Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Perjalanan


__ADS_3

Bagi Wikra, cinta seperti angin yang tidak bisa digenggam. Dia pernah berdosa dan mungkin Tuhan sedang menegurnya. Kalau itu karma Tuhan, maka sangat berhasil. Kini hatinya hancur, hidupnya terasa begitu menyakitkan.


Wanita yang dulu dia benci karena merebut kasih sayang orang tua angkatnya, kini menjadi orang yang paling berharga bagi Wikra melebihi nyawanya sendiri.


Wanita itu mengajari cinta sekaligus luka hingga ia tahu apa arti ketulusan.


"Apa seharusnya aku tidak datang di hidupmu lagi?" tanya Yifei.


Sekarang mereka berada di rumah sakit, tidak ada pendonor yang cocok. Harapan Wikra kian menipis. Waktunya tidak lama lagi. Kondisi Yifei setiap hari semakin memburuk.


Dokter berkata untuk bersiap dengan segala kemungkinan.


"Aku pernah berpikir begitu, andai kamu tidak datang di hidupku lagi, pasti aku nggak bakal sedih kayak gini."


Kalau Yifei dan Ahin tidak datang di hidup Wikra lagi, mungkin saat ini Wikra tidak merasakan sedih dan terpuruk.


"Maaf, seharusnya aku tidak pernah datang di hidupmu." Yifei menunduk. Terlihat sangat merasa bersalah.


Wikra mengambil tangan Yifei yang berada di sebelahnya, pohon rindang membuat panas matahari tidak sampai ke mereka. Udaranya sejuk.


Orang-orang berlalu lalang, cukup jauh dari taman rumah sakit itu. Tepatnya berada di ujung lorong ruang rawat inap. Yifei baru saja diinfus setelah keadaannya tidak stabil. Ia menghabiskan tiga botol infus hingga bisa bertenaga kembali.


Wikra menemani dengan tulus seolah tidak akan meninggalkan Yifei sekalipun wanita itu menjadi abu.


"Tapi setelah kupikir lagi, satu hari bersamamu sama seperti satu tahun kebahagiaanku. Kalau kamu tidak datang di hidupku lagi, maka aku akan menjadi cangkang tanpa isi.


"Aku hanya akan menghabiskan hidupku dengan bekerja, mabuk-mabukan dan tidur dengan sembarang wanita. Aku tidak akan memiliki makna hidup.


"Sejak ada kamu, aku merasa Tuhan memberikan hidayah sekaligus karma. Kebahagiaan sekaligus rasa sakit. Surga sekaligus neraka. Meskipun demikian, aku bersyukur karena bisa mencintaimu dengan tulus."


Mendengar penjelasan Wikra membuat air mata Yifei jatuh, ia menyekanya buru-buru. Tidak berani melihat Wikra, kepalanya menunduk. Divonis kanker sudah membuat hatinya sakit, sekarang ditambah meninggalkan pria yang mencintainya. Ini sangat buruk.


"Kalau aku nggak dapat donor dan mati gimana?" tanya Yifei.


"Aku akan ikut denganmu."


Mendengar jawaban itu Yifei menoleh. Melihat wajah Wikra yang serius. Yifei langsung melepas tangannya dari Wikra.


"Kamu jangan bodoh, kamu harus merawat Ahin."


Langit cerah dengan kumpulan awan, Wikra menatapnya dengan pandangan kosong, sekarang Ahin sudah bersekolah. Berkumpul bersama teman-teman akan membuat perkembangan anak itu tidak terganggu di masa genting. Yifei selalu sibuk memikirkan Ahin setiap kali menjalani pengobatan.


Meskipun usianya baru 4 tahun, anak itu cerdas dan bisa mengimbangi teman-temannya. Wikra bilang pada guru, kalau umur Ahin belum bisa lanjut ke SD. Tidak apa.


Wikra hanya ingin Ahin bisa mengalihkan perhatiannya dari ibu yang sakit. Dan Yifei fokus pada pengobatan.


"Ahin sudah ada Opa dan Omanya. Reina juga sangat menyanyi Ahin. Tapi kamu... sendirian."

__ADS_1


"Kamu nggak sayang Ahin?"


"Aku lebih sayang kamu."


"Ahin darah dagingmu."


"Kamu belahan jiwaku."  Wikra menoleh, menatap Yifei dengan serius.


Yifei diam, menatap bola mata Wikra tanpa keraguan sedikitpun. Lalu wanita itu mengembuskan napas berat. "Berjanjilah padaku untuk selalu melindungi Ahin."


Wikra diam, embusan angin menerbangkan helaian rambut Yifei. Wanita itu menatap penuh permintaan. Sesuatu yang sulit dikabulkan Wikra.


"Kumohon berjanjilah."


Setelah diam lama, akhirnya Wikra menjawab. "Aku berjanji."


"Kalau begitu aku bisa tenang, ayo semangat jalani pengobatan. Walaupun besok aku mati, hari ini kita harus tetap berusaha."


