
Ada alasan dulu Wikra kasar terhadap Yifei, yakni ia menganggap istrinya susah diatur dan terus menemui pria lain. Wikra tidak suka wanitanya seperti itu.
Orang yang setiap hari membuat Wikra terus curiga setiap kali Yifei keluar rumah adalah Ezhar, pria yang bekerja sebagai artis. Menurutnya pria lembek dan suka dandan seperti itu sangat genit. Mereka suka merebut milik orang lain.
"Wah, selamat ya Ez buat fim barunya." Yifei mengucapkan selamat dengan senyum manis.
"Aku nggak nyangka kalian datang, makasih banyak."
Ezhar mengulurkan tangan pada Yifei, melihat itu Wikra segera mengambilnya. Sembari tersenyum, Wikra memegang tangan Ezhar begitu erat, saingan cintanya, Ezhar si penggoda. Harus dijauhkan dari Yifei.
"Selamat atas film barumu, istri dan anakku sangat ingin melihat filmmu," ucap Wikra menekan kalimat istri dan anak.
Tak mau kalah, Ezhar balas mempererat jabatan tangan mereka hingga sama-sama berurat.
"Mereka sudah seperti keluargaku sendiri, sudah pasti bahagia di hari spesialku."
"Ha - ha - ha," balas Wikra.
Mata mereka beradu, Yifei yang melihat jabatan tangan mereka begitu lama heran. Dua orang terdekatnya itu seperti sedang bertarung dalam diam.
"Om Es, ain kangen." Teriakan Ahin membuat jabatan tangan mereka lepas.
Dua pria dewasa itu sama-sama merasakan tangan yang sakit, berusaha menyembunyikannya dari Ahin dan Yifei.
"Om juga kangen banget sama Ahin," jawab Ezhar.
"Aku udah pesen tiket filmu." Yifei menunjukkan tiga tiket.
"Film ini nggak cocok buat Ahin, ada adegan kekerasan dan humor dewasa."
"Yahhh gimana dong? Ke sini padahal niatnya buat nonton film kamu."
Mendengar mereka tidak jadi menonton film membuat Wikra senang, dalam hati ia tertawa kemenangan. Seperti telah diberikan mahkota oleh Tuhan. Otomatis bisa menang dari Ezhar.
"Sayang sekali," ucap Wikra pura-pura kecewa. Dia merangkul bahu Yifei. "Mumpung udah di sini, ayo jalan-jalan aja. Ahin pasti pingin main. Hhmm?"
Ahin yang menggandeng tangan Ezhar seperti tidak mau lepas, dia cemberut. Mengerti maksud ucapan orang dewasa, acara nonton filmnya Om Ez gagal.
"Gimana ya Ez, sebelum pergi kita foto bareng aja ya."
Yifei menyarankan. Dia melihat di belakang Ez ada poster film yang sangat lebar dan bagus untuk foto.
"Ayo, tolong yang Bang Wikra fotoin kami."
Ezhar tersenyum lebar menaruh Yifei dan Ahin ke sisinya. Mereka seperti keluarga. Membuat Wikra melotot tidak terima.
__ADS_1
"Aku juga ingin foto bareng," ucap Wikra. Dia menoleh ke belakang, melambaikan tangan pada salah satu pengawalnya sembari menyerahkan ponsel.
Pada akhirnya Wikra berfoto bersama Ezhar, ia merasa begitu jijik sampai sekujur tubuhnya merinding.
"Kami pergi dulu," ucap Wikra sembari mengangkat Ahin dalam gendongannya. Supaya Ahin lepas dari Ezhar.
"Om Es!" Ahin tidak mau dan terus memanggil Ezhar.
"Sepertinya aku bisa menemani kalian bermain dulu sebelum filmku diputar," kata Ezhar menawari.
"Nggak usah repot-repot, kami bisa main sendiri." Wikra menolaknya dengan tegas.
"Ain main Om Es!" Ahin terus meronta.
Yifei menyela, "beneran nggak ganggu kamu, Ez?"
"Iya, nggak papa."
Mereka jalan berempat, Wikra tidak mau menyerahkan Ahin untuk digendong Ezhar. Dia berbisik ke Ahin yang rewel setelah melihat Yifei dan Ezhar asik ngobrol.
