
Sebelumnya Wikra tidak pernah berharap bisa bertemu orang tua kandungnya lagi, puluhan tahun terpisah membuat Wikra menganggap ayahnya sudah mati.
Samar-samar kenangan tentang orang tuanya teringat kembali. Ayah yang memeluknya sebelum meninggalkan rumah, kening ibunya yang dicium Ayah dan rumah kecil yang sepi setelah ayah pergi.
Seharusnya saat balita, ia sudah bisa mengingat apa yang terjadi saat itu, hanya saja kematian ibunya setelah mereka diusir membuatnya trauma hingga ingatannya samar.
Dulu, saat di panti asuhan. Wikra berharap ayahnya datang menjemput, tapi kata orang-orang ayahnya menghilang di laut. Ia terlalu kecil untuk mencari.
Wikra mengalami mimpi buruk setiap malam dan kenangannya tentang orang tua perlahan terkubur dengan sendirinya, ia lupa nama, wajah, bahkan suara orang tuanya sendiri. Ia hanya bisa mengingat bahwa namanya Alan. Dan ia sebatang kara.
"Aku akan menemui ayahku, tunggulah." Wikra mencium kening Yifei yang tengah tertidur.
Meskipun kemungkinan Yifei hidup sangat kecil, setidaknya dengan mendapatkan pendonor, wanita itu bisa bertahan beberapa tahun lagi.
Wikra pergi meninggalkan ruangan Yifei menuju parkiran bawah, di dalam lift ia melihat alamat toko elektronik milik ayahnya yang berada di tanah Abang.
Perasaannya campur aduk, ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju lokasi. Beberapa kali ia masuk TV, iklan dan majalah.
Seharusnya ayahnya bisa mengenalinya, kenapa tidak datang menjemput? Kenapa dulu pergi meninggalkannya dan ibu? Kenapa ayah tidak datang saat ibu meninggal sampai dia diadopsi?
"Aku sangat ingin tanya kenapa?"
Wikra menahan luka dan trauma di masa kecil, ia menjalani hidup yang berat di panti asuhan. Ia hidup memakai identitas Wikramawardana. Nama kecilnya terlupakan, hanya dia yang ingat bahwa namanya adalah Alan.
Mobil berhenti di parkiran, sangat jauh dari lokasi. Mobil mewahnya terlalu sulit masuk ke area Tanah Abang. Ia memutuskan jalan kaki setelah mengenakan masker.
Setelah berputar-putar, hujan gerimis mengguyur kota, membuat kemejanya basah hingga ia harus berlari menghindari hujan. Wikra berteduh di sebuah toko elektronik, ia melihat plakatnya, milik Pak Ilyas, ayahnya.
Wikra sudah sampai tujuan, ia pun memberikan diri untuk masuk.
"Cari apa, Mas?" tanya pria berkacamata memakai kaos putih dan celana pendek.
Wikra menghapus air di atas bahunya. Mata mereka sejenak bertemu, Pak Ilyas mengalihkan pandangan. Menghindari tatapan Wikra.
Di samping kanan Wikra terdapat banyak kipas angin, di sisi kiri terdapat beberapa TV dan kulkas, sementara di depan Pak Ilyas terdapat radio yang sedang diperbaiki.
Wikra mendekat dan berhenti di depan Pak Ilyas yang membenarkan radio tanpa mau melihatnya.
"Kalau anda mencari kipas angin ada di sebelah sana, lihat-lihat aja dulu, kalau cocok baru nego soal harga."
__ADS_1
Pak Ilyas menunjuk deratan kipas angin yang mendominasi isi toko. Pura-pura tidak kenal Wikra.
"Apa kabar, Ayah?" ucap Wikra. Membuat Pak Ilyas terpaku. Perlahan melihat p ke arahnya. Membuat bola mata yang mirip itu bertemu.
"Maaf karena baru datang," lanjut Wikra lagi.
Kalau Wikra mau, dari dulu dia bisa menemukan ayahnya, hanya saja kehidupan nyaman sebagai anak orang kaya membuatnya enggan kembali ke masa lalu. Apalagi ia tidak begitu ingat dengan ayahnya.
"Kamu... ingat ayah?" tanya Ayah dengan nada bergetar.
Ia keluar dari meja kasir, berhadapan dengan Wikra yang tingginya setara. Melihat dari bawah ke atas. Sekarang Wikra yakin bahwa Ayah mengenalinya.
