
Mobil melaju kencang di jalan tol, posisi duduk kami sangat canggung. Andai Ahin tidak sibuk bermain dengan Utynya di depan mungkin dia bisa menjadi pelebur kecanggungan ini. Aku melirik Wikra, sepertinya dia tidak canggung sama sekali, di waktu luang bersama keluarga, dia masih menyempatkan diri melihat dokumen lewat ipadnya.
Wikra masih sama seperti dulu, pekerja keras. Dia membangun perusahaan ayahnya sejak berusia 17 tahun. Berarti sekitar 13 tahun ia mencurahkan seluruh masa mudanya demi perusahaan.
Kalau soal pekerjaan Wikra tetap mengagumkan, di usianya yang ke 30 tahun ini, ia sudah menjadi CEO terbaik di Indonesia. Walaupun NEXT Media bukan perusahaan seperti Wtersun Grup, Candra Grup, Nathanael Grup atau Finansial Grup yang bergerak di segala bidang.
Tetapi NEXT media tetaplah salah satu perusahaan besar di bidangnya. Suatu hari nanti Wikra pasti bisa mengubah NEXT Media menjadi perusahaan yang lebih besar lagi. Aku percaya dengan pria yang dijuluki Bos Parabola itu.
Aku mendesah berat lalu memejamkan mata, perjalanan ke rumah nenek kakek Wikra membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Cukup untuk tidur sebentar.
Aku tidur nyenyak bahkan bermimpi, posisi ini sangat nyaman seperti memiliki sandaran, mataku mengerjap. Melihat ke bawah, ada tangan besar yang sedang menscroll berita. Aku melirik ke samping, wajah Wikra begitu dekat sampai jantungku berdetak kencang.
Jadi sedari tadi ternyata aku bersandar di bahu Wikra? Aku sungguh bingung harus bergerak gimana supaya tidak malu. Aku mencoba diam saja. Melihat ke iPad Wikra. Ada pesan masuk.
Malam ini datanglah ke bar, aku akan memuaskanmu. Dari Amel.
Siapanya Wikra? Pacar kah? Wikra membalas pesan di sana tanpa tahu aku melihatnya.
Jangan ganggu aku lagi, mulai sekarang aku tidak akan datang ke bar.
Kenapa? Apa kamu punya j*lang lain?
Sekarang aku punya ibu dari anakku
Apa? Kau menghamili siapa?
Istriku
Kau sudah menikah lagi?
Segera
Walaupun kau sudah menikah, kamu masih bisa mendatangiku jika ingin.
Tidak akan lagi
Setelah itu Wikra memblokir nama Amel dari kontaknya, dia mendesah berat. Sepertinya dia serius ingin menikah kembali denganku.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah kerabat, Om Yuda membangunkanku. Secara alami aku berpura pura bangun tidur dan terkejut telah bersandar pada Wikra.
Aku membenarkan rambutku, tangan Wikra terulur, ikut merapikan rambut dengan jemarinya.
__ADS_1
"Nggak usah," kataku menepis tangannya.
Aku segera keluar dari mobil, kami langsung disambut para kerabat Tante Zara. Cipika cipiki dan memperkenalkan Ahin kepada semua orang.
Mereka bilang Ahin sangat mirip dengan Wikra, mereka menyayangkan karena masa kecil Wikra berada di Medan dan katanya foto masa kecil tertinggal di rumah dulu. Maka dari itu mereka tidak tahu masa kecil Wikra seperti apa.
Namun, mereka semua menduga bahwa kecilnya Wikra seperti Ahin, sangat menggemaskan dan pintar.
"Salim sama semua orang," suruhku.
Ahin mengangguk dan salim sama Eyangnya, dia juga salim ke kerabat yang lain. Ada anak seusianya, laki-laki, itu cicit Eyang yang lain.
Kami dipersilakan duduk di ruang tamu. Mengobrol dengan kerabat. Mereka semua datang karena besok Eyang ulang tahun. Aku sungguh tidak tahu, Tante Zara juga tidak mengatakan apapun.
"Lucunya Ahin mirip Wikra sekali." Eyang tersenyum lebar melihat Ahin yang bertingkah menggemaskan.
