
Setelah Wikra keluar dari ruangan dengan perasaan lega, Yuda yang sedari tadi hanya diam melihat anak angkatnya, kini berjalan ke depan dan menepuk meja, menghentikan semua orang yang sedang berdebat menurunkan Wikra dari posisi CEO.
"Kalian mau untung atau rugi?" tanya Yuda tiba-tiba. Pria paruh baya itu terlihat sangat tenang seolah tahu apa yang akan dilakukan Wikra hari ini.
"Tentu saja untung!"
"Apa kau sedang bercanda?!"
"Kalau begitu jadilah tahu diri, uang kalian bisa berlipat ganda karena kerja kerja anak itu. Apa kalian pikir dengan mengganti CEO saham tidak akan turun?"
Mereka mulai diam, berpikir hal yang sama. Dulu Next Media hanyalah perusahaan parabola yang kecil, produknya hanya dibeli di pulau Jawa, sejak Wikra masuk perusahaan, Next Media berkembang sangat pesat hingga menjadi perusahaan media nomor 1 di Indonesia.
Produk yang keluar tidak pernah gagal, selalu habis di pasaran, mereka juga merambah ke majalah, stasiun televisi dan radio.
"Aku minta maaf telah berbohong, tapi aku tidak pernah menyesal karena Wikra mengganti uang kalian berkali-kali lipat. Kalau kalian berpikir anak itu tidak pantas menjadi CEO, maka turunkan saja dia, tapi jangan menyesal kalau Next Media nanti tidak segagah sekarang."
"Tapi dia bukan bagian dari keluarga kita! Dia bukan anakmu!"
Mendengar itu Yuda tersenyum. "Sebelum aku mengadopsinya, ia bernama Alan, anak cerdas yang menggetarkan hati kami untuk menjadikannya keluarga. Memang tidak benar karena menggantikan posisi Wikra putra kami.
"Tapi setelah mengganti nama Alan menjadi Wikra, kami bisa membedakan bahwa dia anak kami yang lain, ini Wikra yang lain yang tidak dilahirkan dari DNA kami, Tuhan menghadirkan dia untuk kami rawat dan jaga. Kami didik, kami sayangi. Kami takut ia direndahkan jika orang-orang tahu dia bukan anak kandung.
"Namun, hari ini aku tahu, dia sudah dewasa dan bisa memilih keputusannya sendiri, dia tidak perlu kami jaga lagi, malah sebaliknya, dia yang telah menjaga kami. Apapun keputusan kalian, dia tetap putraku."
Yuda mengakhiri perkataannya tanpa seorang pun yang menyanggah, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membantu Wikra yang sudah memilih jalan hidup.
Sebagai seorang ayah yang sudah membesarkan Wikra, ia menghargai setiap keputusan anaknya. Pasti butuh keberanian besar membuat keputusan yang sangat sulit.
Sementara itu di tempat lain, Wikra mengajak anak-anak ke rumah sakit menjenguk Yifei setelah pulang ganti baju.
"Mama es krim," ucap Ahin. Ia memberikan kantong plastik berisi es krim yang tadi dibeli Wikra di jalan.
Kalimat itu membuat Yifei terkejut, Ahin bisa ngucap R. Padahal mereka pikir masih butuh waktu lama. Pasalnya Ahin berbeda dari anak seusianya.
Tubuh Ahin pendek, sedikit gemuk tapi otaknya cerdas. Perkembangan fisiknya lebih lambat dari anak seusianya. Tingginya setara Ila yang lebih muda.
Kantung plastik itu diletakkan di atas paha, Yifei sudah makan siang dan sedang membaca buku Mandarin sebelum keluarga kecilnya datang.
"Coba ulangi lagi," pinta Yifei.
"Mama es krim."
Tangan Yifei terulur mengusap kepala Ahin penuh sayang, Ila mendekat dan ingin dielus juga.
__ADS_1
"Ma, Ila mimpi buruk." Ahin mengadu.
Yifei mengangkat Ila ke pangkuannya, anak pendiam itu menunduk. Dia jarang bicara setelah pulang dari Amerika.
"Ila mimpi buruk?" tanya Yifei lembut.
Ila mengangguk. "Ila gak mau tidul."
Mendengar itu Yifei menoleh ke arah Wikra, suaminya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
"Mungkin hanya mimpi buruk biasa, nggak usah terlalu dipikirkan." Wikra mengambil es krim di sudut ranjang Yifei.
