Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Bersiul


__ADS_3

Wikra yang ditinggal sendirian memukul bantal beberapa kali sebelum masuk ke kamar mandi, dia sangat kesal karena harus main solo. Padahal tinggal sedikit lagi tapi kenapa Ahin malah bangun?


"Aku tidak mau nambah anak," ucapnya sembari memandikan burungnya.


Setelah selesai dengan urusannya, ia kembali ke kamar. Melihat Yifei sedang menidurkan Ahin. Bocah pengganggu itu menang, wajahnya lelap dengan tepukan ringan di pan tat.


Matanya bertatapan dengan Yifei, sejurus kemudian Wikra memalingkan wajah, ia masih kesal karena Yifei meninggalkannya di saat sebentar lagi mencapai puncak.


"Ma-af." Yifei berbisik.


"Hmm." Wikra tidak menghiraukan, ia tidur membelakangi Yifei dan Ahin di kasur king size.


Anak dan ayah itu tidur dengan pulas sampai subuh. Tidak sadar saling berpelukan. Yifei yang bangun duluan tidak tahan untuk mengabaikan momen melalui kamera.


"Lucu banget sih mereka," ucapnya. Dia mengambil beberapa foto.


Yifei melihat jam sudah hampir jam 5. Azan subuh sudah terdengar. Dia harus mandi wajib dan shalat.


Rupaya gerakannya disadari Wikra, pria itu duduk sembari menguap. Melihat Yifei yang baru bangun dan Ahin yang masih tidur.


"Udah mandi wajib belum kamu, Mas?"


"Belumlah," jawab Wikra terlihat masih kesal dengan kejadian semalam.


"Ya udah aku mandi duluan," ucap Yifei. Ia turun dari ranjang.


Wikra mengikutinya dari belakang, membuat Yifei heran dan berbalik hampir membuat Wikra menabraknya.


"Kenapa ngikutin?" tanya wanita itu.


"Tuntasin yang semalam, yuk."


"Nanti Ahin bangun," jawab Yifei sembari melihat ke Ahin yang masih terlelap.


"Bentar aja, ingat kamu udah janji mau bantuin? Kalau nggak tuntas bisa-bisa aku nggak tahan dan jajan di luar."


"Kamu tuh apa nggak takut kena penyakit sih?" tanya Yifei kesal.


"Takut, tapi mau gimana lagi? Orang pingin."


Yifei memutar bola matanya jengah, alasan Wikra selalu saja tidak bisa menahan diri. Kalau mau Wikra tetap sehat supaya bisa menjaga Ahin maka ia harus menjaga Wikra.


"Bentar aja tapi, ya?


"Iya, janji."


Yifei masuk ke kamar mandi bersama Wikra, mandi bersama sekaligus menuntaskan pekerjaan mereka semalam. Kali ini Wikra mendapatkan keinginannya di bawah air shower.

__ADS_1


"Shalat subuh, Mas."


"Males," jawab Wikra. Pria itu memakai handuk.


"Kalau gitu besok aku nggak mau ngasih jatah lagi," ucap Yifei menyilangkan tangan di dada.


Sekarang wanita itu sudah berani menyuruhnya, tatapan tajam seolah bisa memakannya bulat-bulat kalau ia tidak menurut.


"Aku bisa jajan di luar," jawab Wikra. Masih bersikeras.


Yifei berubah marah. "Oke, kalau gitu aku bawa Ahin pergi. Perjanjian kita batal."


Mungkin karena sudah berubah jadi emak-emak, Yifei tidak lagi lemah lembut, jiwa ngototnya sebagai perempuan keluar. Tidak mau kalah kalau keinginannya belum dipenuhi, bisa mengancam balik juga. Membuat Wikra kalah.


"Ck."


"Cepet wudhu," perintah Yifei, menunjuk kran air.


Dulu Wikra adalah bosnya, kini ia tidak berdaya di depan Yifei. Bagaimana bisa hal ini terjadi?