"Ahin kan anakku, ya pasti mirip aku." Wikra membanggakan diri.
"Hemm untung Yifei mau kembali, kalau tidak pasti kita tidak akan pernah bertemu Ahin."
"Yifei tidak mungkin seperti itu, dia kan wanita lembut." Lagi-lagi Wikra memujiku.
Ahin berjalan ke arahku setelah teman sepermainannya keluar bersama orangtuanya, dia menggelayut hingga aku membopongnya. Pandangannya ke arah luar. Di halaman sana ada anak tadi yang kini bermain dengan ayah dan ibunya.
"Bunda," ucap Ahin, dia memelukku. Mulai rewel.
Aku menepuk punggungnya, dia memainkan rambutku dengan jemarinya. Dari dulu setiap Ahin menginginkan sesuatu, dia tidak akan bilang. Aku tahu dia iri dan ingin memiliki keluarga harmonis seperti itu. Tapi dia tidak mungkin mengatakannya karena membenci Wikra.
Aku melirik Wikra, rupanya dia juga sedang melihat ke arah sini. Kami sama-sama memalingkan wajah dengan canggung. Ahin mulai tenang setelah aku tepuk-tepuk punggungnya.
"Ahin mau main rubik?" tanyaku.
"He.em," jawabnya dengan anggukan.
Aku mengambil rubik dari tas, jika sudah main rubik maka dia akan tenang. Aku tidak memberinya gadget atau ponsel. Jam nonton TV nya saja aku jadwal. Selain untuk melindungi matanya, aku juga ingin Ahin tumbuh cerdas.
Kebanyakan orang tua akan memberikan permainan di ponsel untuk anak-anak, alasannya biar tidak rewel. Tapi itu membuat kecerdasan anak menurun, tubuh dan otaknya akan sulit berkembang, maka dari itu serewel apapun Ahin, aku tidak memberikan gadget.
Malam itu kami menginap, setelah Ahin tidur aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Udara di sini dingin karena di pegunungan, tetapi juga segar. Jauh dari kepenatan.
"Fei."
__ADS_1
Mendengar namaku dipanggil membuatu menoleh, mataku langsung menangkap Wikra membawa dua gelas coklat panas. Aromanya mampu tercium dengan jelas.
"Aku ingin ngobrol," kata Wikra.
"Aku nggak pingin ngobrol sama kamu," kataku sembari berbalik. Memunggunginya.
"Ini soal Ahin," katanya.
Aku berhenti, lalu berbalik memandangnya. Dia mendekat dan memberikan secangkir coklat. Aku tidak menerimanya.
"Apa kamu sadar Ahin pingin punya orang tua lengkap?" tanya Wikra langsung ke inti.
"Aku sadar."
"Lalu kenapa kamu nggak mau ngasih Ahin keluarga lengkap?"
"Aku nggak bisa ngasih."
"Kita bisa menikah lagi dan memberikan Ahin keluarga harmonis seperti orang lain."
"Aku nggak mau." Aku tetap kekeh.
"Kenapa nggak? Aku kasihan melihat Ahin pingin punya keluarga lengkap. Apa kamu sungguh nggak kasihan sama anak itu?"
"Aku kasihan, tapi aku lebih kasihan kalau Ahin tiap hari harus melihat kelakuan ayahnya yang pemabuk, main wanita, ngrokok, kasar dan tidak peduli padanya."
Wikra tersentak, tubuhnya mematung di tempat. Memandangku dengan tatapan mata yang tidak bisa aku sebutkan.
Langit di atas kami menampilkan taburan bintang, dedaunan di sekitar tertiup angin hingga bergoyang. Dua cangkir coklat semakin dingin.
"Kalau aku berubah, apa kamu akan menerimaku kembali?" tanya Wikra.
.
.
.
.
bersambung
__ADS_1
besok aku ada urusan keluarga, jadi nggak bisa update, sampai ketemu hari Senin 🤧
jangan lupa pencet like, komen, dan lempar bunga ya. Kalau menurutmu cerita ini menarik, share cerita ini di sosmed kamu. makasih banyak ❤️❤️❤️