
"Mama!" Panggil Ahin.
Bocah itu membawa kucing yang kotor, tak hanya si kucing tapi m Ahin juga ikutan kotor. Yifei segera beranjak dan tidak menjawab pertanyaan Wikra tentang pernikahan selamanya.
"Kamu kok bisa kotor gini?" tanya Yifei sembari menunduk.
"Kena lumpul cana," jawab Ahin menunjuk sebelah pot ada tanah berair.
Bukannya merasa bersalah, Ahin malah tersenyum sembari menggendong kucing kotor. Tangannya juga mengelap pipinya sendiri. Membuat cemong semakin lebar.
Yifei tertawa melihat tingkah putranya. "Ayo mandi."
"Miao gak cuka mandi," kata Ahin.
"Walaupun Miao nggak suka mandi, bukan berarti Ahin juga nggak mandi."
Bocah balita itu cemberut, dia tidak suka mandi. Main kotor-kotoran dengan Miao baginya yang terbaik.
"Meong meong." Si kucing protes karena Ahin menghalanginya bermain di lumpur.
Wikra berdiri dan menghampiri mereka, dia mengambil Miao dari gendongan Ahin. Melihat kucing kecil penuh lumpur itu. Wajahnya tampak jijik.
Si kucing meronta karena Wikra asal memegang salah satu kakinya.
"Ih, ini kucing jelek. Kalau kamu mau, Papa akan belikan kucing Persia yang bagus."
"Meong!" Si kucing meronta hingga mampu memberikan cakaran di bibir Wikra.
"Auuhhhk!" Wikra melempar si kucing.
Si kucing segera menghampiri Ahin, meminta perlindungan.
"Kamu nggak papa, Mas?" tanya Yifei khawatir karena Wikra baru saja dicium kucing lewat cakaran.
"Perih," jawab Wikra.
"Wikla jahat ya Miao," kata Ahin. Dia membela kucingnya dari pada Wikra.
"Meong." Si kucing menjawab, merasa menang.
Wikra merasa itu kucing jadi-jadian, bagaimana bisa mengerti semua ucapannya. Terlebih si kucing mampu berkomplot dengan Ahin.
__ADS_1
"Cepat diobati nanti infeksi," kata Yifei.
"Obatin...." ucap Wikra manja. Wajahnya memelas seperti si kucing.
Yifei tampak bingung, ia melihat Ahin dan Wikra bergantian. Harus memilih memandikan Ahin atau mengobati Wikra.
"Mas obati sendiri aja ya, aku mau mandiin Ahin."
"Heh. Kok kamu pilih kasih gitu?" Protes Wikra, tidak terima Yifei lebih memilih Ahin.
Sementara itu Ahin memainkan alisnya sembari tersenyum, mengejek Wikra. Sekilas dia juga melihat kucing kecil ikut tersenyum.
"Kamu udah besar, obatin sendiri. Aku mandiin Ahin dulu."
Yifei meraih tangan Ahin, meninggalkan Wikra yang masih memegang bibirnya. Pria itu ditinggal sendirian di taman rumah.
Ahin berbalik bersama kucingnya, ia menjulurkan lidah mengejek Wikra. Melihat itu Wikra membuka lebar mulutnya, ia memegang belakang kepalanya melihat kelakuan licik sang anak.
Yifei membawa Ahin ke kamar mandi, memandikan Ahin beserta kucingnya. Mereka bermain busa, hanya saja si kucing tidak mau masuk air, Yifei bekerja keras memandikan dua mahluk yang sangat kompak tersebut.
"Ma, Om Es mana?"
"Om Ez sibuk, akhir pekan ini film barunya Om Ez rilis. Ahin mau lihat nggak?"
"Mauuu!"
"Nanti Mama bilang ke Papa supaya akhir pekan kita ke bioskop ya."
"He.em." Ahin menganggukkan kepalanya.
Dia menjadi semangat mandi supaya tampan, mengusap pipinya yang kotor dengan busa. Gigi kelincinya terlihat jelas ketika tersenyum seperti ini.
Ahin yang sangat menggemaskan membuat Yifei tersenyum lebar, ia menggosok punggung Ahin sembari bercanda. Sementara si kucing sudah bersih dan menunggu di kursi. Dia menjilati badannya sendiri setelah dikeringkan pelayan.
Meskipun banyak pelayan, Ahin hanya mau diurus Mamanya. Baginya, Mama adalah segalanya. Ahin suka Mama dan tidak suka kakak pelayan.
Ada satu lagi hal yang tidak Ahin sukai, yakni Papanya. Pertama bertemu Papa, ia membencinya. Karena Papa membuat Mama menangis.
Sebagai anak laki-laki yang pemberani, Ahin akan melindungi Mama. Hanya saja, akhir-akhir ini Mama sangat dekat dengan Papa. Ia sering melihat Mama tersenyum bahagia saat bersama Papa.
Ahin suka melihat Mama memakai gaun cantik, Mama tidak perlu bekerja sampai malam, tiap hari ada cemilan enak. Ahin sadar semua itu karena ada Papanya.
__ADS_1
Perlahan Ahin mencoba berdamai dengan Papa, apalagi Papa mengajarinya naik sepeda. Meskipun Papa sering merebut Mama darinya, tapi berkat Miao, ia bisa tahu dan menghalangi Papa. Mama miliknya, tidak boleh rebut Papa.
Tak terasa akhir pekan datang, ia mengenakan setelan hoodie bergambar kucing, topi dan tas punggung kecil. Kakak pelayan yang mendadani Ahin ikut gemas melihat pipi gembul bocah itu.
"Tuan muda gemesin banget," puji para pelayan.
"Tuan Wikra ganteng, Nyonya Yifei cantik. Sudah pasti Tuan muda kita setampan ini."
Mendengar segala pujian, Ahin terlihat senang, dia tidak sabar menunjukkan penampilannya pada Om Es.
"Ayo berangkat," kata Wikra muncul dari pintu.
Yifei masih sibuk dengan tas, ia membawa tas besar untuk perlengkapan Ahin. Bocah itu kadang rewel.
Wikra mengulurkan tangan pada Ahin, bocah itu tampak ragu untuk menyambutnya. Belum bisa berdamai sepenuhnya. Tapi tatapan mata Wikra terlihat tulus. Dengan ragu-ragu akhirnya Ahin mau digandeng Wikra.
Mereka jalan bertiga, sementara pengawal menyebar dan tidak mengawal dari dekat. Membuat Ahin nyaman dan merasakan kehidupan sebagai balita normal pada umumnya.
Mereka sampai di tempat acara, sudah ramai orang.
"Loh, katanya cuma ke bioskop. Kok malah ke tempat meet and great si baji-- eh Ezhar?" tanya Wikra.
"Hari ini pemutaran perdana film Ezhar, Ahin ingin lihat." Yifei menjawab santai. Tidak perduli dengan Wikra yang memasang wajah kesal.
"Om Es!" Teriak Ahin membuat Ezhar yang sedang foto bersama penggemar menoleh.
.
.
.
.
bersambung
manteman, aku minta bantuannya subscribe/klik berlangganan novel baruku di K B M A p p
judulnya Bayi Bos. Satu klik dari kalian sangat berharga buat aku. tolong ya, biar cerita di sana sama di sini seimbang dan aku gk perlu milih salah satu 🤧
makasih banyak
__ADS_1