Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Kasur


__ADS_3

ANAK DI BAWAH UMUR TOLONG LEWATI PART JAHANAM INI!


.


.


.


.


Perbedaan dulu dan sekarang adalah penilaiannya tentang Yifei, wanita itu ternyata tidak matre, tidak membuang barang pemberiannya, dan menerima dia apa adanya.


Setelah berpisah dengan Yumna, sebenarnya Wikra pernah mencoba mencari pendamping hidup. Tapi dia selalu membandingkannya dengan kebaikan Yifei.


Di pernikahan kedua, pikirannya lebih terbuka, sadar tidak ada wanita sebaik Yifei untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Aku sudah minum pil KB, kamu nggak perlu khawatir ngeluarin di dalam." Kata Yifei.


"Kenapa harus pakai? Emang kamu nggak mau ngasih adik buat Ahin?" tanya Wikra polos.


Yifei menoleh dengan kening berkerut. "Pernikahan kita kan cuma satu tahun."


Ah, Wikra lupa. Ini bukan pernikahan kedua biasa. Mereka akan berpisah lagi setelah satu tahun. Tiba-tiba di sudut hatinya terasa nyeri. Mendadak tidak rela kehilangan Yifei, padahal dia tidak mencintai wanita itu, tapi kenapa perasaannya sedih?


"Satu tahun cukup untuk membuatmu melahirkan adik Ahin."


"Aku nggak mau," jawab Yifei tegas.


Pernikahan pertama mereka kacau, Yifei harus melahirkan dan membesarkan Ahin sendirian. Pasti tidak mudah untuk memiliki anak kedua, mungkin Yifei takut hal sama terulang.


Kuncinya adalah kepercayaan. Wikra hanya perlu membuat Yifei memercayainya dan melahirkan anak kedua. Mungkin saja dengan begitu wanita itu akan berubah pikiran.


"Baiklah," jawab Wikra.


Wikra naik ke atas ranjang, duduk di sana lalu menepuk kasur, menyuruh Yifei segera mengikutinya.


"Nggak boleh kasar, inget?" Yifei naik ke atas ranjang.

__ADS_1


"Iya, aku akan melakukannya dengan sangaaat pelan dan menghayati."


Ternyata Yifei tidak suka cara ekstrim, padahal dulu tidak pernah protes gerakan apapun yang ia berikan. Pernah Wikra sambil menyekik leher Yifei, wanita itu tidak berkata apapun dan malah menangis. Wikra merasa bersalah dan tidak melakukan gerakan itu lagi.


Tangan Wikra meraih kancing baju Yifei, perlahan membuka kancing itu satu persatu. Setelah kancing terlepas semua, akhirnya Wikra bertemu dua pusaka yang dia rindukan. Tambah gembul dari terakhir kali ia ingat. Mungkin efek setelah Yifei melahirkan.


Kepalanya kembali melihat ke depan, terlihat pipi Yifei memerah. Sebelumnya dia tidak pernah sepelan ini.


Ia ingat, dulu ketika butuh dan ingin. Di manapun Yifei, tidak peduli wanita itu sedang melakukan apa. Wikra akan langsung membopongnya ke ranjang. Membuka bajunya tanpa menghayati seperti ini.


"Kamu... merawat tubuhmu dengan baik," ucap Wikra.


"Makasih," jawab Yifei.


Perlahan Wikra mendekatkan wajahnya, mencium bibir lembut Yifei pelan. Awalnya hanya menempel kemudian berubah mengisap, Yifei memejamkan mata, tangannya meraih baju Wikra, memegangnya erat.


Tangan Wikra turun ke bawah, membuka baju wanita itu seutuhnya. Menyisakan dalaman berwarna merah. Perlahan bibir Wikra turun ke bawah, menjelajahi dengan meninggalkan jejak.


Tubuh Yifei terus bergerak, Wikra menidurkannya, menjelajahi setiap inci dengan bersemangat. Dia seperti bayi besar yang sedang kelaparan.


Wikra melucuti pakaian mereka, membuangnya hingga jatuh di samping ranjang. Ia memposisikan diri menjadi tukang bersih-bersih.


"Cepat masuk," kata pemilik sarang burung.


"Iya," jawab Wikra. Dia menunjukkan kegagahan burungnya.


Perlahan ia memasukan burung itu ke kandang, rupanya si burung menyukainya hingga bermain di sana. Membuat si pemilik tempat kewalahan.


Wikra mencium bibir Yifei lagi, tangannya menjelajahi pelan. Burung yang sudah berada di sangkar tidak ingin lepas. Terus bermain dan menunjukkan keindahannya kepada pemilik.


Wikra menyukainya, setelah dua minggu puasa akhirnya ia akan mendapatkan pelepasan. Ia melihat Yifei yang berada di bawahnya, wajah cantik itu sekarang bebas ia cium.


Tangan Yifei meremas apapun di sekitar. Sesekali Wikra mencium wajahnya sembari terus bergerak.


"Bunda!"


Suara Ahin mengagetkan dua orang yang tengah bersatu itu. Mata mereka kini bertatapan.

__ADS_1


"Ahin bangun," kata Yifei.


"Biarin." Wikra tidak mau berhenti, dia belum mencapai puncak.


"Bunda! Huwaaa Bunda!"


Suara Ahin terdengar di depan pintu kamar, anak itu menangis mencari ibunya.


"Berhenti, Mas. Ahin nangis." Yifei mendorong dada Wikra. Tapi tenaga pria itu lebih kuat.


"Nggak bisa ini tinggal dikit lagi," Wikra memeluk Yifei dan berusaha mempercepat gerakannya.


Yifei tidak bisa menikmatinya gerakan Wikra, suara tangis Ahin di luar sana membuat fokusnya pecah. Dia terus berusaha mendorong Wikra hingga mencubit pinggangnya.


"Sakit!" Teriak Wikra.


Melihat ada celah Yifei mendorong tubuh Wikra, ia segera berdiri lalu mengambil baju.


"Bunda! Huwaaa...." Tangisan Ahin semakin kencang.


"Iya, sayang! Sebentar." Yifei buru-buru memakai bajunya.


"Terus aku gimana? Ini belum tuntas." Wikra menunjuk burung yang malang.


"Tuntasin sendiri di sana," jawab Yifei sembari menunjuk kamar mandi.


Wikra memukul bantal. "Akkh!" Dia sangat kesal hingga kepalanya berdenyut.


Yifei keluar dari kamar dan menggendong Ahin, anak itu menangis sesenggukan. Mereka kembali ke kamar dan meninggalkan Wikra beserta burungnya yang malang.


.


....


.


..

__ADS_1


Bersambung.


jangan lupa lempar bunga gaes


__ADS_2