Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Pergi


__ADS_3

Sekarang aku bingung harus ke mana, tidak ada tujuan. Hingga ada telepon dari Ezharion, sahabatku yang merupakan artis terkenal.


"Fei, kamu di mana sekarang?"


"Aku lagi di jalan."


"Mau ke mana?"


Aku diam, tidak tahu harus jawab apa.


"Aku dengar kamu diusir Wikra, apa kamu ada tujuan?"


"Aku nggak ada tempat tujuan," jawabku sembari menunduk.


"Kamu diam di situ, biar aku jemput."


"Baiklah," kataku.


Telepon dimatikan, aku minta berhenti di pinggir jalan. Menunggu Ez datang sembari memegang perut, aku lapar dan kepalaku pusing. Usia kandungan ini sebentar lagi memasuki 4 bulan.


Sangat telat dalam mengetahui usia kandungan, berarti aku hamil saat usia pernikahan baru 3 bulan. Saat itu Wikra masih sangat membenciku dan sikapnya kasar. Beruntung anak ini tidak apa-apa.


Aku menduga anak ini perempuan karena begitu tenang, aku tidak mengalami gejala ibu hamil. Hanya porsi makanku lebih banyak hingga lebih gemuk.


Aku pikir perutku sedikit buncit karena kebanyakan makan, ternyata ada anak Wikra di dalam sini. Bibirku tersenyum. Membayangkan hidup bahagia bersama anak yang mirip Wikra, sepertinya itu luar biasa.


Tak lama kemudian mobil menghampiriku, seorang pria jangkung memakai masker keluar mobil. Melihat kanan dan kiri takut ada yang mengenali.


"Ez, apa kamu nggak sibuk?"


"Aku sibuk banget sampai batalin semua jadwal buat jemput kamu, cepet masuk."

__ADS_1


Ezharion mengambil koperku, memasukan ke bagasi. Aku segera masuk di jok depan. Memakai sabuk pengaman dengan santai.


"Aku bakal ngasih pelajaran ke Wikra, biar aku hajar dia di depan kamu!"


Aku memegang tangan Ezharion yang berada di stir, menghentikan dia putar balik ke rumah Wikra. Aku menggeleng.


"Dia udah nikah sama Yumna, aku bisa apa? Ah, dunia emang kayak gini. Kamu nggak usah marah."


"Dari dulu kamu emang gila, Fei! Bisa-bisa kamu santai saat suamimu direbut j*lang?!"


"Mau dia sama siapapun aku nggak peduli, yang aku peduliin apakah dia cinta sama aku atau nggak. Dia bilang nggak bakal jatuh cinta sama aku sekalipun ada anak. Berarti aku harus nyerah, 'kan?"


Ezharion diam sejenak, kepalanya menoleh sepenuhnya. Melihatku dengan kening berkerut. "Kamu hamil dan Wikra tetap ceraikan kamu?"


Aku mengembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaannya. "Wikra nggak tahu aku hamil."


"Kenapa nggak ngasih tau?"


"Benar-benar gila! Orang kayak dia harus dikasih pelajaran!"


"Udahlah, Ez. Aku lelah dan laper. Aku udah nyerah sama dia, nggak mau berhubungan lagi."


"Kalau gitu, apa kamu ada rencana mau tinggal di mana?"


"Wikra ngasih uang banyak, cukup buat aku hidup berdua sama anakku. Aku pingin nyari tempat yang jauh dari Jakarta dan hidup tenang."


Ezharion diam sejenak. Terlihat berpikir.


"Aku punya Bude di Lampung Timur, pesisir pantai, tempatnya tenang dan nyaman. Apa kamu mau ke sana? Biar sekalian budeku yang ngurus persalinanmu."


Aku mengangguk, senang memiliki sahabat seperti Ezhar yang selalu bisa diandalkan. Kami menuju restoran sebelum mengantar aku ke bandara.

__ADS_1


Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal Wikra. Aku merasa bersalah karena belum pamitan dengan ibunya Wikra. Nanti aku akan mengirim pesan sebelum berangkat.


"Setelah turun dari pesawat, bakal ada orang yang jemput kamu."


"Iya, aku ngerti. Makasih banyak ya bantuannya."


"Kalau ada apa-apa kamu harus hubungin aku."


"He.em. Oh iya, kalau Wikra tanyain aku ada di mana, tolong jangan kasih tahu."


Mendengar itu Ezhar terdiam. Hubungan mereka tidak baik. Ezhar adalah orang yang menentang pernikahanku dengan Wikra. Katanya pria sombong itu tidak cocok denganku. Tetapi aku bersikeras untuk tetap menerima perjodohan.


Mereka juga sering bertengkar karena Wikra tidak memperlakukanku dengan baik.


"Ah, Wikra nggak mungkin nanyain aku. Kalau gitu aku pergi dulu, selamat tinggal Ez."


Aku melambaikan tangan, menuju gate penerbangan domestik.


"Lebaran nanti aku bakal ngunjungin kamu," katanya sedikit berteriak.


"Aku tunggu, jangan lupa bawa oleh-oleh."


Aku pergi, meninggalkan masa lalu tanpa niat kembali lagi. Berharap memiliki kehidupan baru yang menyenangkan bersama anakku. Tanpa berharap bersama Wikra ataupun bergantung pada keluarganya lagi.


Lagi pula sebelum menikah aku memiliki pekerjaan, yakni menerjamahkan buku bahasa Mandarin. Juga uang yang diberikan Wikra lebih dari cukup untuk membiayai sekolah anak kami hingga perguruan tinggi.


Tadinya aku pikir semuanya berjalan lancar, meskipun Ahin sempat dituduh sebagai anak haramnya Ezharion. Kami berhasil mengelak setelah Ezhar membawa surat cerai Wikra dan aku.


Status Ahin pun jelas di mata masyarakat, kami tidak memedulikan omongan miring lagi dan hidup tenang.


Melihat Ahin tumbuh besar dan mirip Wikra membuatku sangat bahagia. Kupikir kebahagiaan itu abadi. Ternyata Tuhan membuatku harus berpikir lebih dini tentang kematian.

__ADS_1


Pertanyaannya, kalau aku mati, siapa yang merawat Ahin? Budenya Ez sudah tua. Tidak mungkin Ez karena dia masih lajang. Aku terus berpikir hingga teringat kembali dengan kasih sayang ibunya Wikra.


__ADS_2