Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Asal Usul


__ADS_3

Sampai sekarang aku belum memberikan apapun untuk Wikra, kalau pun aku mati, sebelum itu aku ingin membuat kenangan berharga.


Aku berpikir untuk melakukan sesuatu untuk Wikra, mencari asal usulnya yang tidak jelas. Diam-diam menyelidiki tentang Wikra dan panti asuhan.


Aku tahu ini sangat sulit, menyelidiki kasus yang sudah terkubur lebih dari 25 tahun. Saat pertama kali Wikra masuk panti asuhan ketika berusia 3 atau 4 tahun. Setara Ahin. Ibunya meninggal dan ayahnya tidak diketahui keberadaannya.


Usia Wikra tidak muda, 30 tahun. Bukan anak hilang. Mencari keberadaan ayahnya terasa seperti mustahil.


"Orang itu tetap menyebalkan," gumam Wikra, matanya terus melihat ke arah Ezhar yang tengah dikerubungi orang-orang.


Aku terkekeh, dari dulu sikap mereka tidak berubah. Aku menarik tangan Wikra menjauh. Kami harus menaruh hadiah dan menemui Reina. Pemeran utama dalam pesta ini.


Gadis cantik berusia 20 tahun, ia tidak mirip Wikra yang judes. Wajahnya cerah dan selalu tersenyum. Ia menyambut kami dengan penuh kebahagiaan.


"Ya ampun, Kakak. Aku seneng banget kakak bisa datang." Reina memelukku.


"Selamat ulang tahun Reina, semoga segala kebahagiaan terjadi untukmu."


"Makasih banyak ya, Kak. Semoga Kakak juga cepet sembuh."


"Sama-sama," jawabku. Mengusap punggungnya.


Setelah pelukan dilepaskan, Reina berhadapan dengan Wikra dan Ahin. Mereka saudara yang sangat bertolak belakang.


"Walaupun udah besar kamu tetep nggak boleh pacaran," ucap Wikra. Dingin sekali.


Bibir Reina menyungging, mungkin kesal karena tidak ada ucapan selamat dari kakaknya dan malah keluar kalimat seperti itu. Ia memukul lengan Wikra dengan keras hingga Wikra mengaduh.


"Auh sakit, kamu ini apa-apaan?" Wikra menghindari pukulan Reina.


"Sebagai kakak kasih hadiah dan doa yang keren kek?"


"Emangnya pernah kamu minta sesuatu dan Kakak nggak ngasih?" tanya Wikra balik.


Meskipun Wikra sangat cuek, dia tidak pernah bilang tidak pada adiknya. Beberapa kali aku melihat Reina minta sesuatu dan Wikra selalu memberikan.


"Aku minta mobil baru," ucap Reina.


"Biasanya kau tinggal ambil dan tagihannya selalu diberikan padaku."


"Beda, Kak. Ini hadiah ulang tahun. Harus kakak yang pilihin."


Wikra menyipitkan matanya, kesal. "Aku sibuk."


Aku segera menyela, "nanti aku bantu pilihin."


Mendengar itu Reina tersenyum lebar, dia mengusap rambut Ahin yang berada di gendongan Wikra.


"Pokoknya kalian yang terbaik, ditunggu mobil baruku."


"Tante Leina punya obil balu?" tanya Ahin.


"Iya, nanti Tante ajak Ahin jalan-jalan," jawab Reina.


"Yes, asik."


Kami mengobrol sementara Ezhar belum bisa bergabung, dia terus dikerubungi orang-orang. Aku kasihan tapi kalau membantu maka Wikra akan marah. Jadi maafkan aku Ez.

__ADS_1


Setelah acara potong kue, orang-orang berdansa. Aku yang tidak pandai berdansa dan hanya diam dipojokkan bersama Wikra dan Ahin.


Acara ulang tahun Reina diadakan secara meriah, gaun biru layaknya seorang Cinderella modern sangat cocok untuknya. Mertuaku terlihat sangat memanjakan anak perempuannya itu.


"Tulun, Pa. Ain ngin main ma Om Es." Ahin merengek minta turun.


Aku melihat sekeliling, Ezhar terlihat sedang berbicara dengan seseorang. Dulu saat Reina tahu bahwa Ezhar sahabatku, ia memohon minta dikenalkan. Sayangnya Ezhar sangat sibuk.


Alhasil aku hanya bisa memberikan tanda tangan Ezhar saja. Sekarang mereka benar-benar bertemu. Aku senang melihatnya. Meskipun Reina terlihat malu-malu menghampiri duluan.


"Nggak boleh, Om Ez sibuk. Ahin main sama Papa aja."


"Nggak mau! Ain mau Om Es!" Ahin terus berontak.


"Bawa Ahin ke Ezhar ajalah, Mas. Mereka kan emang jarang ketemu. Mungkin Ahin kangen."


Mendengar itu tatapan Wikra langsung berubah tidak suka, ia sensitif sekali terhadap Ezhar.


"Nanti kalau Ahin lebih lengket ke Ezhar gimana?"


"Yaudah Mas temenin Ahin aja sana. Aku mau ngobrol sama Mama."


Aku mendorong Wikra supaya mendekat ke Ezhar, setelah itu aku mencari Mama mertua di antara banyaknya tamu undangan.


