Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Prasangka


__ADS_3

Wikra dibawa seorang wanita malam ke hotel, pria itu mabuk berat hingga sulit berjalan jika tidak dipapah. Kesadaran mulai kembali ketika si wanita membuka bajunya satu persatu.


Tubuh wanita malam itu begitu sexy, ia teringat dengan Yifei. Saat dia pertama kali merebut kesucian wanita itu sebenarnya ia menyesal. Sisi kemanusiaan muncul pagi harinya, ketika melihat bercak darah di ranjang dan mendengar tangisan Yifei di kamar mandi.


"Aku akan memuaskanmu malam ini, sayang." Wanita malam itu selesai membuka semua bajunya. Memerkan tubuh mulus yang sering dijamah pria. Ia berjalan mendatangi Wikra dengan langkah menggoda.


Wikra melihat langit-langit kamar, dia masih berbaring di ranjang. Si wanita malam membuka celana Wikra dan memulai pekerjaannya.


Pikiran Wikra sedang melalang buana, lagi-lagi mengingat kejadian dulu. Dia menuduh Yifei menggodanya, padahal jelas-jelas Yifei tidak melakukan apapun. Malah dia yang tergoda setiap kali melihat Yifei. Wajah wanita itu setiap bangun tidur, saat dia tersenyum, menghidangkan makanan, hingga menunggunya pulang kerja.


Dia tidak bisa menebak seberapa bencinya Yifei padanya, otaknya saat itu mendadak tidak waras melihat Yifei hampir tidak berpakaian.


Dia tidak peduli walaupun wanita itu meronta dan menangis, di bawahnya Yifei kesakitan. Bisa dibilang itu pertama kalinya dia mengambil keperawanan wanita. Jujur, saat itu jantungnya berdetak kencang. Ada rasa sungkan dan takut. Tapi ditepis setelah berpikir Yifei istrinya, tidak masalah mengambil kesucian wanita itu.


"Ahhh Yifei," racaunya ketika pelepasan.


Wanita malam yang sedari tadi membantunya mencapai kenikmatan berhenti, keningnya berkerut.


"Namaku Amel, bukan Yifei. Kita udah sering ginian, masak kamu belum hafal namaku." Rajuknya.


Wikra perlahan duduk, mabuknya sudah hilang sepenuhnya. Melihat wanita malam yang sering dia pakai. Sedari tadi dia membayangkan Yifei yang melakukannya, bukan Amel.


"Keluarlah, malam ini aku hanya ingin istirahat."


"Kita udah setengah jalan, kenapa nggak dituntaskan aja? Kalau kau capek, biar aku yang melakukannya."


"Aku akan membayarmu seperti biasa, jadi pergilah selagi aku bicara baik-baik."


Wanita itu mendengus kesal, memakai pakaiannya kembali tanpa merasakan sentuhan Wikra malam itu.


Wikra kembali berbaring tanpa mengancingkan celananya, pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Dia bahkan tidak tahu apa yang harus diperbaiki di hidupnya yang kacau ini.

__ADS_1


Wajah Ahin dan sorot kebenciannya muncul ketika Wikra memejamkan mata, anaknya yang terlihat sangat membenci. Wikra meringkuk, dadanya terasa ada yang mengganjal.


Malam itu Wikra tidak bisa tidur dengan nyenyak, semua kenangan buruk masa lalu hadir di mimpinya.


Pagi harinya dia kembali ke rumah, ia mandi lalu berangkat ke kantor. Sejak Yifei keluar dari rumah ini, hidupnya terasa kosong. Apalagi Yumna yang diharapkan menjadi pengganti malah mengkhianatinya.


Di kantor kepalanya berdenyut sakit sisa efek mabuk semalam, bertulang kali dia mencoba fokus. Pekerjaannya hari ini sangat banyak.


"Siang, Pak. Saya mau melaporkan dua hal."


Wikra meletakkan dokumen yang sudah selesai ditandatangani, melirik sekretarisnya sekilas sebelum mengambil beberapa program TV yang harus lebih diperhatikan.


Walaupun kehidupan di luar kantor berantakan, di dalam kantor dia adalah orang yang sangat profesional. Tidak mencampur antara pekerjaan dan urusan pribadi. Ia tetap acc stasiun TV yang mengajukan Ezharion sebagai bintang utama untuk HUT TV. Padahal dia tidak menyukai Ezharion dari dulu.


"Silakan," jawab Wikra.


"Hari ini Tuan Yuda mendatangi pengacara untuk memberikan semua saham kepada anak anda. Beliau juga berencana memberikan beberapa aset berharga."


"Lalu apa lagi?"


Wikra memijit pangkal hidungnya yang terasa nyeri, dia harus segera mengambil tindakan sebelum Papanya benar-benar memindahkan saham atas nama Ahin.


"Tadi pagi anda minta untuk mengawasi mantan istri anda. Sekarang beliau sedang makan siang bersama Ezharion dan juga anak anda di restoran tak jauh dari sini."


"Apa?!" Teriak Wikra terkejut.


Sang sekretaris mengulangi perkataannya. "Mantan istri anda, anak anda dan artis terkenal Ezharion sedang makan siang bersama."


Mendengar itu Wikra berdiri, dia mengambil jasnya. "Kirimkan alamatnya, akan aku berikan pelajaran pada wanita itu sekarang juga. Berani-beraninya dia bertemu pria lain."


"Tunggu, Pak."

__ADS_1


"Apa lagi?"


"Maaf menyela, tapi ini demi kebaikan anda. Sekarang Nona Yifei bukan lagi istri anda, jadi anda tidak berhak melarangnya makan bersama pria lain."


Ah, Wikra lupa. Ini karena kebiasaan, dulu setiap Yifei bertemu dengan Ezharion, maka dia akan melarangnya. Marah-marah lalu menariknya pulang. Memberikan pelajaran pada wanita itu supaya tidak bertemu dengan pria lain lagi.


Sekarang, wanita itu dan dia tidak ada hubungan apapun lagi. Ia tidak berhak mengaturnya sesuai keinginan seperti dulu.


"Akh sial! Berikan foto mereka sekarang," kata Wikra kembali duduk.


"Baik, Pak."


Tak lama kemudian sekretaris Wikra mendapatkan kiriman foto dari mata-mata, segera diberikan kepada Wikra.


Pria itu semakin kesal karena Ahin, Yifei dan Ezhar seperti keluarga bahagia. Dia berpikir, mungkin kembalinya Yifei membawa Ahin adalah ingin merebut semua hartanya. Pasti ini sudah direncanakan antara Yifei dan Ezhar jauh-jauh hari. Mereka sengaja ingin menghancurkan hidupnya.


Wikra tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan menghalangi bagaimana pun caranya.


.


.


.


.


bersambung


bantu bagiin cerita ini ke temen, sodara, sepupu, suami, istri, pacar, mantan, selingkuhan, musuh, tetangga, dll.


jangan lupa lempar bunga buat Ahin ya 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹 makasih banyak

__ADS_1


__ADS_2