali ke dalam rumah jam 10 malam, semua orang sudah ke kamarnya masing-masing. Wikra penasaran ke kamar mana Yifei tidur.


Dulu, setiap dia ingin 'itu', dia selalu mendatangi Yifei. Bodohnya ia tidak memikirkan akan hadir anak di antara mereka, dulu Wikra hanya berpikir yang penting kebutuhannya terpenuhi tanpa harus menyewa wanita malam.


Dia pergi ke kamarnya, tak ada Yifei. Dulu setiap mereka menginap di rumah ini, kamar ini yang selalu mereka tempati.


Wikra merebahkan tubuhnya di ranjang, mengingat kebodohannya yang tak bisa menahan diri. Bagaimanapun juga dia pria normal, sulit tidak menyentuh Yifei yang tubuhnya bagus.


"Akhh! Sial!" Makinya pada keadaan saat ini.


Dia keluar rumah, tidak tahu harus kemana. Dia ingin melepas stres, ia mengemudi mobil keluar rumah. Tempat satu-satunya melepas stres adalah club malam dan alkohol.


Malam itu Wikra minum alkohol lebih banyak dari biasanya, mencoba melupakan kejadian hari ini. Berharap ketika bangun besok Yifei dan anak itu menghilang.


Wikra menari di antara orang-orang, menikmati suasana malam dengan musik yang berderu kencang. Lampu warna warni menghiasi ruangan.


Para wanita sexy menghampirinya, mengajaknya berjoget bersama. Ia terus meminum alkohol sembari menikmati tubuh para wanita sexy yang tengah menari bersamanya. Sejenak dia lupa semua hal dan larut dengan keadaan.


.


.


.


.


bersambung


timpuk Wikra pake kopi gengs biar sadar. Kasih Ahin bunga juga ya.

__ADS_1


gengs, tolong bagiin cerita ini ke temen, sodara, sepupu, suami, istri, pacar, mantan, selingkuhan, bude, pakde, tetangga, kakek, nenek, musuh dll πŸ₯ΊπŸ™


__ADS_2