
Aku sudah tahu niat Wikra menikah kembali, kalau semuanya jelas malah lebih enak. Aku tidak perlu bimbang dan gelisah.
"Fei, sekarang kamu nggak perlu terlunta-lunta. Kamu tinggal di sini dan hidup bareng kita," kata Tante Zara.
Om Yuda mengulurkan berkas, di atasnya ada kartu kredit dan tabungan.
"Anggap ini hongpao untuk kamu dan Ahin selama 4 tahun ini, meskipun nggak seberapa."
Uang yang bagi mereka tidak seberapa bagiku banyak sekali, Wikra saja dulu memberikan aku 50 milyar ketika bercerai. Kalau orang tuanya pasti lebih dari itu.
"Terima kasih, Om. Sebelum pergi, Mas Wikra dulu ngasih uang lebih dari cukup. Aku bisa bertahan 4 tahun ini juga karena kebaikan Mas Wikra."
"Kamu memang baik sekali, tapi tolong terima ini, anggap dari Opa sama Omanya Ahin."
Aku menerima uang tersebut untuk Ahin. Tidak ada yang tahu masa depan, bisa saja Ahin akan tersingkir setelah Wikra menikah lagi dan Om Tante punya cucu lain.
Membekali Ahin dengan aset dan uang adalah hal penting. Di Lampung sana, sebagian besar uang Ahin dari ayahnya aku belikan kebun karet. Aku juga membeli tanah di Bandar Lampung, juga beberapa ruko di pasar untuk disewakan. Kalau ditambah ini, aku bisa menjamin finansial Ahin sampai dewasa.
"Terima kasih, aku akan menggunakannya dengan baik."
Aku menerima semua pemberian, membawakannya kembali ke kamar. Aku memikirkan aset apa yang paling penting Ahin.
Saham perusahaan sudah menjadi miliknya, itu tidak akan bisa dipindah tangankan sebelum Ahin dewasa. Bahkan di situ tertulis walinya Ahin tidak bisa memindahkannya, hanya bisa mengolah keuangan Ahin.
Kalau nanti aku tiada dan diurus Wikra, maka Wikra tidak bisa membalik nama. Itu membuat hatiku tenang. Hanya saja, itu tidak baik kalau nanti Ahin memiliki adik.
Pasti terjadi keributan tentang warisan dan pembagian saham, aku takut Ahin terluka. Apa lebih baik aku tolak sahamnya? Tapi kalau Ahin tidak memiliki saham, dia akan diabaikan Wikra.
"Bunda, Miao ana?" tanya Ahin mencari kucingnya ketika terbangun.
Kucing kecil yang biasa tidur di samping Ahin kini tidak ada.
__ADS_1
"Tadi Bunda lihat di luar, nanti juga balik lagi. Ahin tidur aja," kataku. Mengusap kepalanya sampai tertidur kembali.
Keesokan harinya, aku mendatangi pengacara keluarga. Membuat surat perjanjian yang harus disetujui Wikra. Supaya di masa depan tidak ada masalah dengan Ahin. Wikra harus menjadi wali yang baik untuk Ahin.
"Kalau mau memasukkan perjanjian lain, anda juga bisa. Contohnya Tuan Wikra harus bersikap baik pada anda dan Tuan Muda Ahin."
Ah, aku ingat. Mumpung begini. Sekalian aku memberikan keluarga lengkap yang harmonis untuk Ahin. Aku akan menikah kembali dengan Wikra tapi pakai syarat dan perjanjian. Wikra tidak ada pilihan lain selain menerima. Atau dia akan kehilangan perusahaan.
"Baiklah, aku akan menambahkan beberapa syarat lagi."
Setelah menambahkan Wikra harus menjadi ayah yang baik untuk Ahin, tidak mabuk di depan Ahin, tidak merokok, dan tidak main wanita selama satu tahun.
Aku menggoreskan kalimat terakhir, yakni Wikra harus menguntungkan cinta setiap hari untukku di hadapan Ahin. Supaya yang diingat Ahin adalah orang tuanya saling mencintai.
Di surat perjanjian aku menyebutkan akan memberikan hak asuh Ahin sepenuhnya kepada Wikra setelah 1 tahun. Itu imbalan yang imbang dengan persyaratan yang aku ajukan.
"Sekarang anda hanya perlu mendapat persetujuan Tuan Wikra," kata pengacara.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai, di sana aku merasa sangat asing. Gedungnya jauh lebih megah dari terakhir aku ingat. Ramai karyawan, interiornya begitu elegan.
Sekretaris Wikra menjemputku di lobby, dia memperlakukanku dengan baik. Berbeda dengan sekretaris Wikra 4 tahun lalu yang judes dan terang-terangan merendahkanku.
Kami naik lift ke lantai 46 tempat Wikra berada, di sana Wikra sudah menungguku dengan dua cangkir kopi. Perlakuan ramah yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.
"Seperti yang aku katakan di telepon, aku mau menikah kembali denganmu. Tapi dengan beberapa syarat."
Aku tidak basa basi, duduk dan langsung bicara ke inti. Wikra melepas kancing jasnya dan duduk dengan nyaman.
"Apa syaratnya?"
Aku mengeluarkan berkas, memberikannya kepada Wikra supaya dia bisa membacanya sendiri.
__ADS_1
"Kemarin orang tuamu memberikan saham mayoritas ke Ahin, dikelola olehku sebagai walinya. Aku jadi paham kenapa kamu meminta kita menikah kembali. Setelah kupikir lagi, aku tidak bisa mengurus saham Ahin. Jadi aku menerima tawaranmu untuk menikah kembali."
Wikra masih membaca surat perjanjian tanpa mengalihkan pandangannya padaku.
"Semua perjanjian ini hanya menguntungkanku, apa yang kau dapat dari perjanjian ini?"
"Setahun lagi aku akan pergi, jadi cukup menguntungkan jika kamu bisa jadi ayah yang baik untuk Ahin."
"Kamu mau pergi ke mana?"
Aku diam sesaat, bingung harus berbohong apa.
"Aku akan melanjutkan pendidikan di luar negeri," bohongku. Hanya itu yang terlintas di pikiran.
"Jadi setelah satu tahun kita akan bercerai?"
"Iya."
Kali ini Wikra yang diam, dia seperti keberatan. Raut wajahnya berubah.
.
.
.
.
bersambung
jangan lupa pencet like, komen dan lempar bunga ya π€§
__ADS_1
bantu promoin Ahin juga π₯Ίπ