Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Telat


__ADS_3

Udara di sekitar kami semakin dingin, ntah karena AC atau karena ekspresi Wikra. Dia melihat kertas itu dan sedikit meremasnya. Pikirannya berada di tempat lain.


Mungkin aku mengganggu waktunya, dia adalah orang sibuk yang tidak mau diganggu barang sedetikpun. Pernah dulu dia marah-marah karena aku ke kantor, di depan para sekretaris dan karyawan aku dipermalukan lewat makian.


"Cepat tanda tangani kalau kamu setuju," kataku. Tidak ingin membuang waktunya lebih lama. Takut dia mengamuk. "Atau ada yang ingin kamu tambahin?"


"Nggak ada."


Wikra meletakkan dokumen itu dan menandatangani tiga surat perjanjian tersebut. Satu untukku, satu untuk Wikra dan satunya untuk pengacara. Dengan ini kami resmi bekerja sama. Sekarang aku lega bisa menjamin hidup Ahin kedepannya.


Aku mengambil dua dokumen yang dengan wajah tersenyum puas, langsung memasukkan ke tas. Meninggalkan satu dokumen untuk pegangan Wikra.


"Nanti malem aku bakal bilang ke orang tuamu setuju menikah kembali," kataku sembari berdiri. "Maaf sudah mengganggu waktumu, aku pergi dulu."


Aku segera melangkah, hendak meninggalkan ruangan. Namun, tiba-tiba Wikra menarik tanganku hingga aku berbalik. Menatapnya bingung.


"Ada apa?" tanyaku, sedikit mendongak ke atas. Melihat ekspresi wajahnya yang seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Nggak papa," jawabnya. Melepaskan tanganku.


Aku kembali berjalan tanpa melihat ke belakang lagi, setelah memberikan berkas ini ke pengacara, aku harus ke rumah sakit.


Akhir-akhir ini aku merasa bagian bawah tulang rusuk sisi kanan penuh sesak. Aku takut hatiku bengkak seperti sebelumnya, harus segera menemui dokter supaya gejalanya tidak semakin parah.


Aku mengetahui penyakit ini satu tahun yang lalu, bahkan aku sempat menjalani pengobatan di Singapura hingga operasi. Hanya saja Tuhan berhendak lain. Kemoterapi hingga obat tradisional, aku sudah mencoba kemungkinan terbaik bertahan hidup.


Tapi, sebulan lalu, gejalanya kambuh lagi. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Dokter mengatakan jalan satu-satunya adalah donor hati. Sayangnya golongan darahku langka dan aku anak tunggal. Tidak ada yang bisa menjadi pendonor.


Hanya keajaiban yang bisa membuatku bertahan hidup, sekalipun ada pendonor, tubuhku yang sudah semakin lemah sulit melangsungkan operasi. Aku hanya bisa mencegah gejalanya supaya bisa bertahan lebih lama di sisi Ahin dan memberikan kenangan indah untuknya.


"Fei!" Teriakan itu membuatku menoleh, padahal aku baru saja melangkah keluar dari gedung NEXT Media.


Ezharion berlari menghampiriku, napasnya tersengal-sengal. Keringat bercucuran.

__ADS_1


"Kamu lagi ada syuting di sini?" tanyaku.


"Aku cari kamu," jawabnya.


"Oalah, ini aku mau ke kantor pengacara."


"Ngapain?"


Aku menundukkan surat yang baru ditandangani Wikra, mata Ezharion melotot. Dia terkejut dengan isinya.


"Kamu mau menikah kembali dengan Wikra?!" tanyanya dengan nada tinggi.


Aku mengangguk, mengambil kembali surat tersebut untuk dimasukkan ke dalam tas. Orang-orang di sekitar kami melihat. Aku menarik Ezharion berjalan keluar menuju halaman.


"Aku udah mikirin ini baik-baik, gimana pun aku harus ngasih kenangan indah keluarga harmonis untuk Ahin. Aku juga harus menjamin hidup Ahin setelah aku tiada."


Ezhar mencengkeram kedua bahuku. Matanya menatap penuh penekanan.


"Aku kan udah bilang bakal ngasih pengobatan terbaik buat kamu!"


"Kalau Singapur nggak bisa ngobatin kamu, aku bakal bawa kamu ke Amerika atau Taiwan yang pengobatannya bagus! Fei, aku bakal lakuin apa aja biar kamu sembuh."


Perutku tiba-tiba sakit, rasanya sesak dan mual. Tekanan ini membuat aku tidak nyaman dan tubuhku terkejut. Aku mengaduh, memegang perut.


"Kamu kenapa, Fei?"


"Perutku sakit," kataku.


"Maaf udah bentak kamu, ayo aku bantu ke rumah sakit."


Ezharion memapahku ke mobilnya, dia memakai masker dan kacamata hitam. Membawaku ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Dia terlihat sangat khawatir.


Setelah sampai ke rumah sakit, Ezhar mengenakan topi dan membawaku ke UGD. Di sana dokter langsung menangani. Benar saja perutku sakit karena gejala yang semakin parah.

__ADS_1


Dokter menyarankan untuk rawat inap, tetapi aku hanya minta obat jalan. Rawat inap hanya akan membuang waktuku.


"Fei, rawat inap aja. Aku takut keadaanmu semakin buruk."


"Aku nggak mau, nanti Ahin nyariin aku. Habis infus ini aku mau pulang. Perutku udah mendingan kok."


Ezhar terlihat sedih mendengar jawabanku, dia terus mendampingi hingga infusku habis. Juga menebus obat di apotek. Seminggu sekali aku harus kontrol ke sini. Meskipun tidak bisa menyembuhkan, setidaknya bisa menekan gejalanya menyebar.


Azan isya keadaanku sudah membaik, infus juga sudah habis. Aku ingin segera pulang. Ezhar mengantarkan sampai rumah, berulang kali dia bilang kalau ada apapun harus cepat menghubunginya.


"Makasih ya buat hari ini," kataku sembari turun dari mobil.


"Jangan lupa minum obat, makan teratur dan istirahat."


"Iya."


Aku melambaikan tangan sampai mobilnya tidak terlihat lagi. Pasti Ahin dan semua orang sudah menungguku.


Sebenarnya aku ingin mengatakan soal penyakit ini, tapi aku takut mereka khawatir. Terlebih Wikra pasti menganggap aku menyusahkan dan tidak mau menikah kembali.


Pasalnya perjanjian pernikahan adalah satu tahun. Sementara umurku kata dokter hanya 8 bulan. Berarti penyakitku parah saat masih menjadi istrinya. Wikra pasti keberatan memiliki istri yang sakit-sakitan.


Tanpa aku sadari, Wikra melihatku dari kejauhan. Saat berbalik, mata kami bertatapan. Sepertinya dia marah karena aku pulang telat.


.


.


.


bersambung


jangan lupa dukung lewat like, komen dan lempar bunga ya.

__ADS_1


kalau suka cerita ini biar up makin lancar, share cerita ini di sosmed kamu. Krn semakin banyak yg baca Ka Umay semakin semangat buat update (◍•ᴗ•◍)


__ADS_2