
"Bunda, ni usak." Ahin menunjuk televisi yang tak berfungsi dengan baik. Gambarnya kabur dan suaranya tidak jelas.
"Besok kita beli parabola baru," jawab Bude keluar dari kamar. "Itu TV udah lawas, parabolanya juga sering rusak."
Wanita yang berusia 65 tahun itu menggelung rambutnya, hampir semua berwarna putih. Tubuhnya gemuk dan memakai daster batik.
"Cekalang! Ain au liat pongbob."
Bocah kecil itu berlari merengek ke Bude, menggelayut di kakinya. Jam 6 sore memang jadwalnya Ahin melihat Spongebob di NEXT TV. Saluran TV milik ayahnya.
"Ahin malam ini belajar lebih awal ya, kemarin kan Ahin udah pinter ngapal perabot rumah pake bahasa Mandarin. Hari ini Bunda mau liat Ahin bicara pakai bahasa mandarin."
"Lo Ain bisa, Om Es ulang?"
Bocah berusia 3,5 tahun itu sangat menyukai Ez. Menganggap bahwa Ezharion adalah ayahnya. Sejak Ahin lahir, Ez memang sering berkunjung. Katanya kasihan kalau Ahin tidak merasakan kasih sayang ayah.
"Om Ez sibuk, nanti kita yang ke Jakarta ngunjungin Om Ez sambil liat Monas, Ahin mau 'kan?"
Kepala kecilnya mengangguk. "Ain mau."
__ADS_1
Wajahnya sangat mirip Wikra ketika tersenyum, pipinya merah alami dan matanya seperti garis. Kecerdasannya juga mirip Wikra. Di usianya ini Ahin sudah bisa membaca huruf, aku bahkan memberikan belajar tambahan bahasa Mandarin karena dia terlalu cepat belajar.
Pernah suatu hari dia melihat tetangga membuat layangan, Ahin hanya mengamatinya beberapa kali lalu meminta sisa bambu yang tidak terpakai. Di rumah bambu itu dibuat layangan sendiri hingga tangan kecilnya berdarah. Hasilnya memang bagus dan sampai membuat kami semua tercengang. Hanya saja aku marah melihatnya terluka.
Aku harus extra membimbingnya, sadar bahwa dia lebih cerdas dari anak seusianya. Rasa ingin tahunya besar, terkadang bisa membuat dua terluka.
Ahin adalah harta satu-satunya, alasanku bertahan hidup sampai detik ini. Semangatku untuk sembuh setelah divonis kanker.
"Apa kamu mau ke Jakarta?" tanya Bude setelah Ahin pergi.
Aku melihat punggung kecil itu goyah ke kiri dan kanan karena bahagia, ia belum pernah ke Jakarta dan hanya diceritakan oleh Ez bahwa Monas itu tinggi dan besar.
"Aku udah mikir semalaman, Ahin akan aku titipkan ke neneknya. Beliau orang yang hangat dan pasti bisa menyayangi Ahin."
Perlahan Bude mengambil tanganku, membuatku sedikit menunduk menatap matanya yang sayu. Paham apa yang ingin disampaikan.
"Maafin Bude, kalau seumpama Bude masih muda. Pasti Bude bisa merawat Ahin."
Bude sudah berusia senja, sudah seharusnya beliau istirahat tanpa mengurus apapun. Apalagi Ahin yang masih kecil. Aku juga paham hal itu.
__ADS_1
"Bude mau menampung kami di sini saja aku sudah sangat berterimakasih, emang sekarang waktunya Ahin ketemu sama ayahnya."
"Apa Ezhar tahu keputusanmu?"
Aku menggeleng, Ez sedang berada di Eropa untuk syuting film. Bulan depan baru pulang. Dia berjanji padaku untuk membawa berobat ke Amerika setelah pulang.
Kupikir pengobatanku sudah sangat terlambat, kalau pun bisa maka kemungkinan mati malah lebih besar. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Apalagi dokter bilang waktuku hanya sekitar 8 bulan lagi.
Sangat terlalu singkat untuk melihat Ahin tumbuh besar, aku ingin memberi kenangan indah pada anak itu sebelum pergi. Supaya yang dia ingat bukan ibu sakit-sakitan melain ibu yang selalu tersenyum hangat.
"Ezhar pasti mau mengurus Ahin, dia tidak akan keberatan menjadi ayah untuk anakmu."
Sekali lagi aku menggeleng, Ezharion baru berusia 25 tahun. Sekarang adalah puncak karirnya. Mana bisa aku merepotkan dia lebih dari ini. Dari kita SMP, aku tahu betul betapa dia ingin menggapai mimpi sebagai penyanyi.
"Ahin berhak tahu keluarga ayahnya, dia juga berhak kenal ayahnya. Sebelum aku mati, aku ingin memberikan hak itu pada Ahin."
Bude mengembuskan napas berat, wajahnya terlihat sedih. Beliau sudah aku anggap ibuku sendiri, membantuku dari saat hamil, melahirkan sampai mengurus Ahin.
Katanya Ahin mirip putranya yang sudah meninggal, makanya dia sangat menyayangi bocah itu. Hidupnya yang sunyi setelah suami dan anak meninggal menjadi lebih berwarna setelah kedatangan kami.
__ADS_1
......