
Tidak peduli rambutku rontok dan pucat aku tetap cantik di mataku sendiri. Aku menerima keadaan diriku lebih dari yang orang lain bayangkan. Sebagai perempuan, aku sudah menjadi istri dan ibu yang baik. Bisa dibilang tidak ada penyesalan dalam hidup.
"Mau berdansa denganku?" tanya Wikra.
Setelah mengambil foto-foto masa lalu Wikra, aku kembali turun dan bergabung dengan orang-orang. Aku tersenyum dan mengambil uluran tangan Wikra.
"Tapi aku nggak bisa dansa," jawabku.
Wikra berbisik, "kamu cukup percaya padaku."
Tangan Wikra berada di pinggangku, kami memulai dansa dan berkali-kali aku menginjak kakinya.
"Apa kamu masih dendam padaku?" tanyanya berbisik. Menahan sakit, sepertinya ujung kaki Wikra bengkak.
"Aku kan udah bilang nggak bisa dansa."
Mata kami bertatapan, dari sana Wikra bisa melihat bahwa aku bersungguh-sungguh. Kemudian ia tersenyum.
"Untung kamu cantik, kalau nggak pasti aku marah."
"Aku nggak cantik, rambutku terus rontok dan mungkin sebentar lagi botak. Aku akan semakin kurus dan jelek."
Wikra diam sejenak dan kembali tersenyum, malah semakin hangat dari sebelumnya. Ia mencium keningku.
"Sekalipun kamu tinggal tulang, bagiku kamu tetap cantik."
Sejak Wikra mencintaiku, kepercayaan diri semakin meningkat. Wikra menerimaku apa adanya. Tidak memandang fisik dan membuatku terus merasa cantik. Dia memberikan energi positif.
Kami menyudahi dansa karena lagunya berganti, Ahin berlari ke arah kami. Lagu yang diputar sangat ceria dan bebas. Kami berjoget bersama dengan santai dan menikmati suasana pesta yang meriah saat balon-balon berjatuhan dari atas.
Papa Yuda merekam sembari terus tertawa, terlihat bahagia melihat menantu dan anaknya akur setelah sekian lama perang dingin. Aku saja tidak menyangka bisa seakur ini dengan Wikra. Dia sungguh banyak berubah sejak ada Ahin.
"Aku ikut!!" Reina berteriak sembari menarik Ezhar ke lantai dansa.
"Ayo goyang Ez!" Aku berteriak ke Ezhar yang hanya mematung.
"Kalau aku ngedance kamu harus bayar mahal," jawabnya.
Aku tertawa, mendorong Ezhar supaya mau bersenang-senang. Balon-balon terus berjatuhan. Ahin terlihat sangat senang menangkap balon. Ingatan indah untuk Ahin bahwa keluarganya pernah sebahagia ini.
Setengah sepuluh malam kami pulang, Ahin sudah tertidur di gendongan Wikra. Ezhar juga pamit. Sementara pesta masih dilanjutkan karena teman-teman Reina masih sangat banyak.
Aku minum obat pereda rasa sakit, ulu hatiku dari tadi nyeri. Kata dokter tidak boleh kecapean, tapi tadi aku malah terlalu bersemangat.
"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Wikra khawatir.
__ADS_1
Aku menggeleng. Hanya kelelahan, tidak perlu mengganggu istirahat Wikra dan Ahin. "Aku hanya perlu istirahat."
"Aku akan memanggil dokter ke rumah," kata Wikra.
Kami memiliki dokter keluarga, Wikra menyewanya untukku. Terikat kontrak dengan bayaran yang besar. Tertulis bahwa si dokter wajib datang kapanpun dipanggil.
Aku memejamkan mata sampai rumah, napasku terasa berat. Perutku sangat sakit. Sesampainya di rumah aku dibantu pelayan dan dokter ke kamar sementara Wikra menggendong Ahin.
Aku masih memejamkan mata menahan sakit ketika dokter menyuntik infus, perlahan kesadaranku mulai menghilang dan rasa sakit mereda.
"Kita harus bawa ke rumah sakit, Dok." Samar-samar aku mendengar suara Wikra.
"Tidak perlu, Nyonya hanya butuh istirahat, saya sudah memberikan obat."
