Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Miao Miao


__ADS_3

Aku memejamkan mata sejenak, ke Jakarta berarti bertemu Wikra lagi. Hatiku berdesir, sudah lama menutup mata tentang keadaan Wikra. Kali ini rasa penasaranku tidak dapat dihentikan.


Bagaimana kabar mantan suamiku, apakah dia bahagia dengan Yumna? Berapa anak yang mereka miliki? Apakah ada anak Wikra yang seumuran Ahin? Sepertinya mulai sekarang aku harus mendidik Ahin untuk menjadi seorang kakak.


Anak-anak Wikra dan Yumna berarti adik Ahin, kuharap mereka bisa tumbuh besar dengan akur. Aku tidak berharap banyak Wikra menyayangi Ahin seperti dia menyayangi anak-anak dari Yumna.


Cukup mengakui Ahin sebagai anak, mengizinkan Ahin memanggilnya Ayah dan mengajak Ahin makan bersama setiap ulang tahunnya. Semoga permintaanku itu disetujui Wikra.


"Bunda, pipis."


Aku meletakkan ponsel, tidak jadi melihat internet. Menoleh ke belakang dan mendapati putraku duduk sembari mengucek matanya.


"Ahin mau pipis?" tanyaku.


Dia mengangguk, aku segera membantunya turun dari ranjang dan masuk kamar mandi. Secerdas apapun Ahin, dia hanyalah anak kecil. Sikapnya polos, pemikirannya sederhana dan badannya lemah.


Aku suka sekali melihat ekspresi Ahin ketika mengantuk seperti ini, pipinya yang tembem terlihat begitu imut. Bibirnya kecil berwarna merah muda.


Setelah selesai pipis dia kembali berbaring, memeluk boneka Spongebob pemberian Ezhar. Kembali ke dunia mimpi.


Selama ini, Ahin tidak pernah menanyakan keberadaan ayahnya. Pernah suatu hari aku mendengar dia ditanya temannya tentang keberadaan ayah. Ahin menjawab bahwa Ez adalah ayahnya.


Aku menegurnya, jangan menganggap Ezhar sebagai ayah. Tetapi Ahin malah marah dan merajuk. Dia sulit dikendalikan kalau mengenai Ezhar. Aku mewajari hal itu karena Ezhar adalah sosok ayah untuk Ahin.


Malam itu rasa penasaran tentang Wikra aku redam, tidur di samping Ahin sembari memeluknya. Aku takut jika melihat kebahagiaan Wikra dengan wanita lain, hatiku kembali goyah.


Keesokan harinya kegiatanku dimulai seperti biasa, Tante Zara terus menghubungi, katanya dia tak sabar berjumpa denganku. Berulang kali dia minta maaf atas sikap kurang ajar Wikra.


"Si bodoh itu sudah dapat karma, kamu harus segera melihatnya." Tante Zara mengomel tentang Wikra di telepon.


"Dapat karma gimana, Tan?"

__ADS_1


"Tepat seminggu sebelum si bodoh menikahi Yumna, wanita gila itu ketahuan selingkuh. Akhirnya pernikahan mereka batal. Tante puas banget liat Wikra hancur setelah nyakitin kamu."


"Gimana pun Wikra anak Tante," jawabku.


Berarti sekarang Wikra lajang, dari pada Yumna memang lebih baik Wikra mencari perempuan yang bisa menyayangi Ahin.


"Kalau bisa tukar tambah anak, pingin Tante tukeran Wikra sama kamu."


Aku tertawa mendengarnya, dari dulu Tante Zara tidak berubah, ia lebih menyayangiku dibandingkan Wikra. Katanya anak yang terlalu jenius tidak peka dan hanya melihat semuanya berdasarkan logika.


"Da, Ain nemu mao," ucap Ahin mengagetkanku.


Bocah itu membawa kucing kecil lusuh dan kotor.


"Itu siapa, Fei?" tanya Tante Zara mendengar suara Ahin.


"Anu itu Tan, udah dulu ya, wassalamu'alaikum."


Aku segera mematikan telepon, 3 hari lagi ke Jakarta. Aku ingin memberitahu soal Ahin ketika di sana saja. Tidak ingin membuat kepanikan lebih awal.


"Ahin nemu mao di mana?"


"Celokan, asihan."


"Kalau Ahin mau merawat mao, Ahin harus jaga baik-baik, tidak boleh pegang ekornya kayak gitu."


Aku mengambil kucing kecil yang meraung kesakitan, Ahin mengangguk. Sepertinya memiliki hewan peliharaan tidak buruk. Setelah kepergianku, Ahin akan sibuk mengurus kucing.


"Ahin paham nggak?"


"Ain aham," jawabnya. Bola matanya bulat berwarna hitam.

__ADS_1


Anggota keluarga kami bertambah, Ahin memanggil si anak kucing dengan Miao Miao. Dia ikut merawat dan memandikan. Saat aku memberi obat ke kucing, tangan kecil menutup mulut. Ahin tidak suka obat.


Waktu berjalan cepat, hari kepergian kami ke Jakarta tiba. Aku berpamitan kepada tetangga dan Bude.


"Ahin harus sering berkunjung, ya?"


"Ain pelgi bental iat onas."


Anak itu tidak paham bahwa akan meninggalkan rumah ini selamanya, dia hanya berpikir pergi ke Jakarta untuk lihat Monas.


Bude mencium Ahin kanan dan kiri, putraku itu memejamkan mata karena risih semua wajahnya dicium. Aku berpamitan kepada Bude, memeluknya erat.


"Makasih Bude buat semuanya," kataku.


"Kamu sudah Bude anggep anak sendiri, jaga diri baik-baik, kalau keluarga sana jahat sama kamu. Pulanglah ke sini."


"Iya, makasih banyak."


Kami melepas pelukan, supir trevel memasukkan koper ke mobil. Sekali lagi aku melihat pesisir pantai. Menghirup udara dalam-dalam sebelum bertempur dengan masa lalu. Yakni Wikra, ayahnya putraku.


.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


Maaf ya manteman, aku lagi sakit. cuma bisa up segini. doakan cepet sembuh biar bisa up lebih banyak ❤️


jangan lupa share cerita ini ke sosmed kamu ya buat dukung cerita ini di event anak jenius. makasih banyak. 🥺🙏


__ADS_2