
Wikra tidak tahu apa yang terjadi sampai Yifei berubah seperti ini, sungguh ia tidak menduga bahwa akan ditolak. Dalam pikirannya, Yifei masih wanita penurut, menerima segala sesuatu yang ia dan orang tuanya berikan.
"Kenapa?" tanya Wikra menoleh. Keningnya berkerut, menunggu jawaban dari Yifei.
"Aku tidak ingin mengulang masa lalu, kedatanganku ke sini unt--"
"Untuk menyukai Ezhar? Makanya kamu menolakku?!" Wikra memotong ucapan Yifei.
Sejurus kemudian Yifei membalas tatapan Wikra dengan tajam, seolah mengatakan untuk menutup mulut.
"Ini nggak ada hubungannya sama Ezhar."
Wikra tidak percaya, dia masih menduga bahwa Yifei sudah dipengaruhi Ezhar sepenuhnya.
"Sudah sudah, kalau emang Yifei nggak mau jangan dipaksa. Apapun pilihan Yifei, kami akan terima." Mama tersenyum sembari memegang tangan Yifei penuh kasih sayang.
Pembahasan soal pernikahan ulang dihentikan, mereka membahas tentang Ahin dan segala yang terjadi selama 4 tahun ini.
Setelah obrolan selesai, Wikra menarik tangan Yifei ke samping rumah. Dekat dengan kolam renang. Mengunci wanita itu di tembok dengan kedua tangannya. Ia melihat pintu yang jauh dari mereka, harus melewati kolam renang dulu. Wikra pastikan bahwa Ahin tidak akan melihat orang tuanya bertengkar.
"Kenapa kau menolak menikah lagi denganku?"
Yifei mendongak ke atas, melihat wajah mantan suaminya yang tersulut amarah. Berulang kali dia mendorong dada bidang Wikra menjauh.
"Minggir," kata Yifei mencoba mendorong Wikra lagi.
Dada bidang itu tidak bergerak, masih kekeh mengunci Yifei di tembok.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab."
Kali ini Yifei melepaskan tangan dari dada Wikra, wajahnya penuh amarah menatap pria yang merupakan ayah dari anaknya.
"Aku nggak punya alasan menikah lagi denganmu," jawab Yifei.
__ADS_1
Dari jarak sedekat ini, wajah Yifei terlihat pucat. Tidak secerah dulu, apa mungkin wanita itu sedang tidak enak badan? Tetapi lekuk tubuh Yifei masih sangat ramping, bibirnya yang dulu menjadi candunya kini melambai seakan ingin dicium.
Wikra segera menipis keinginan itu, ada hal yang lebih penting dari pada kebutuhan biologisnya. Kalau dia bisa mendapatkan Yifei kembali, maka semua keinginan yang terbersit di kepala bisa terwujud. Termasuk menyentuh tubuh Yifei lagi.
"Apa Ahin tidak bisa jadi alasan?"
"Selama ini Ahin sudah tumbuh baik meski tanpa kamu," kata Yifei.
Kalimat Yifei benar, anaknya baik-baik saja tanpanya, Wikra sedikit kesal.
"Apa aku tidak bisa dijadikan alasan untuk kita menikah kembali?"
Mendengar itu Yifei mengerutkan kening, ia tidak mengerti maksud Wikra. Sebenarnya pria itu malu mengatakannya, tetapi dulu Yifei pernah mencintainya. Bahkan pernah bertanya apakah ada rasa cinta walaupun hanya sedikit.
"Maksudnya?" tanya Yifei menelengkan kepalanya.
"Bukankah dulu kau mencintaiku?"
Mendengar itu Yifei tersenyum kecut, dia mengalihkan pandangannya. Lalu kembali membalas tatapan Wikra dengan lebih tajam.
Wanita itu kembali mendorong dada Wikra dengan kuat. Ia berjalan di samping kolam menuju pintu. Beberapa langkah berjalan tangannya ditarik Wikra hingga dia berputar ke belakang. Jatuh di dada pria itu. Pinggangnya ditarik Wikra hingga tubuh mereka menempel.
"Kau yakin tidak mencintaiku lagi setelah kucium?" Wikra melayangkan ciuman. Membuat Yifei terpaku di tempat.
Ciuman Wikra semakin dalam tanpa mampu Yifei cegah, sangat lihai seperti biasanya. Setelah kesadarannya kembali, tangan Yifei memberontak supaya tubuh mereka lepas. Sayangnya Wikra menguasai permainan.
Hingga tiba-tiba Ahin datang dari pintu, melihat punggung ibunya tanpa tahu apa yang terjadi.
"Bunda, Ain ngantuk." Tangan bocah itu mengucek mata.
Mendengar suara Ahin, Wikra segera melepaskan ciumannya. Mereka berdua tampak canggung berada di depan Ahin.
Yifei mengelap bibirnya yang masih terdapat air liur Wikra, wajahnya merah, Wikra menduga Yifei sangat marah padanya.
__ADS_1
"Ahin udah ngantuk?" tanya Yifei, bersikap biasa seolah tidak terjadi apapun.
Ahin mengangguk, lalu menguap. Yifei segera meninggalkan Wikra dan menggandeng tangan Ahin masuk ke kamar.
Sementara Wikra hanya melihat mereka dari kejauhan. Bibirnya tersenyum, ternyata bibir Yifei masih manis seperti dulu.
Pagi harinya, Yifei tidak mau berbicara sedikitpun dengannya. Wanita itu terlihat sangat kesal.
"Fei soal semalam--"
"Ahin ikut Bunda keluar yuk." Yifei memotong ucapan Wikra. Meninggalkan pria itu duduk di ruang tengah hingga membuat bingung semua orang yang ada di rumah.
"Kakak bikin salah apa lagi sih?" tanya Reina penasaran.
"Nggak salah apapun, Yifei cuma baperan."
"Nggak mungkin," balas Reina. "Pasti kesalahan kakak fatal sampai Kak Fei nggak mau ngomong lagi sama kakak. Oh ya, tadi malem aku denger kakak ditolak Kak Fei ya? Hahahaha kasihan!"
"Diam kamu!" Bentak Wikra berdiri dan meninggalkan adiknya tersebut. Ia malah ikutan kesal seperti ini. Apalagi tawa Reina terdengar begitu keras.
.
.
.
.
. bersambung
jangan lupa pencet like, komen dan lempar bunga 🥰🤗
kalau menurut kamu cerita ini menarik, share ke temen, sodara, sepupu suami, istri, pacar, mantan, selingkuhan, bude, pakde, tetangga dll
__ADS_1
makasih banyak udah mampir, semoga temen-temen dilancarkan rezekinya dan diberikan kebahagiaan ❤️❤️