Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Peringatan


__ADS_3

Aku pernah memimpikan surga dalam rumah tangga, suami yang penuh cinta dan anak-anak yang menggemaskan. Saat Wikra menyebut namaku saat ijab kabul, dunia begitu indah hingga dadaku seperti dipenuhi kelopak bunga.


Pria yang aku idamkan selalu hadir di mimpi dan bayangan. Setiap Wikra muncul di televisi atau koran, aku pasti akan membelinya dengan penuh rasa kagum.


Saat Tante Zara mengatakan akan menjodohkan kami, pipiku terasa panas hingga merona. Aku begitu senang sampai berpikir kalau sedang bermimpi.


Kami tidak berbicara sepatah katapun sebelum pernikahan, kupikir dia juga setuju dengan perjodohan ini. Kalimatnya saat ijab kabul begitu lantang tanpa bergetar sedikitpun.


Ternyata aku salah, setelah resepsi selesai sikapnya tambah dingin. Mengabaikanku sebagai istrinya. Wikra tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya.


Dia sering pulang dalam keadaan mabuk, sering membentakku, dan tidak memberikan surga pernikahan yang aku impikan.


Saat itu aku masih berpikir bahwa Wikra akan berubah, asal aku terus bekerja keras, dia akan jatuh cinta denganku. Tapi sampai akhir cintaku tetap sia-sia. Wikra tidak mencintaiku sekalipun aku sudah mencurahkan segalanya.


"Bunda, Ain dah celesai."


Lamunanku buyar ketika Ahin memberikan sikat giginya, bocah itu terus menguap. Aku membantunya turun dari kursi, memegang tangannya hingga naik ke ranjang. Setiap mau tidur Ahin harus dielus kepalanya, itu adalah kebiasaan. 


Setelah Ahin tertidur, aku menatap langit-langit kamar. Memegang bibir bekas ciuman Wikra. Air mataku menetes ke samping, terisak dalam diam. Dia sangat kejam membuatku mengingat semua luka dan rasa cinta lagi. 


Aku bodoh mencintai orang yang telah menaburkan luka, cinta tidak bisa berbohong sekeras apapun aku mengelak. Sampai aku bisa merasakan ke seluruh tubuhku. Jantungku masih berdebar ketika dia menempelkan bibir kami. Masih seperti dulu, dia sangat lihai.


Namun, aku tahu bahwa cinta tidak harus memiliki. Dia bukan pria baik yang bisa mencintaiku dengan tulus. Aku harus menjauhinya supaya tidak terluka lagi. 


Setelah kejadian semalam aku mengabaikan Wikra sepenuhnya, tidak peduli apapun yang dia katakan atau lakukan. Tujuanku ke sini hanya untuk menitipkan Ahin kepada Tante Zara. Bukan berhubungan dengan Wikra lagi. 


"Fei, hari ini kita ke rumah kerabat yuk. Mumpung Wikra libur," ajak Tante Zara. Beliau sudah rapi dengan pakaian bepergian. 


Wikra yang sudah rapi dengan kemeja biru datang menyela, "kita harus mengenalkan Ahin ke kerabat."

__ADS_1


Kalau itu untuk Ahin sepertinya aku harus setuju, mendapatkan pengakuan dari keluarga Wikra adalah tujuanku ke sini. Sebenarnya aku bersyukur karena Wikra dan orang tuanya tidak meragukan Ahin. Awalnya aku pikir mereka akan meminta tes DNA, terutama Wikra yang dari dulu membenciku. 


"Aku gantiin Ahin baju dulu," kataku sembari berdiri. 


"Mau aku bantu nggak?" tanya Wikra.


"Gak mau!" Ahin mendorong Wikra menjauh lalu memelukku. 


Aku mengembuskan napas berat, sadar bahwa Ahin sangat tidak menyukai Wikra. Kalau seperti ini terus bisa repot, karena suatu hari nanti aku akan meninggalkan Ahin bersama Wikra. 


"Buat sekarang kayaknya Ahin belum bisa, coba dekati Ahin lagi nanti."


"Kau harus lebih berusaha, Wikra." Tante Zara menepuk pundak Wikra. 


Aku membawa Ahin masuk kamar, menggantikan bajunya. Saat ini aku harus membuat Ahin terbiasa dengan keluarga ini, supaya saat aku pergi dia tidak kesepian. Aku menyisir rambutnya, anakku sangat tampan sampai ingin aku dekap erat. 


Dulu, ketika aku meninggalkan keluarga ini untuk hidup berdua dengan Ahin. Kupikir bisa melihatnya tumbuh besar, bersekolah dan menikah. Ternyata aku hanya bisa mendampinginya sampai berumur 4 tahun, waktu yang sangat singkat.


Aku menggeleng, "Bunda nggak sedih, Ahin coba panggil ayah, jangan panggil nama."


Balita itu menggeleng, menolak perintahku. 


"Ayah Ahin Om Es!"


Sepertinya ini akan sulit, Ahin tetap tidak mengakui ayahnya sendiri walaupun sudah bertemu. Aku hanya bisa mendesah berat, waktuku tidak banyak untuk membuat Ahin dekat dengan ayahnya. 


"Ahin kasih makan Miao dulu, Bunda mau ganti baju."


Ahin mengangguk dan keluar kamar, dasi kupu-kupu yang dia kenakan terlihat sangat cocok. Pada dasarnya Ahin mewarisi wajah tampan ayahnya, jadi pakai apapun terlihat bagus. 

__ADS_1


Aku berdandan dengan cepat, riasan tipis dan parfum. Satu hal yang harus selalu aku ingat, yakni minum obat. Kemarin aku sempat ingin memberitahukan kebenaran tentang penyakitku. Namun, Wikra memotong ucapanku. Setelah kupikir lagi, sepertinya aku harus menutupi penyakit ini sampai Ahin benar-benar diterima.


Selesai berdandan aku keluar, menghampiri semua orang yang sudah siap pergi. Terlihat Ahin masih didekati Wikra, bocah itu terlihat tak acuh.


"Kamu cantik," puji Wikra. 


Ini pertama kalinya dia memujiku, terasa tidak tulus. Aku mengabaikannya dan menggandeng tangan Ahin, kami berjalan keluar dan naik mobil.


Aku, Ahin, Wikra, Om Yuda dan Tante Zara. Setelah Ahin masuk duluan dan duduk di depan dengan Uty dan Opanya. Aku berbalik dan memberi peringatan ke Wikra. 


"Mas hanya perlu dekati Ahin, jangan menggangguku lagi, aku tidak ingin menikah denganmu, jadi jangan membuang-buang waktu."


Aku ingin dia berhenti dan fokus ke Ahin saja karena hubungan kami sudah berakhir 4 tahun lalu, aku menyerah dan tidak ingin kembali mengulang luka yang dulu. 


"Aku akan membuatmu mau menikah lagi denganku," balasnya sangat percaya diri. 


Wajahnya mendekat dengan seringai menggoda, membuat wajahku otomatis mundur atau kami akan berciuman lagi.


.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


Jangan lupa pencet like, komen dan lempar bunga ya. 🤧🙏


kalau menurut kamu cerita ini menarik, tolong share cerita ini ke temen, sodara, sepupu suami, istri pacar, mantan, selingkuhan, bude, pakde, tetangga, musuh dll. 🥺🙏 semakin banyak yg baca semakin semangat buat update 🤧


__ADS_2