Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Kain


__ADS_3

Ezhar ingat betapa terlukanya Yifei saat diusir Wikra dari rumah. Sahabatnya itu terpuruk, sedih dan terluka. Tetapi tak sekalipun ditunjukkan pada siapapun.


Dari saat mereka remaja, wanita itu selalu sama, yakni pura-pura kuat. Terlihat tangguh dan kokoh seperti tidak ada yang bisa menggoncangnya. Bahkan ketika kedua orang tuanya meninggal, gadis itu tidak menunjukkan kesedihan.


Gadis sebatang kara tidak memiliki kerabat, usianya baru 16 tahun, sangat muda untuk mengurus pemakaman, hutang piutang dan pengajian. Namun, Yifei bisa.


"Fei, kamu istirahat aja, biar aku yang nerima tamu."


Ezhar tidak pernah melupakan hari itu, hari di mana Yifei kehilangan orang tua.


"Aku mau tidur bentar ya. Nanti bangunin jam tiga."


"Iya, kamu istirahat sana, dari kemarin kamu nggak tidur."


"Yaudah, makasih banyak. Itu aku udah beli teh di bawah meja kalau ada tamu dateng tolong suguhin."


"Iya," jawab Ezhar.


Sejak orang tua Yifei kecelakaan hingga meninggal, wanita itu tidak istirahat sama sekali, banyak hal yang harus diurus sampai tidak ada waktu untuk menangis. Dengan cekatan Yifei segera mengurus pemakaman, meminta ganti rugi dari pelaku, mengurus asuransi, melunasi hutang piutang dan menerima pelayat.


Ezhar menatap punggung Yifei yang menjauh, tubuh kecil dan ringkih itu sedang lelah tapi tetap terlihat kokoh.


"Permisi, apakah anda keluarga korban?"


Pertanyaan itu membuat Ezhar menoleh, ada dua petugas rumah sakit. Ia melihat ke belakang dua petugas tersebut, rupanya gerbang rumah yang ada bendera kuning membuat mobil hanya parkir di samping jalan raya. Ia bahkan tidak sadar dua petugas itu masuk ke halaman.


"Iya," jawab Ezhar.


"Kemarin jam tangan korban ketinggalan, ini kami kembalikan."


"Terima kasih," jawab Ezhar sembari menerima jam tangan yang kacanya sudah pecah dan ada cipratan darah.


Para tetangga sudah pulang sejak pemakaman kemarin, hanya tamu dari rekan orang tua Yifei yang masih berdatangan satu persatu.


Dua petugas rumah sakit itu pergi, meninggalkan Ezhar di halaman rumah sendirian. Usia mereka baru 16 tahun, tapi tidak memiliki orang dewasa untuk bergantung.


Ezhar masuk ke dalam, hendak memberikan jam tangan pada Yifei, tepat di depan pintu kamar ia berhenti. Mendengar suara isak tangis yang tertahan. Yifei menangis, begitu sedih hingga hatinya ikut nyeri mendengarnya.


Ezhar hanya bisa duduk dan menyandarkan punggungnya di pintu, mendengar suara Yifei yang merasa kehilangan. Mereka kenal dari kecil, orang tua Yifei sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.


Sekarang Ezhar juga merasa menjadi yatim piatu sama seperti Yifei, dia berjanji akan selalu ada di samping wanita itu hingga tidak ada lagi yang merasa kesepian.


Keesokan harinya Zara, Mamanya Wikra datang, menangis meraung-raung kehilangan sahabatnya. Wanita paruh baya itu menjadi wali Yifei, memberikan uang tiap bulan bahkan membiayai kuliahnya.

__ADS_1


Sesaat Ezhar merasa senang karena hidup Yifei tidak terlunta-lunta, masih ada orang baik yang mau mengurus Yifei hingga dewasa. Hingga Zara menjodohkan sahabatnya itu dengan Wikra.


"Apa kamu senang?" tanya Ezhar.


Yifei tersenyum begitu lebar, dia tampak bahagia, kepalanya mengangguk beberapa kali.


"Aku seneng banget, dari dulu ngefens sama Mas Wikra tapi nggak berani nyapa. Nggak nyangka Tante Zara malah jodohin kami."


Ezhar tidak tahu harus merasa senang atau tidak, selama ini apapun yang membuat Yifei bahagia maka dia akan bahagia juga. Namun, kenapa sekarang tidak?


"Aku juga ikut seneng," ucap Ezhar. Berbohong.


