
Bagi Wikra, cinta itu sesuatu yang terlambat disadari. Setiap hari dia mencari jati diri, ia pikir setelah mendapat posisi tertinggi dan membawa perusahaannya menjadi nomor 1. Maka hidupnya sudah sempurna.
Tabungannya milyaran, perusahaan miliknya sendiri. Tidak akan kesepian dan kelaparan. Ia akan bahagia. Tapi ternyata itu semua tidak benar. Seperti gelas emas yang kosong. Hanya indah tapi tidak memenuhi hatinya.
Hidupnya berantakan, setiap hari diisi dengan mabuk-mabukan, main perempuan dan melakukan apapun yang membuatnya berpikir bisa bahagia.
Sayangnya, semakin lama ia tersesat hingga tidak tahu arah lagi. Hidupnya dingin dan gelap. Hingga Yifei hadir di pernikahan ke dua, membawa Ahin dan menariknya dari kegelapan.
Setiap hari ia merasa hatinya penuh hanya dengan melihat mereka, terasa bahwa tujuan hidupnya adalah Yifei dan Ahin. Tidak mau melepaskan mereka apapun yang terjadi.
Cincin sudah Wikra siapkan, ia merencanakan menyatakan cinta pada Yifei di bawah menara Eiffel.
Ia tidak tahu sejak kapan perasaannya muncul, mungkin sejak menikah kembali atau di pernikahan pertama. Satu hal yang pasti, dia tidak ingin kehilangan Yifei lagi. Ia ingin bersama selamanya dengan wanita itu.
Hatinya hangat dan seperti menemukan jalan pulang, sekarang ia tahu makna cinta dan arti kehidupan, yakni membahagiakan keluarganya.
"Ahin demam," kata Yifei.
Wikra menyembunyikan cincin itu dan berbalik. Melihat raut wajah khawatir sang istri.
Penerbangan selama 17 jam ditambah musim dingin, tubuh kecil Ahin tidak bisa menanggungnya.
"Aku akan memanggil dokter," ucapnya. Ia bergegas pergi.
Rencana hari pertama di Paris batal karena mereka harus menunggu Ahin, sampai malam tahun baru pun mereka belum bisa keluar hotel. Ahin menolak karena tidak suka dingin.
"Kalau Ahin kayak gini, percuma dong kita jauh-jauh ke sini." Yifei mencoba membujuk Ahin.
Bocah kecil itu ngembek tidak mau melihat kembang api tahun baru di bawah menara Eiffel. Dia kangen Miao, tidak mau pergi. Dipaksa pun malah menangis. Akhirnya hanya bisa mengalah membiarkan Ahin video call dengan Miao sampai tertidur.
Wikra dan Yifei menunggu kembang api di balkon yang menghadap menara Eiffel. Mereka menikmati secangkir kopi dan duduk berhadapan. Mengobrol banyak hal.
"Mau nambah selimut?" tanya Wikra.
Mereka memakai palto dan syal, tapi udara dingin masih terasa. Wikra takut Yifei sakit. Namun, wanita itu menggeleng.
"Nggak papa, kok."
Bibir cantik itu menyeruput kopi, pipinya memerah karena udara dingin. Di bawah sana banyak mobil berlalu lalang.
"Sebelum ke Jakarta, apa kamu pernah ngasih tahu soal aku ke Ahin?" tanya Wikra.
"Kadang aku ngasih tahu, tapi dia nggak peduli karena menganggap ayahnya itu Ezhar."
__ADS_1
"Wajar, Ezhar kan dampingi Ahin sejak kecil."
"Iya, tapi aku takut menyulitkan dia."
"Kenapa dia nggak nikahin kamu pas kita cerai?"
Mendengar itu Yifei tertawa, meletakkan cangkir kopi. Wikra tidak mengerti, bukankah selama ini Ezhar menyukai Yifei? Kenapa tidak ambil kesempatan saat mereka bercerai?
"Hubungan ku sama Ezhar nggak kayak yang kamu pikir."