"Kamu anak pintar, kalau kamu nggak mau digendong Papa. Besok lagi, Papa nggak bakal izinin kamu sama Mamamu ketemu Om Ez."
Bukannya menangis seperti anak balita kebanyakan jika keinginannya tidak terpenuhi. Ahin malah menyipitkan matanya dengan tajam. Ia menyilangkan tangannya di dada. Tidak mau merangkul leher Wikra.
"Wikla jahat," katanya.
"Kulang." Bocah itu bernegosiasi.
"Laptop dan rumah-rumahan untuk Miao?"
"Kulang!" tawar bocah itu lagi.
Kali ini Wikra berpikir keras apa yang disukai Ahin.
"Baju baru untuk Mamamu," tawar Wikra lagi.
"Pelhiasan, mobil juga." Ahin masih menawar.
"Oke, laptop, rumah kucing, baju dan perhiasan dan mobil. Deal?"
"Til," ucap Ahin. Setuju memanggil papa dengan bayaran.
Wikra sampai heran, bagaimana bisa anaknya sangat mirip dengannya? Untuk memanggil papa saja harus pakai uang. Anak yang sangat realistis dan matre. Ahin cerdik. Wikra harus berhati-hati berhadapan dengan bocah kecil ini.
"Papa!" Ahin berteriak. Dia mau merangkul leher Wikra sembari tersenyum.
__ADS_1
Untuk mendapatkan panggilan itu Wikra harus mengeluarkan uang ratusan juta, bersyukur dia memiliki banyak uang. Jika tidak ia akan mati diperas anaknya sendiri.
Teriakan itu membuat Yifei menoleh, tersenyum melihat Ahin pertama kalinya memanggil Wikra dengan Papa.
"Wah, Ahin udah mau manggil Papa." Yifei tampak senang.
"Papa! Papa! Papa!" Anak itu pintar sekali akting.
Wikra melempar senyum kemenangan ke Ezhar, merasa menang dengan mendapatkan panggilan Papa dari Ahin.
"Iya, putraku yang sangat lic-- cerdas." Wikra mengusap rambut Ahin.
"Papa, main tu." Ahin menunjuk mandi bola.
Mereka sudah berada di permainan anak, Wikra menurunkan Ahin yang langsung berlari ke arah mandi bola.
"Aku nemenin Ahin dulu," kata Yifei. Langsung membelikan tiket untuk mereka semua.
Sebenarnya hanya Wikra dan Yifei yang boleh mendampingi Ahin masuk, tapi Ezhar menggunakan pesonanya untuk mendapatkan tiket.
"Masak aku nggak boleh ikut?" tanyanya memelas pada petugas.
"Kyaaakk ganteng banget! Boleh boleh." Petugas itu langsung memberikan tiket pada Ezhar.
"Makasih banyak, aku nginget kamu selamanya." Ezhar mengedipkan mata. Si mbak tukang tiket langsung kesulitan bernapas saking bahagianya.
Para wanita di sekitar mereka memotret Ezhar, pria tampan itu hanya melambaikan tangan sembari tersenyum. Begitu pun sudah membuat para wanita tergila-gila.
"Cih, tebar pesona." Julid Wikra. Bibirnya menyungging satu.
"Ayo masuk," kata Yifei.
Mereka berempat mandi bola, bermain bersama Ahin dan membuat bocah itu gembira.
"Apa kamu senang?" tanya Wikra pada Yifei.
"He.em, aku senang." Wajah wanita itu tersenyum lebar sembari melihat Ahin yang sedang bermain dengan Ez.
"Aku akan membawamu liburan setiap akhir pekan, jadi menikahlah denganku selamanya!" Wikra mengeraskan suaranya di antara orang-orang yang bermain.
Yifei menoleh karena terkejut, melihat senyum cerah Wikra yang begitu manis. Pria itu serius mengajaknya menikah selamanya.
.....
bersambung.
__ADS_1
maafkan. kayaknya cerita ini terkontaminasi Bayi Bos di K B M. App. Genrenya kenapa berubah jadi berubah komedi gini? Mana air matanya?! Padahal niatnya mau buat air mata sampe tamat (╥﹏╥)
jangan lupa lempar bunga gaes