"Gimana kalau psikis Ila terganggu karena kejadian kemarin?" tanya Yifei menanggapi serius.
"Nggaklah, dia baik-baik saja kok. Nanti juga baikan. Kamu nggak usah khawatir dan fokus sama penyembuhan."
Yifei mengembuskan napas berat, takut terjadi sesuatu pada anak-anaknya. Sudah hampir sebulan dia berada di rumah sakit. Melewati pengobatan menyakitkan demi mendapatkan cangkok hati.
"Oh ya gimana tadi?"
"Lancar, aku udah bicara jujur. Kalau pun aku dipecat, kayaknya aku nggak nyesel."
"Kamu bisa mendirikan perusahaan sendiri, 'kan?"
Yifei mengacungkan jempol. "Kamu keren."
"Papa keren!" Ahin ikut mengacungkan jempol.
"Kelen." Ila ikutan.
Mendengar itu Wikra tersenyum, ia makan es krim dengan santai bersama keluarga kecilnya. Seolah permasalahan di kantor tidak pernah ada.
Sekarang Wikra ingin fokus mencurahkan perhatian pada keluarga yang pernah dia sia-siakan. Kalau Yifei, Ahin dan Ila tidak datang di hidupnya, ia pasti masih sesat seperti dulu.
Keesokan harinya hal-hal baik terus terjadi, tes HLA sudah keluar dan hasilnya bagus. Pak Ilyas bisa menjadi pendonor untuk Yifei.
Mama yang tadinya marah terhadap Wikra kini malah berterima kasih, ia ikut senang karena akhirnya Yifei bisa dioperasi. Meskipun kata Dokter Yifei tidak sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya itu menambah semangat semua orang.
Tiba di hari operasi, Wikra menunggu di depan ruang operasi hingga berjam-jam. Reina datang setelah diminta Wikra membawa anak-anak ke rumah orang tua mereka. Wikra ingin fokus pada Yifei.
"Sekarang anak-anak di mana?" tanya Reina, baru tiba.
"Mereka sedang makan siang di kantin rumah sakit sama baby sitter, bentar lagi balik." Wikra masih duduk dengan gelisah.
__ADS_1
Reina ikut duduk di samping kakaknya, hubungan mereka memang biasa saja, jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
"Kakak nggak makan?" tanya Reina lagi.
"Belum lapar." Wikra membasahi bibir. Kakinya terus bergerak. Ia takut operasinya gagal dan Yifei meninggal.
Reina memegang paha Wikra yang terus bergetar, membuat pria itu menoleh. Tatapan Reina yang iba membuat Wikra tertegun.
"Kalau Kakak sakit, siapa yang jaga Kak Yifei dan anak-anak?"
"Aku nggak papa," jawab Wikra.
Reina memeluk kakaknya dari samping, belum pernah adiknya itu semanja ini sejak SMP. Mereka sering bertengkar sejak Reina menginjak remaja. Tidak suka kakaknya yang overprotektif dan bahkan pernah berkata kasar mengusir Wikra.
Wikra tidak lagi mengurusi Reina dan fokus pada perusahaan, hubungan mereka renggang sampai sekarang.
"Rei, aku bukan Kakak kandungmu. Apa kamu nggak kecewa?" tanya Wikra. Tidak menepis pelukan Reina di tubuhnya.
"Aku kecewa karena kalian nggak jujur sama aku."
Pelukan Reina sedikit membuat Wikra tenang.
"Kita nggak ada hubungan darah, apa kamu masih menganggap ku kakakmu?"
"Kakak tetap kakakku yang bawel sekalipun nggak ada hubungan darah, jadi kalau Kakak sedih aku juga ikut sedih."
Terasa nyeri di sudut hati Wikra, keluarga angkatnya tetap menyayanginya apapun yang terjadi. Wikra merasa dia benar-benar Wikra meskipun tanpa hubungan darah.
"Bagaimana keadaan Yifei?!" Ezhar baru datang dengan napas naik turun. Keringat bercucuran.
Reina segera melepas pelukannya pada Wikra.
"Dia masih di dalam." Wikra menjawab sembari menoleh ke pintu ruang operasi.
Ezhar terlihat sangat khawatir, ia mendekat ke pintu ruang operasi dan menyentuhnya.
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
kalau temen-temen punya I N N O V E L, tolong bantu pencet love karya Sweet Struggle. karyaku itu ikut lomba di sana 🤧