"Persahabatan laki-laki dan perempuan nggak mungkin 100% murni." Wikra ikut meletakkan cangkir kopi.
"Kamu benar, saat masih kecil Ezhar pernah suka sama aku, aku pernah suka sama Ezhar. Tapi kita memilih jadi sahabat karena itu lebih abadi."
"Tuh. Firasatku benar."
Wikra berdiri, melihat menara Eiffel dan membelakangi Yifei. Tinggal hitungan menit kembang api menyala. Di dalam, Ahin sudah tidur nyenyak.
Yifei ikut berdiri di sampingnya. Memandang menara Eiffel dengan kagum.
Saat ini jantung Wikra berdebar kencang, dia akan mengungkapkan perasaannya.
"Aku mencintaimu Yifei!" Teriak Wikra dari atas balkon.
"Aku mencintaimu," ucap Wikra memandang mata Yifei.
Sejenak Yifei terdiam, menatap bola mata Wikra yang serius. Lalu tersadar sesuatu.
"Kamu nggak perlu pura-pura."
Wikra menggeleng. "Aku nggak pura-pura."
Mendengar itu raut wajah Yifei berubah. "Bukankah kamu pernah bilang selamanya nggak akan mencintaiku?"
Wikra menunduk, dia merogoh sakunya. Menggenggam erat kotak cincin.
"Dulu aku sangat bodoh sampai nggak sadar bahwa aku mencintaimu. Sejak kamu pergi, aku merasa kosong, hilang arah dan menjadi buruk. Fei, tolong beri aku kesempatan untuk mencintaimu di pernikahan ke dua ini."
Yifei melepaskan tangan Wikra. Kepalanya menggeleng.
"Aku nggak bisa, sekalipun aku mau tapi nggak bisa."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku sakit kanker, hidupku nggak lama lagi. Itu alasanku mengembalikan Ahin padamu."
Wikra terdiam, wajahnya memerah. Ia kecewa dan marah.
"Kalau kamu mau nolak aku, tolong aja. Nggak perlu bohong kayak gitu."
Kembang api menghiasi langit Paris, sorak orang-orang menggema. Menara Eiffel tampak sangat cantik dari kejauhan. Lampu warna warni menandakan kemegahan.
"Aku nggak bohong," jawab Yifei. Matanya berkaca-kaca.
"Fei...." Wikra menggeleng. Masih menyanggal.
"Aku serius."
"Oke, mungkin pernyataan cintaku terlalu tiba-tiba. Kamu nggak perlu jawab sekarang. Aku anggap nggak pernah denger jawabanmu barusan."
Wikra menyangkal penyakit Yifei, dia tersenyum menyembunyikan perasaannya yang kacau. Sementara Yifei menghapus air di sudut matanya.
Yifei meraih kotak cincin sembari tersenyum. Memakai cincin itu yang sangat cocok di jari manisnya. Pertanda bahwa dia menerima perasaan Wikra.
"Aku juga mencintaimu," jawab Yifei. Dia tersenyum. Tidak lagi membahas penyakit.
"Sangat cantik, cocok sama kamu." Wikra mengusap kepala Yifei.
Perlahan dia mendekat, memeluk Yifei. Wanita itu balas memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di dada Wikra.
Perlahan Wikra memiringkan kepalanya, mencium bibir Yifei ringan. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Wikra. Mengimbangi ciuman yang semakin dalam.
Mereka tidak memedulikan suasana ramai tahun baru, Wikra mengangkat tubuh Yifei ke meja. Dia terus mencium dan mengigit bibir wanita itu. Lidah Mereka bertemu, kecupan berganti dengan sensasi yang lebih panas.
Wikra mengangkat tubuh Yifei, menggendongnya masuk ke dalam. Kamar hotel yang sangat luas itu memiliki sisi lain, sofa yang jauh dari ranjang. Wikra menurunkan Yifei di sana. Perlahan membuka kancing baju wanita itu dan menjelajahi setiap inci kulitnya.
.
.
.
.
bersambung
season 1 bentar lagi selesai
__ADS_1