
Wikra melihat wanita yang ada di depannya, mantan istri yang hampir dia pukul. Tangannya yang sudah berada di udara mengepal. Tatapan mata wanita itu berbeda dari 4 tahun lalu. Tak ada lagi sorot canggung dan ketakutan.
Ia menurunkan tangan, si bocah kecil yang mirip dengannya terus memukuli kaki. Tidak sakit sama sekali. Hanya saja dia merasa miris.
Pertengkaran setelah sekian lama dengan mantan istri, tepat di depan anak yang baru pertama kali dia ketahui keberadaannya. Suasana ini begitu memilukan sampai dia bertanya pada diri sendiri, sejak kapan hidupnya sekacau ini?
Bagi Wikra, keluarga adalah segalanya. Dia yang dibesarkan di panti asuhan, setiap hari berdoa, semoga ada keluarga yang mau mengadopsi.
Wikra tidak mau lagi hidup di jalanan bersama mayat ibunya yang membusuk, mengemis kepada orang lewat supaya jenazah ibunya bisa dimakamkan dengan layak.
Wikra juga tidak mau mengemis hanya untuk sepotong roti atau menunggu orang menjatuhkan makanan. Ia lelah kelaparan berhari-hari hingga hampir mati.
Setelah dibawa ke panti asuhan, setiap hari dia melihat teman-temannya diadopsi. Wikra kecil berharap ada keluarga yang mau mengambilnya juga.
Sayangnya, dia selalu gagal adopsi. Baru sebulan atau paling lama tiga bulan. Orang tua asuhnya mengembalikan dia ke panti asuhan dengan berbagai alasan.
Beberapa kali diambil lalu dikembalikan membuat luka di hatinya, harapan yang membumbung tinggi untuk memiliki keluarga, ketika dia sudah sayang, orang tua angkatnya malah sebaliknya. Berulang kali dia merasa kecewa.
Sebelum masuk SD, Wikra berharap memiliki keluarga. Keinginannya adalah diantar sekolah oleh kedua orang tua, diberikan nasi bekal serta lambaian tangan penuh kasih. Keluarga yang sederhana atau pas-pasan juga tidak masalah. Ia berjanji akan membuat keluarganya bahagia apapun yang terjadi.
Setiap hari dia berharap dan berdoa, hingga datang Zara dan Yuda. Pasangan pengusaha muda, mengadopsinya yang saat itu terlihat murung di jendela panti.
Rupanya tatapan matanya yang memelas menarik simpati Zara, wanita itu tersenyum pada Wikra sebelum masuk ke ruang kepala panti. Setelah itu Wikra dan beberapa anak lain dipanggil, Zara memilih Wikra untuk diadopsi.
"Mulai sekarang namamu Wikramawardhana."
Usapannya sangat lembut di kepala Wikra, membuatnya berharap adopsi kali ini berhasil. Yuda menggandeng tangannya keluar panti menuju mobil.
__ADS_1
Kali ini keluarga yang mengadopsinya orang kaya, mobilnya bagus dan rumahnya besar. Hanya saja, ada satu hal yang tidak boleh dia beritahukan ke orang lain, yakni dia anak adopsi.
Selama sebulan dia bersikap baik dan menuruti semua ajaran Zara dan Yuda, mereka mencuci otak Wikra supaya bersikap seperti anak kandung mereka yang sudah meninggal.
"Di hadapan kakek, kamu harus merajuk. Ngerti?" tanya Zara.
"Ngerti, Ma."
"Terus, jangan tunjukkan kebodohanmu sedikitpun." Tambah Yuda.
Wikra mengangguk. Sebulan pertama dia belum mengerti kenapa harus bersikap seperti itu di depan kakek, dua bulan berikutnya dia sudah beradaptasi. Tiga bulan kemudian dia baru tahu bahwa Zara dan Yuda memiliki anak laki-laki seumurannya yang telah meninggal.
Nama anak itu adalah Wikramawardhana, nama yang sekarang dia pakai. Hatinya sakit ketika mengetahui bahwa dia hanya dijadikan pengganti.
Dia ingin kabur, lari dan bersembunyi. Hanya saja tinggal di panti asuhan lagi bukan keinginannya. Pada akhirnya Wikra hanya bersembunyi di gudang sembari menangis.
Wanita itu berlari memeluk Wikra kecil yang terluka, anak yang menginginkan kasih sayang keluarga tapi malah dijadikan pengganti.
Dari pintu napas Yuda terengah-engah, melihat istrinya menenangkan Wikra.
"Kamu kenapa di sini? Kenapa buat Mama khawatir?"
Sembari berlinang air mata Wikra menjawab, "kalian hanya menjadikanku pengganti."
Mendengar itu Zara dan Yuda tersentak, sekali lagi Zara memeluk Wikra. Mencium kening bocah itu. Padahal mereka merahasiakan hal ini rapat-rapat.
"Kamu bukan pengganti, kamu anak Mama. Mama bisa meneruskan hidup karena ada kamu."
__ADS_1
Mendengar itu tangisan Wikra semakin kencang, hatinya terluka tapi tidak bisa berkata apa-apa. Dia menyayangi Zara yang setiap malam membacakan dongeng. Dia juga bangga memiliki Yuda sebagai ayahnya yang mengajarinya naik sepeda, ini keluarga sempurna yang dia inginkan.
Yuda mendekat, lalu berjongkok di depan Wikra, tangannya terulur mengusap air mata bocah itu.
"Wikra, kamu dan anak kandung kami berbeda. Kami tahu itu. Karena satu hal dan lainnya, kamu harus menggunakan namanya, tapi itu bukan berarti kami menganggap kamu adalah dia. Kamu tetap kamu, dua anak yang berbeda. Kasih sayang dari kami memang untuk kamu, bukan untuk anak kandung kami yang sudah meninggal."
Saat itu Wikra berkata pada diri sendiri, inilah keluarga yang harus dia bahagiakan. Dia akan membuat orang tuanya bangga dengan segala prestasinya sampai melupakan anak kandung yang sudah meninggal.
Namun, tak semudah itu. Anak kandung tetaplah anak kandung dan anak angkat tetaplah anak angkat. Reina lahir dan mencuri semua perhatian kedua orang tua angkatnya.
Belum lagi Yifei, orang luar yang mendapatkan kasih sayang Zara begitu besar. Sampai-sampai Mama angkatnya itu menamparnya di depan semua orang seperti tadi.
....
.
.
.
.
bersambung
mau up dobel gk?
jangan lupa lempar bunga dan kopi. biar semangat nulisnya. makasih banyak 😘
__ADS_1