
Di dalam kamar ruang tamu, aku yang menenangkan Neli. Dia adalah pelayan yang paling dekat denganku. Tulus dan melayani dengan sepenuh hati.
"Nyonya harus jaga diri baik-baik."
"Kalau kamu nangis terus kayak gini, aku bisa sedih loh."
"Mana bisa saya tidak nangis dan khawatir," kata Neli.
Wanita sebatang kara yang diusir suaminya, aku harus ke mana? Bukan hanya Neli, tapi aku juga mengkhawatirkan diri sendiri. Tidak punya tempat tujuan. Semua orang pasti menganggapku menyedihkan.
"Kamu nggak usah khawatir, aku kuat dan bisa jaga diri. Sekarang kamu tidur aja biar besok bisa bantu aku berkemas."
Mungkin semua orang bertanya bagaimana bisa aku sekuat ini, dari dulu aku tidak pernah menunjukkan kesedihan termasuk ketika kedua orangku meninggal.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya juga harus istirahat."
Aku mengangguk dan mempersilahkan dia pergi. Baru ketika pintu ditutup aku merasakan kesedihan luar biasa. Hatiku sakit. Perjuangan mendapatkan cinta Wikra tidak membuahkan hasil.
Sebenarnya aku masih bisa mendapatkan kesempatan andai mengadu ke ibunya, anakku pantas diperjuangkan, dia butuh kasih sayang ayahnya. Aku berdiri. Kembali ke kamar utama yang sebelumnya ditempati aku dan Wikra.
Meskipun ini tidak tahu malu, jika ada satu saja kemungkinan, aku ingin mengambil kesempatan terakhir.
__ADS_1
Tanganku bergetar ketika mengetuk, tak lama kemudian Wikra keluar tanpa mengancingkan baju, terlihat di ranjang Yumna tak berpakaian.
"Kenapa?"
Pertanyaan tidak ramah dari Wikra karena aku sudah menganggu malam pertamanya dengan Yumna. Aku ingin mundur supaya masih memiliki harga diri. Hanya saja aku takut menyesal jika tidak mencoba.
"Selama kita menikah, apakah ada sedikit aja rasa cinta buat aku?"
Kalau ada, sekecil apapun itu berarti masih ada kesempatan. Aku mohon. Demi anak ini, demi rasa cinta untuknya yang tidak akan mudah sirna.
"Aku tidak pernah mencintaimu dan selamanya tidak akan pernah mencintaimu. Jangan mengangguku dengan pertanyaan konyol seperti itu lagi. Pergi sana."
Brak!
Wikra menutup pintu dengan keras hingga membuatku berjingkrak. Aku menelan ludah. Kalimat Wikra harus aku ingat dan tanamkan dalam hati. Selamanya dia tidak akan jatuh cinta seberapapun usaha yang aku lakukan.
Langkahku begitu lemas menuju kamar tamu, bisikan para pelayan yang melihat betapa menyedihkannya aku tidak kupedulikan.
Sesampainya di kamar tamu, aku terduduk lemas di balik pintu. Memegang perut dan menekuk lutut, menenggelamkan wajahku di antaranya.
Air mata menetes perlahan, yang membuatku menangis bukan diceraikan ataupun ketika Wikra membawa wanita lain, tetapi kenyataan bahwa Wikra tidak pernah mencintaiku sedikitpun.
__ADS_1
Segalanya telah kulakukan untuk mendapatkan hatinya, berharap suatu hari nanti dia akan mencintaiku. Naif sekali. Hari ini adalah batasku dalam berusaha. Tuhan memberitahu untuk menyerah ketika Wikra menjawab pertanyaanku.
Keesokan harinya aku berkemas meskipun tidak tahu harus ke mana. Kembali ke kontrakan dulu atau menumpang di rumah teman. Satu hal yang pasti, aku harus menyembunyikan kehamilan supaya anak ini tidak diminta keluarga Wikra.
Anak ini adalah harta satu-satunya yang aku miliki. Tanpanya aku tidak memiliki alasan lagi di dunia ini lagi.
"Aku sudah mengirim uang ke rekeningmu dengan jumlah besar, jangan pernah datang ke keluargaku untuk minta uang. Kau bukan pengemis, 'kan?"
Aku anggap itu hongpao dari Wikra untuk anaknya, meskipun kami muslim tetapi adat keluargaku masih sering aku pakai terutama ketika Imlek. Aku tidak akan menolak dengan alasan harga diri, karena uang itu adalah haknya anak kami.
"Terima kasih karena selama ini sudah menjagaku, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Nggak bisa bales kebaikanmu dan keluarga, salam buat Tante, Om dan Reina."
Aku memberikan senyum terakhir untuknya, menutupi betapa hatiku terluka karena kehilangannya. Wajahnya yang tegas tak merespon sama sekali.
Aku menarik koper keluar rumah, tidak banyak yang aku bawa. Hanya baju sehari-hari sebelum aku masuk ke rumah ini. Semua pelayan menunduk hormat ketika aku memasuki halaman.
Ada jalan kecil menuju gerbang, aku sudah memesan taksi. Sebelum benar-benar keluar, aku berhenti. Menoleh kebelakang. Melihat rumah mewah bercat putih itu untuk terakhir kalinya.
Aku mengembuskan napas berat lalu berjalan kembali, pergi meninggalkan Wikra dan juga harapan untuk terus bersamanya.
.......
__ADS_1