"Makasih, pokoknya kamu wajib ngasih kado spesial."


Mereka seperti saudara, Yifei kadang bersikap kekanak-kanakan di depan Ezhar.


"Aku dateng itu udah spesial banget. Aku ini artis papan atas, harusnya kamu bangga artis terkenal kayak aku dateng di pernikahanmu."


"Hahahah iya deh iya. Percaya pokoknya."


Kebahagiaan hari itu sampai di pelaminan, Ezhar menyaksikan Yifei dipersunting, bersanding dengan Wikra memakai gaun putih panjang yang sangat cantik.


Ada sesuatu yang sakit di sudut hatinya, Ezhar tidak tahu itu apa. Padahal Yifei sangat bahagia. Bukankah seharusnya dia juga ikut bahagia?


Mungkin, dia merasa kehilangan sosok sahabat. Mungkin, ia takut Yifei tidak memiliki waktu bermain dengannya lagi setelah menikah. Mungkin, dia takut perhatian Yifei terbagi dengan suami dan keluarga barunya.


Itu adalah curhatan Yifei setelah seminggu menikah.


"Mantan pacar mungkin, belum bisa move on, coba tanyain."


"Mas Wikra tu dingin, jarang ngomong, aku takut."


"Dari pada curigaan. Kamu nggak boleh suuzon sama suami, dosa. Biar clear harus dijelasin terang-terangan. Saling terbuka."


"Kayaknya harus git, besok aku coba tanyain."


Setelah hari itu, Yifei menjadi sangat sulit ditemui. Dia tidak tahu apa yang Wikra perbuat pada sahabatnya, setiap ditelepon, Yifei hanya menjawab singkat dan bilang sibuk.


Sampai suatu hari dia mendatangi rumah Wikra, bertatapan langsung dengan suami sahabatnya.


"Di mana Yifei?"


Wikra mendekat sembari menyilangkan tangan di dada. Menantang Ezhar.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu, jangan pernah temui istriku lagi."


Ezhar sangat marah, ia lebih mengenal Yifei jauh sebelum Wikra datang. Tak lama kemudian Yifei keluar, bertatapan dengan Ezhar. Wajahnya tampak pucat.


"Ez, kamu pulang aja. Aku nggak papa."


"Fei?!" Bentak Ezhar. Dia masih berusaha mencari tahu kenapa sahabatnya berubah drastis.


"Ez, kumohon pulanglah."


"Kau dengar kan, istriku menyuruhmu pulang."


Ezhar tak ada pilihan lain. Hingga dua minggu kemudian ia bertemu lagi dengan Yifei dalam posisi hamil dan diceraikan. Hatinya terluka melihat sahabatnya diperlukan seperti itu.


Bahkan binatang pun masih memiliki belas kasih, tetapi Wikra menganggap Yifei lebih rendah dari binatang. Malah memperlakukan seperti sampah.


Ia ingin menghajar Wikra hingga mati, hanya saja Yifei terus menahannya.


Sekarang, 4 tahun setelah kejadian itu, Yifei mau menikah kembali dengan Wikra. Apakah sahabatnya itu masih belum sadar bahwa Wikra pria jahat? Apakah matanya belum terbuka setelah semua kejadian 4 tahun lalu? Ezhar benar-benar tak habis pikir.


"Ez, kemarilah!" Panggil Yifei.


Mereka janjian di tempat gaun pengantin, Yifei ingin Ez menjadi keluarganya dan hadir memakai baju seragam.


Ezhar sudah memikirkan ini baik-baik, ia harus mencegah pernikahan kembali antara Yifei dengan Wikra. Supaya Yifei dan Ahin tidak menderita.


"Fei, aku mau ngomong."


"Hmm kamu mau ngomong apa?" Yifei menoleh. Kain di tangannya sekilas tampak halus, cocok digunakan seragam pernikahan.


Ezhar menatap mata Yifei dengan pasti.


"Menikahlah denganku, aku akan menjagamu dan Ahin."


Kain yang dipegang Yifei terjatuh, wanita itu seakan membeku, menatap bola mata Ezhar dengan raut wajah terkejut.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung


jangan lupa pencet like, komen dan lempar bunga ya gengs. makasih banyak udah mampir. temen-temen bisa juga mampir ke channel telegramku, ketik dipencarian telegram nama channelku Dimensi Halu, Klik yang ada profilku. trus gabung. Di sana aku post side story


__ADS_2