Wikra menggeleng, ia tidak begitu ingat tentang Ayah. Hanya saja sorot mata ayahnya yang berkaca-kaca membuat hatinya terenyuh.
"Aku hanya tahu kau ayahku yang dulu pergi, maaf aku nggak terlalu ingat."
Ayah tampak kecewa.
"Nggak papa, Ayah senang kamu tumbuh dengan baik di keluarga itu."
"Ayah tahu aku diadopsi?"
"Dulu ayah pergi ke mana?"
"Merantau ke tanah Kalimantan, untuk mu dan ibumu. Seharusnya waktu itu ayah nggak pergi. Maaf karena membuatmu sendirian."
Ah, ternyata ayahnya tidak membuangnya. Beliau juga tahu bahwa Wikra diadopsi, itu berarti Ayah berusaha mencarinya.
"Kenapa nggak menjemputku?"
"Kamu sudah bahagia dengan keluarga baru yang kaya, jadi untuk apa hidup susah bareng ayah? Masa depanmu bersama keluarga itu lebih cerah."
"Apa Ayah nggak kangen?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Ayah diam, menatap Wikra dengan sungguh-sungguh. Lalu tersenyum.
"Rasa rindu sudah diobati dengan prestasimu, setiap melihatmu tampil di TV, majalah dan koran membuat Ayah bangga."
Wikra menunduk, sadar betapa ayah menahan rindu padanya. Prestasi yang dilihat ayah hanya luarnya saja, di dalam hati ia kesepian, takut dan berbagai macam perasaan tanpa arah lainnya.
__ADS_1
"Aku nggak tumbuh dengan baik," kata Wikra lirih.
Melihat bahu Wikra bergetar membuat Ayah memeluk putra yang sangat dirindukan. Perlahan ayah menepuk punggung Wikra dengan lembut.
Cukup lama mereka berpelukan dalam diam, setelah itu mengobrol panjang lebar tentang masa lalu. Selama ini Ayah mengawasinya dari jauh, tapi tidak pernah berani menemui Wikra yang dinilai sebagai Wikramawardana, putra pemilik Next Media.
Setelah ayah mencari tahu ternyata Wikra mengalami trauma hingga sebagian ingatannya hilang, sejak itu ayah memutuskan tidak mengambil Wikra dan membiarkannya menetap bersama keluarga angkatnya.
"Aku ke sini ingin minta tolong," kata Wikra. Tidak melupakan maksud kedatangannya untuk Yifei.
"Apa yang bisa ayah bantu?"
Wikra mengeluarkan foto-foto, menunjukkan foto keluarga Yifei, menjelaskan bahwa ayah masih ada hubungan darah dengan istrinya. Suadara jauh.
"Sekarang istriku sedang sakit keras, butuh donor hati. Bisakah Ayah tes kecocokan dengan Yifei? Siapa tahu Ayah bisa jadi pendonor."
Tanpa basa-basi Ayah langsung menyetujui, bersedia ke rumah sakit dan menjadi pendonor.
Sebelum pulang, ayah bertanya pada Wikra. "Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu yang sekarang?"
"Aku akan bahagia selama bersama Yifei."
Mendengar itu ayah tersenyum, Wikra balik arah dan keluar dari toko elektronik. Ia akan segera kembali ke rumah sakit untuk memberi kabar dengan wajah tersenyum.
Salah satu traumanya tentang masa kecil terselesaikan, ia bertemu dan mendapatkan penjelasan dari ayahnya. Juga mendapatkan pendonor untuk Yifei. Wikra berharap setelah ini hanya ada hal-hal baik yang terjadi.
Keesokan harinya Wikra menjemput ayah untuk dibawa ke rumah sakit, bertemu Yifei dan menjalankan segala macam tes kesehatan.
"Loh, kamu punya anak perempuan?" tanya Ayah ketika Ila baru datang bersama Ahin.
"Iya, dari istri siriku dulu."
Ayah berjongkok, memandang wajah Ila yang bersembunyi di belakang Ahin.
"Dia sangat manis, mirip neneknya."
Mendengar itu Wikra hanya tersenyum. Hal yang masih sulit untuknya adalah memberitahu kedua orang tua angkatnya tentang ayah. Mereka juga belum menerima Ila sebagai bagian dari keluarga.
bersambung.
__ADS_1
makasih banyak udah nungguin cerita ini. Insyaallah mulai sekarang up tiap hari.