Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Rencana


__ADS_3

Setelah Wikra berdiri, dia bertatapan dengan Yifei yang membawa mangkuk. Wanita itu menghindari tatapannya, lebih tepatnya mengabaikan.


Angin sore berembus menerbangkan helaian rambut Yifei, sorot mentari memperlihatkan betapa anggunnya wanita itu.


Sebenarnya Wikra ingin bertanya kenapa Yifei makan siang bersama Ezharion. Hanya saja hubungan mereka tidak begitu dekat sampai bisa menanyakan hal seperti itu.


Mantan tetaplah mantan, semuanya terasa begitu aneh jika mereka bisa mengobrol seperti biasa. Namun, sebentar lagi Yifei akan menjadi istrinya lagi, bukankah dia berhak bertanya?


"Fei, kenapa kamu ma-"


"Ahin kita masuk ke dalam, yuk." Wanita itu tiba-tiba memotong ucapannya.


Sepenuhnya mengabaikan dan menganggapnya tidak ada, Yifei masuk ke dalam membawa Ahin. Harga diri Wikra begitu terluka, tangannya mengepal. Namun, dia tidak bisa bersikap kasar lagi di hadapan Ahin atau anak itu anak semakin membencinya.


Wikra meredam emosi dan masuk ke dalam, bertemu dengan Reina, adiknya itu dari dulu juga tidak dekat dengannya. Malah lebih dekat dengan Yifei.


Ia masuk ke ruang tengah melewati Yifei, sebelum naik tangga ia bertemu Mama. "Ma, aku nginep di sini malam ini."


"Mama pikir tadi malem kamu nginep, ternyata nggak. Kamu kemana semalem?"


"Tadi malem aku ada urusan, jadi pulang ke rumah."


Tidak mungkin Wikra mengatakan bahwa tadi malem dia mabuk dan bersama wanita malam di hotel.


"Oh gitu, emang lebih baik mulai sekarang kamu tinggal di sini, biar makin akrab sama Ahin."


"Aku juga mau membahas perintah Papa."


"Perintah Papa yang mana?"


"Nanti aja sekalian nunggu Papa pulang, aku mau mandi dulu."


"Ya udah cepetan mandi sana."


Wikra mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, sekali lagi menoleh ke belakang, Yifei sedang menyuapi Ahin di meja makan.


Bocah itu terlihat menggemaskan, bukannya Wikra tidak sayang, hanya saja kehadiran Ahin membuat hatinya kacau. Di satu sisi dia menyesal karena telah melewatkan momen bersama anaknya, di sisi lain dia marah dengan Yifei yang tidak memberi tahu tentang kehamilannya.


Terkadang saat pikirannya jernih dia marah pada diri sendiri, keputusan yang dia ambil tidak selalu tepat. Dia sadar akan hal itu.


Guyuran air shower membasahi seluruh sel rambutnya. Kepalanya yang dingin mengatakan seharusnya tidak membawa Yumna ke rumah tangganya.


Walaupun dia tidak mencintai Yifei, tetapi wanita itu begitu penurut. Memiliki Yifei yang penurut dan Ahin sebagai putranya sepertinya jauh lebih baik dari pada keadaan sekarang.


Selesai mandi Wikra keluar, melihat Ahin yang mengabaikannya dari kejauhan. Bocah itu merangkai robot yang terlihat rumit. Keningnya berkerut, memangnya bisa anak umur 3,5 tahun merangkai seperti itu?


Wikra mendekat, dia juga mengabaikan Yifei yang duduk di samping Ahin. Momen keluarga kecil adalah menemani anaknya bermain. Walaupun hubungan mereka canggung, tapi Wikra adalah ayah dari Ahin. Ia berhak berada di sisi anaknya.


"Ahin main apa?"


"Obot," jawab bocah itu singkat.

__ADS_1


Robot yang biasa dirangkai anak usia 15 tahun, Ahin sudah pandai merangkainya. Itu terlihat mengagumkan, apakah sebenernya anaknya ini genius?


"Ayah boleh ikut main nggak?"


"Pu!" Ahin menjawab tidak menggunakan bahasa Mandarin.


Mata bocah itu masih fokus ke robot yang sebentar lagi selesai dirangkai, sementara Yifei mengambil potongan buah naga lalu disuapkan ke Ahin.


Secerdas-cerdasnya Ahin, dia tetaplah anak kecil. Tidak mau makan jika tidak disuapi, polos dan terkadang manja.


Wikra menoleh ke Yifei, hatinya masih mengganjal jika tidak menanyakan perihal Ezharion.


"Tadi kau makan siang bersama Ezhar?" tanya Wikra.


"Iya," jawab Yifei singkat.


Kalau dulu Yifei akan menjawab panjang, dia akan menjelaskan kenapa bertemu Ezhar dan meminta Wikra mengerti.