Ternyata Mama sedang berdansa dengan Papa, mereka terlihat kompak dan saling menyayangi. Aku dengar mereka kehilangan Wikra yang asli, hebatnya mereka mampu bangkit.


Kalau dipikir kembali, sebenarnya kasihan Wikra yang asli. Keberadaannya digantikan. Bisa dibilang dilupakan. Aku tidak tahu apakah mereka berdua masih mengunjungi makam Wikra atau tidak.


Orang-orang bertepuk tangan setelah lagu selesai, Mama mengucapkan terimakasih kepada semua orang. Lalu menyingkir dan membiarkan orang lain berdansa di sana.


Aku segera menghampiri Mama, ada sesuatu yang harus aku pastikan. Kebenaran tentang Wikra.


"Eh, Fei. Ahin sama Wikra mana?"


"Mereka lagi main sama Ezhar."


"Temanmu yang artis itu?"


"Iya. Aku pingin ngobrol bentar sama Mama."


"Ayo kita ngobrol sambil duduk di sana," ucap Mama.


Aku mengikutinya yang mengambil mangkuk. Kami mengambil cemilan yang tersedia dan duduk di kursi. Pelayan menawarkan wine. Aku menolaknya. Tidak minum alkohol.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Mama sembari mengunyah.


"Ini tentang Alan," jawabku.


Mendadak Mama berhenti mengunyah, ia menatapku. Hampir tersedak. Aku segera mengelus punggungnya.


"Dari mana kamu tahu tentang Alan?" tanya Mama.


Aku tahu itu dari Robby, mantan kepala pelayan. Dari dia juga aku tahu tentang ibu Wikra dan kapan Wikra masuk ke panti.


Sayangnya aku belum sempat menanyakan di mana panti asuhan Alan. Aku tidak bisa menanyakan hal ini pada Wikra yang sangat sensitif tentang masa lalu.


Dia berusaha mengingkari asal usulnya, ia menutup diri dan tidak menerima diri apa adanya. Aku takut hal itu akan menjadi boomerang di masa depan. Apalagi Robby menyimpan dendam.

__ADS_1


"Aku nggak sengaja tahu, tapi Wikra nggak mau mengungkit masa lalunya. Jadi aku nggak bisa membahas ini dengan Wikra."


Mama diam sejenak, "ini rahasia yang dijaga kami bertiga. Mama tidak menyangka kamu akan tahu."


"Apakah Reina juga nggak tahu?"


Mama menggeleng, ia menunduk. Sepertinya ini benar-benar rahasia.


"Sebenarnya Robby, mantan kepala pelayan kami yang memberitahu. Dia juga mengancam akan membongkar rahasia ini ke publik."


Mama berdiri karena terkejut dengan ucapanku. Mama menarik tanganku ke lantai atas. Menjauh dari semua orang.


"Apa maksudmu, siapa Robby?"


"Dia teman sepermainan Alan ketika di panti asuhan."


Mama terlihat panik, ia mengigit bibir.


"Kita harus menghentikannya, rahasia ini tidak boleh terbongkar."


"Aku tahu, makanya aku ingin menyelesaikan masalah ini meskipun suamiku tidak mau. Mama bisa nggak memperlihatkan surat adopsi?"


Mama terlihat ragu, aku segera memegang kedua tangannya. Menatapnya supaya percaya padaku.


"Aku akan melindungi Wikra apapun yang terjadi, Ma."


Mama mengembuskan napas berat, kemudian mengangguk. Ia mengajakku ke dalam kamarnya. Memeriksa berkas-berkas.


Aku hanya memfoto berkas tersebut. Ada juga foto Wikra di panti asuhan bersama anak-anak yang lain. Juga foto ketika Mama mengambil Wikra pertama kali.


"Mama tahu sesuatu nggak tentang orang tua kandungnya Alan?"


"Setahu Mama, sebelum masuk panti asuhan Alan diasuh perempuan yang ia percayai sebagai ibunya. Setelah perempuan itu meninggal, Alan masuk panti asuhan. Tapi orang panti sendiri tidak ada yang tahu asal usul Alan yang sebenarnya."


Jadi belum ada kepastian tentang orang tua Alan, pasti Alan sendiri menganggap orang tuanya sudah meninggal.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Fei?"


"Aku ingin menemui Robby, sepertinya dia dendam pada Alan. Apa alasan Mama mengadopsi Alan lalu menjadikannya Wikra?"


Mata Mama berkaca-kaca. "Maaf, kami sengaja menyembunyikan identitas Alan demi menjaganya."


Tidak. Aku yakin ada sesuatu yang Mama sembunyikan. Tapi aku tidak bisa bilang sekarang. Aku akan menyelidikinya sampai tuntas sebelum aku mati.


.


.


...


.


.


bersambung


jangan lupa komen dan pencet like ya manteman. Kalau ada waktu mampir ke akunku di. I N N O V E L. insyaallah aku bakal ikut lomba di sana. 🥺 ngajuin naskah lain kok. bukan cerita ini. Mohon bantuannya tap love novel-novelku di sana. 😭

__ADS_1


Walaupun gagal di sini, aku terus berusaha ikut lomba di manapun. 🙂


__ADS_2