Pada akhirnya Wikra shalat subuh setelah sekian purnama, dia sudah lupa kapan terakhir shalat, mungkin lebaran.


Pagi itu semua berjalan seperti biasa, Wikra melupakan kejadian shalat dan bersiul karena sudah diberi jatah Yifei. Kalau begini dia tidak akan segan lagi minta.


"Papa akan pulang cepat, akhir pekan ini kita akan jalan-jalan." Wikra berjongkok, menyeimbangi tubuh Ahin.


Bocah itu terlihat belum terbiasa dengan Wikra, tapi kepala kecilnya mengangguk.


"Jaga Mama mu baik-baik waktu Papa nggak di rumah, Ahin bisa 'kan?" tanya Wikra sembari mengulurkan kelingkingnya.


Ahin tampak ragu menerima kelingking itu, ia mendongak ke atas. Menatap mamanya. Yifei mengangguk sembari tersenyum.


Perlahan Ahin menautkan kelingking tangan Wikra, matanya masih tidak mau menatap sang ayah.


"Papa berangkat kerja dulu," ucap Wikra sembari mengacak rambut Ahin.


Bocah itu memeluk kaki mamanya tanpa mau melihat Wikra, dia masih malu. Wikra berdiri.


"Aku berangkat dulu," kata Wikra.


Yifei menunjuk keningnya sembari memberi isyarat supaya Wikra mau mencium di sana.


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan." Yifei mengedipkan mata.


"Iya sayang, sini cium dulu." Wikra mencium kening Yifei di hadapan Ahin. Bocah itu mengamati hubungan orang tuanya yang sangat harmonis.


Berangkat ke kantor setelah salim ke anak dan istri, ada ciuman pagi juga. Suasana hati Wikra sangat baik sampai ia tersenyum kepada semua karyawan yang menyapanya.

__ADS_1


Pekerjaan yang berat terasa ringan dan langit yang mendung terlihat cerah di matanya. Wikra baru tahu sangat menyenangkan memiliki keluarga.


Ia ingin buru-buru pulang, bermain dengan Ahin dan sayang-sayangan dengan Yifei. Ah, dia ingin membelikan sesuatu untuk mereka. Mobil baru atau tas bermerk untuk Yifei. Kalau untuk Ahin, mungkin kapal Ferry.


Sekarang Wikra punya alasan semangat bekerja, yakni membahagiakan keluarganya. Memenuhi segala kebutuhan sampai mereka tidak perlu apapun lagi.


"Kenapa seharian kayaknya seneng banget?" tanya Faisal, salah satu Direktur perusahaan yang merupakan sahabat Wikra.


"Ternyata punya anak istri bikin betah di rumah."


"Iyalah, baru sadar?"


"Bisa dibilang gitu."


"Padahal kamu nikah sudah tiga kali. Masih aja bodoh."


"Ck! Manusia memang harus diberikan kesempatan beberapa kali supaya sadar."


"Tapi kamu nggak lupa, 'kan kalau pernikahanmu ini hanya satu tahun?"


Wikra terdiam, Faisal membahas hal paling penting dalam pernikahannya.


"Aku ingat, dan masih mikirin cara supaya Yifei berubah pikiran."


"Kamu udah banyak nyakitin hatinya, kayaknya bakal susah."


"Aku tahu, cepat bantu mikir."


"Buat dia hamil lagi?"


"Dia nggak mau punya anak lagi, terus aku juga belum siap. Ahin saja belum luluh."


Punya anak satu saja sudah membuat Wikra kurang jatah, bagaimana kalau punya dua?


Faisal menggaruk kepalanya, terlihat berpikir.


"Yaudah buat dia jatuh cinta lagi sampai nggak bisa lepas," jawab Faisal.


Wikra menyandarkan punggungnya ke sofa, saran yang masuk akal. Yifei pernah berkata sudah tidak mencintainya lagi, tapi mungkin saja jika dia berusaha Yifei akan berubah pikiran dan mau bersamanya selamanya.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


Jangan lupa like, komen, lempar bunga dan share cerita ini ya. makasih


__ADS_2