"Jangan menemuinya lagi bersama Ahin," perintah Wikra. Dia berusaha tidak menggunakan nada tinggi seperti biasanya.


"Kau tidak berhak melarang kami bertemu Ezhar," jawab Yifei.


Tiba-tiba Ahin menyela, "Ain suka Om Es." Anak itu berkata tanpa melihat ke mereka berdua.


"Ahin jangan menemui Om Ez lagi ya?" Perintah Wikra.


"Gak mau, Om Es ayahnya Ain!"


Seketika Wikra tersentak, anaknya sendiri menganggap musuhnya sebagai ayah. Dia langsung melempar tatapan tajam ke Yifei.


"Tidak, tapi Ez selalu di samping Ahin dan berperan sebagai ayah."


Mata mereka bertatapan tajam, Wikra ingin menyalahkan Yifei. Namun, dia tidak bisa memulai keributan di depan Ahin.


Tiba-tiba pelayan menghampiri mereka. "Tuan dan Nyonya besar memanggil anda sekalian."


Mereka berdiri kecuali Ahin, saat merangkai barang, bocah itu tidak peduli sekitar.


"Ahin, Bunda pergi dulu. Kamu di sini aja sama Kakak pelayan."


Mendengar perintah ibunya, Ahin mengangguk. Masih tanpa menatap lawan bicaranya.


Wikra berjalan duluan disusul Yifei, pria itu sudah tahu apa yang akan dibahas. Pasti pernikahan ulang antara dia dan Yifei. Bibirnya tersenyum, setelah Yifei menjadi istrinya. Dia bebas melakukan apapun terhadap wanita itu termasuk melarangnya bertemu dengan Ezharion.


Sesampainya di ruang santai, dekat dengan taman. Mereka duduk. Tak ada Reina, di sana hanya ada Papa dan Mama.


"Ada apa, Om?" tanya Yifei.


"Ehem, ini tentang hubungan kalian."


"Juga Ahin," tambah Mama.

__ADS_1


Wikra hanya terima beres, orang tuanya yang mengatur pernikahan kembali dengan Yifei. Semua akan berjalan dengan mudah, itu pikirnya.


"Kami sudah memikirkan hal ini, memang tindakan Wikra di masa lalu sangat keterlaluan. Om sangat minta maaf tidak bisa mendidik Wikra dengan baik. Tapi sekarang Wikra sudah tidak berhubungan dengan wanita manapun sejak kamu pergi."


Bagian itu memang benar, Wikra memang tidak menjalin hubungan spesial dengan wanita lain sejak dikhianati Yumna. Hanya saja Wikra masih sering menggunakan wanita malam untuk memuaskan kebutuhan biologisnya. Orang tuanya tidak tahu hal itu.


"Yifei, apa kamu mau memaafkan Wikra?"


Yifei diam sejenak lalu menjawab, "kesalahan Wikra adalah kesalahan Wikra, Om tidak perlu mewakili dia untuk minta maaf."


Wikra menangkap perkataan Yifei adalah kalau tidak Wikra sendiri yang meminta maaf, maka Yifei tidak akan memaafkannya.


"Wikra, cepat minta maaf!" Bentak Mama.


Mereka memang harus berdamai, bagaimanapun juga kehidupan pernikahan akan begitu canggung jika hubungan mereka tetap seperti ini. Terutama ketika Wikra minta jatah.


"Fei, aku mengaku salah dan minta maaf. Untuk kemarin juga, maaf sudah membentakmu."


Itu tidak sepenuhnya tulus, ada niat tersembunyi di balik permintaan maafnya.


"Aku ingin kau berjanji, jangan berbuat kasar di depan Ahin."


"Aku janji."


Wikra juga paham hal itu, dia tidak ingin semakin dibenci anaknya sendiri.


"Karena kalian sudah berbaikan, bagaimana kalau sekarang kita bicarakan hubungan kalian kedepannya, yakni memberikan keluarga yang utuh untuk Ahin?" tanya Mama antusias.


"Wikra, kamu setuju kan menikahi Yifei lagi?" tanya Papa.


"Aku setuju menikah kembali dengan Yifei."


"Kalau kamu Yifei?"


Wanita itu meremas jemarinya, ia terus membasahi bibir. Terlihat ragu menjawab.


"Aku nggak mau menikah lagi dengan Wikra," jawabnya. Kali ini membalas tatapan mata Papa.


Seketika Wikra menoleh ke samping, melihat Yifei yang sudah menolaknya. Wanita yang selalu menuruti perintah itu kini telah berubah.


.


.


.


.


bersambung


bantu promoin cerita ini ya 😭

__ADS_1


jangan lupa lempar bunga buat Yifei 🙏🥺


makasih banyak


__ADS_2