
Ruang UGD itu sepi, bangsal Wikra berada di pojokan. Dekat jendela. Sorot matahari bersinar sampai ke wajah Ezhar yang melihat ke samping. Orang-orang berlalu lalang dengan keluarganya membuat Ezhar tertarik.
"Ini di mana?" tanya Wikra, baru sadar. Kepalanya terasa berat.
"UGD." Ezhar menjawab tanpa menoleh. Matanya masih melihat ke samping. Duduk dan menyangga kepala dengan tangan.
Wajah tampan itu sejenak membuat Wikra mewajari Ezhar menjadi artis. Ia heran kenapa Yifei lebih memilihnya dari pada Ezhar yang baik.
Kepalanya tambah berdenyut memikirkan hal itu, ia tidak berniat berdiri sekarang. Tangannya diinfus dan terasa nyeri.
"Kau tahu, terkadang dunia ini lucu. Kau sudah menyakiti Yifei tapi tetap diberi kesempatan lagi. Seolah Tuhan tidak ingat betapa Yifei dulu sangat terluka."
Wikra tahu bahwa Ezhar tidak menyukainya, berulang kali mencoba menjauhkan Yifei darinya. Benar dulu ia orang brengsek, tapi sekarang dia sudah berubah, janji akan menebus semua kesalahannya di masa lalu.
"Sekarang aku akan membuatnya bahagia," kata Wikra.
Ezhar tidak menjawab, angin berhembus menerbangkan gorden penyekat. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
"Aku memaafkanmu karena kau berhasil membuat Yifei sembuh," ucap Ezhar.
"Yifei belum sembuh sepenuhnya. Aku masih harus berusaha lebih keras lagi."
"Jangan lupa kau juga ayah Ahin, dia butuh kau."
Mendengar itu Wikra tersenyum tipis. "Ah, kau benar. Aku berusaha keras lebih baik darimu supaya Ahin mau mengakuiku sebagai Ayahnya."
"Kau tidak akan bisa lebih baik dariku."
"Hahaha." Wikra tertawa di antara kepalanya yang sakit.
"Aku akan melihat Yifei. Jangan keras kepala dan istirahatlah." Ezhar beranjak. Pergi meninggalkan Wikra tanpa menunggu jawaban.
Sebelumnya mereka tidak pernah mengobrol dengan benar. Baru kali ini mereka bicara baik-baik. Wikra mengembuskan napas berat dan menutup matanya dengan punggung tangan.
Dua minggu setelah operasi, Yifei diizinkan pulang, hampir dua bulan di rumah sakit membuat wanita itu rindu rumah. Ahin terlihat sangat senang hingga melupakan kucing kesayangannya.
"Selamat sudah pulang ke rumah!" Wikra menjentikkan jarinya, balon warna-warni berjatuhan dari atap rumah. Memenuhi ruang tamu.
"Selamat datang ke rumah, Nyonya," ucap para pelayan. Mereka menunduk hormat.
"Mama pulang!" Ahin berlari memeluk Mamanya yang masih duduk di kursi roda.
Kepala Yifei menggunakan tudung karena rambutnya habis, wajahnya masih pucat tapi terlihat lebih baik. Ia memeluk Ahin dengan erat.
"Ahin baik-baik saja kan selama Mama di rumah sakit?"
__ADS_1
"Baik."
Pelukan dilepaskan, di belakang Ahin ada Ila yang menunggu untuk dipeluk juga. Yifei merentangkan tangan, Ila terlihat ragu-ragu memeluk ibu tirinya.
"Kirana sini," ucap Yifei.
Ila tersenyum dan langsung berhambur memeluk. Ia sangat merindukan Yifei seperti yang lain.
"Kangen Mama," katanya.
"Mama juga kangen kamu," balas Yifei.
Semua orang bersuka cita atas kesembuhan Yifei, Wikra pikir semua sudah baik-baik saja. Rupanya efek samping cangkok hati kemarin adalah Yifei terkena hepatitis B.
Ia harus bolak balik rumah sakit lagi, Wikra tidak sempat merancang perusahaan baru yang hendak dia bangun. Waktu dan uangnya habis untuk mengurus Yifei dan anak-anak.
"Fei," ucap Wikra memegang tangan Yifei.
Wanita itu masuk rumah sakit lagi, keadaannya sudah lebih baik setelah operasi, hepatitisnya ditangani dokter terbaik.
"Iya, Mas. Ada masalah apa?" tanya Yifei. Ia melihat raut wajah suaminya yang terlibat bingung.
"Sekarang aku kan bukan CEO Next Media lagi, penghasilan kita cuma dari sahamku di sana. Tapi aku lihat harga saham Next Media turun drastis, bisa jadi perusahaan itu akan bangkrut beberapa bulan yang akan datang."