Yifei tersenyum, sangat cantik di mata Wikra. Tubuh wanita itu semakin kurus, wajahnya pucat dan tenaganya sedikit. Tapi bagaimana bisa hatinya sekuat ini? Wikra tidak mengerti sama sekali.


"Kita harus jemput Ahin, dia pasti merindukanmu karena semalam kita tidak pulang."


Yifei mengangguk, terlihat merindukan Ahin dan ingin segera bertemu. Tadi malam tiba-tiba Yifei down, Wikra langsung melarikan ke rumah sakit. Setelah dirawat semalaman, kondisinya membaik.


Dokter menyarankan supaya Yifei di rumah sakit saja, tapi wanita itu menolak. Katanya takut Ahin sedih, ia ingin menghabiskan waktu bersama putranya lebih lama.


Mobil melaju dengan kecepatan normal menuju sekolah Ahin, sudah ada baby sitter yang menjaga. Juga supir yang setia menunggu. Tapi hari ini mereka akan menjemput Ahin sendiri.


Tubuhnya pendek, pipinya tembem. Ahin memang cerdas, tapi fisiknya sulit berkembang. Ia masih belum bisa mengucap 'R' sampai sekarang. Padahal biasanya anak seusia Ahin sudah fasih.


Wikra pikir tidak masalah, setiap anak memiliki perkembangan dan kemampuan sendiri. Ia tidak ingin memaksa Ahin harus bisa segala hal.


"Mama! Papa!" Teriaknya.


"Ahin!" Yifei melambaikan tangan sembari tersenyum lebar.


Bocah balita itu berlari melewati anak-anak yang lain, senyumnya lebar. Sangat senang dijemput.


Wikra menggedong Ahin tinggi-tinggi, putra semata wayangnya itu sudah menyukainya. Tidak lagi membenci seperti pertama kali bertemu.


"Semakin besar kok Ahin nggak mirip aku lagi ya?" tanya Wikra. Menyenggol pipi Ahin yang tembem.


"Ahin mirip kakeknya, matanya sipit dan hidup mancung. Tapi sifatnya yang nakal mirip banget sama Papanya." Yifei ikut menyenggol pipi Ahin gemas.


"Ahin milip Mama." Bocah itu menyilangkan tangan di depan dada.


Kalau dilihat lagi, Ahin memang lebih mirip kakeknya yang memiliki gen Chinese. Matanya sipit, berkulit putih dan hidungnya mancung. Berbeda dari Wikra yang memiliki kulit lebih gelap.

__ADS_1


"Ahin nggak pingin mirip Papa?" tanya Wikra.


"Gak!" Bocah itu menggeleng. Tidak ingin mirip Papanya.


"Padahal Ahin udah mirip Papa," ucap Yifei.


Mereka masih berdebat tentang Ahin lebih mirip siapa selama perjalanan pulang, tak lupa bocah itu meminta es krim di pinggir jalan.


Bagi Wikra, hidup seperti ini adalah kebahagiaan luar biasa. Bercanda dan menghabiskan waktu bersama anak istri. Ia merasa menemukan alasan hidup di dunia. Berharap waktu berhenti di saat ini untuk selamanya.


"Besok ulang tahun Reina, kamu belum beli kado." Yifei mengingatkan.


"Nanti aku pesan, biar sekretarisku yang beliin," ucap Wikra. Matanya fokus menyetir.


"Sekalian ambilin punyaku, aku udah pesen tas dari Paris yang Reina pinginin."


Ahin yang masih fokus makan es krim tertarik dengan pembicaraan. "Ahin juga da kado."


Yifei menoleh ke belakang. "Ahin ngado Tante Reina apa?"


"Ahin kado poto Ahin."


"Ahin ngado foto Ahin sendiri?" tanya Yifei, ia mengerutkan kening karena kurang mengerti.


Bocah itu mengangguk. Wikra bisa melihatnya dari kaca.


"Kenapa Ahin ngadoin foto Ahin sendiri?" tanya Wikra penasaran.


"Tante Leina bilang, Ahin ganteng." Bocah itu menjawab sembari menjilati es krimnya yang mencair.


Yifei tertawa. "Kepercayaan diri Ahin mirip banget sama kamu, Mas."


Wikra menyangkal, "aku nggak sepede Ahin. Suer."


Mereka tertawa dan mengobrol selama perjalanan pulang.


.


.


.


bersambung


makasih banyak buat temen-temen yang masih mau baca cerita ini.


sebenarnya aku sempet bingung cerita ini mau digimanain, soalnya kan niat awal buat lomba, tapi baru daftar udah ditolak.

__ADS_1


kupikir setiap cerita ada jalannya masing-masing, walaupun gk sekarang, mungkin suatu hari nanti ada jalan buat Wikra and family.


aku bakal selesaiin cerita ini pelan-pelan. Up setiap Sabtu minggu ya manteman. Semoga temen-temen gk keberatan. Sekali lagi makasih banyak ❤️


__ADS_2