"Kalau gitu saham Ahin di sana gimana?"
"Mas nggak sayang kalau Next Media bangkrut? Bukankah Next Media perusahaan yang Mas perjuangkan selama belasan tahun?"
Benar, Wikra sangat menyayangi Next Media. Tapi para pemegang saham sudah memecatnya, tidak ada kesempatan Wikra masuk lagi ke perusahaan itu. Para pemegang saham sangat angkuh dan sombong.
Wikra menunduk. Dia bingung, kalau ia melepas sahamnya di sana sama saja dengan mencampakkan Next Media. Hubungannya dengan Next Media akan benar-benar berakhir.
Tapi sepupunya yang kini menjadi CEO tidak bekerja dengan benar, produk baru mereka gagal dan tidak bisa mempertahankan harga saham.
"Kalau ada aset lain, lebih baik jual aset dari pada jual saham Next Media." Yifei menyarankan.
"Kalau Next Media bangkrut, uangku di sana akan hangus."
"Tapi kalau Mas jual saham di sana, kesempatan untuk memiliki Next Media lagi akan hilang. Tolong ikuti saranku, aku tahu Next Media adalah impianmu."
Sebenarnya Wikra juga tidak sampai hati menjual sahamnya, ia sangat menyayangi Next Media. Perusahaan yang dia bangun dengan penuh kebanggaan.
"Baiklah, tapi kalau kita hidup lebih sederhana, apa kamu nggak keberatan?"
"Selama ada Mas dan anak-anak, aku bisa hidup di manapun. Kita juga bisa tinggal di rumah almarhum orang tuaku."
__ADS_1
"Rumah yang dekat rumahnya Ezhar?"
"Iya, tinggal direnovasi dikit."
Rumah dua lantai yang minimalis nan elegan, tanah di sana sangat mahal. Aset satu-satunya peninggalan keluarga Yifei. Tinggal di sana jauh lebih irit dari pada membeli rumah baru di Jakarta.
Memang lebih hemat bila membeli apartemen, tapi Wikra pikir punya rumah yang ada halamannya akan bagus untuk pertumbuhan anak-anak.
"Mas nggak nolak dengan alasan cemburu sama Ezhar, 'kan?"
"Nggaklah, apalagi yang bisa dicemburui, aku sudah menang dari awal."
"Hahahaa."
Empat bulan setelah operasi, Yifei dinyatakan sembuh dari hepatitis B. Namun tetap harus kontrol di rumah sakit seminggu sekali. Keuangan Wikra mulai menipis, ia menjual beberapa aset termasuk rumah mewahnya.
Mereka hanya membawa Neli dan baby sitter di rumah orang tua Yifei yang sudah direnovasi, uang Wikra masih belum cukup untuk membuat perusahaan. Ia memutar otak dan melakukan trading saham.
Setiap malam Wikra hanya berada di ruang kerja, mempelajari trading dan kripto. Biasanya ia memberikan hal seperti ini pada ahli di Next Media, tak menyangka sekarang ia harus melakukannya sendiri.
"Papa, Ahin bantu."
Ahin sebentar lagi berusia 5 tahun, apa yang bisa dilakukan anak balita dalam hal seperti ini? Sekarang habis magrib, waktunya Ahin belajar dan bermain dengan Ila.
"Ahin main aja sama Ila," jawab Wikra setelah memutar kursinya.
Wikra memang kehilangan segalanya, dari mulai perusahaan hingga uang. Harga saham di Next Media terus menurun tapi Yifei bersikeras tidak boleh menjualnya.
Ia harus benar-benar memutar otak untuk menghasilkan uang, demi kesembuhan Yifei yang tidak sedikit biayanya, sekolah anak-anak yang mahal dan kebutuhan rumah tangga.
"Ahin kakak Ila, Ahin anak cowok, Ahin bantu Papa."
Benar kata Yifei, Ahin sangat peka dan berbeda dari anak sebayanya. Ia tahu keuangan keluarga sedang tidak baik.
"Ahin anak baik, sini Papa ajarin, tapi kalau nggak bisa jangan dipaksa."
Wikra mengangkat Ahin dalam pangkuannya, ia mengajari hal dasar tentang saham dan apa itu trading. Ia juga bercerita tentang bisnis yang menghasilkan.
Tidak tahu apakah Ahin paham atau tidak, anak seusianya masih suka mainan mobil. Wikra tidak menuntut Ahin bisa. Hanya saja Ahin mendengarkan dengan sungguh-sungguh seolah mengerti.
.
.
.
__ADS_1
bersambung
author note : cowok yng bekerja keras kayak Wikra tuh keren gk sih 🙂