Aku tertidur dan yang terakhir aku ingat adalah Wikra mencium tanganku, kurasakan betapa dia takut kehilangan. Hal itu membuat khawatir. Padahal cepat atau lambat ia harus melepasku pergi.
Keesokan harinya aku terbangun dengan Wikra di sampingku, infus sudah dilepas dan rasa sakit mereda. Aku menyingkirkan rambutku yang rontok dari bantal.
Aku tidur miring, memegang pipi Wikra dengan kedua tangan. Dia tampan. Kuharap ia akan tabah saat kita berpisah. Kalau ingin menikah lagi pun tak masalah asal istri barunya sayang pada Ahin.
"Kamu sudah bangun," ucap Wikra Masih enggan membuka mata.
"Makasih udah nemenin." Aku mencium kening Wikra.
Matanya perlahan perlahan terbuka dan tersenyum. "Tadi malam Yumna ke sini, sudah aku usir. Kalau dia datang lagi, kamu langsung usir aja."
"Kenapa Yumna ke sini?"
"Dia mengatakan omong kosong, nggak perlu didengerin."
Aku diam, Wikra memelukku dan kembali terpejam. Kalau dia tidak mau membahas maka aku harus diam. Kami kembali tidur sampai jam setengah enam.
Wikra pamit ke kantor sekaligus mengantar Ahin ke sekolah jam tujuh. Ia menyuruhku istirahat yang cukup.
Badanku sudah jauh lebih baik, Yumna membuat resah. Ia salah satu orang yang tahu Wikra bukan anak kandung.
Aku memutuskan untuk pergi ke panti asuhan Wikra hari ini, secepatnya menyelidiki asal usul Wikra supaya tidak ada masalah di masa depan.
"Nyonya, mobilnya sudah siap." Pelayan memberitahu.
Aku mengambil tas dan meninggalkan kamar, berjalan di antara pelayan.
"Neli kamu ikut saya."
"Baik, Nyonya." Neli mengangguk dan berjalan di belakangku.
__ADS_1
Kami keluar rumah menuju mobil yang sudah dibukakan pintu oleh supir, aku duduk di kursi belakang dan Neli di samping supir.
Wikra bilang hari ia akan rapat ke Singapur dan pulang malam. Sementara Ahin ada acara kemah-kemahan di TK dan pulang sore. Tidak ada kesempatan yang lebih tepat selain hari ini.
Sebagai ibu rumah tangga waktuku sangat legang, pelayan di rumah tidak membiarkanku memegang sapu. Aku juga tidak lagi menerjemahkan buku lagi. Kata Wikra aku harus fokus pada pengobatan.
"Mampir di toko buah di depan," kataku.
"Baik, Nyonya."
Supir menurut, memarkirkan mobil di depan toko. Aku mengulurkan uang pada Neli. Menyuruhnya membeli buah untuk oleh-oleh.
Aku membuka ponsel, kemeriahan pesta tadi malam menjadi trending topik karena kedatangan Ezhar. Video kami menari di bawah balon sudah diputar 20 juta kali padahal baru beberapa jam.
Efeknya ke Reina, komentar Netizen mempertanyakan siapa Reina sampai Ezhar mau datang. Aku mengundang Ezhar tanpa berpikir Reina akan disalahpahami sebagai pacar baru Ezhar. Pasti Reina akan kesulitan menghadapi wartawan dan netizen. Aku segera menghubungi Ezhar supaya dia menjelaskan ke media.
"Hmmm Fei ada apa?" terdengar Ezhar baru bangun tidur. Pasti dia belum melihat berita.
"Kedatanganmu ke pesta tadi malam jadi trending topik, tolong jelaskan ke media supaya Reina nggak disalah pahami."
Reina gadis yang sangat aktif, aku takut aktivitasnya terganggu karena berita ini.
"Biarin aja, nanti juga reda. Aku tutup dulu. Aku masih ngantuk."
Panggilan ditutup, Ezhar menyebalkan. Bagaimana saat ini dia bisa santai?
Dia pasti sudah biasa mengalaminya. Tapi tidak dengan Reina, apalagi sekarang Ezhar memiliki konflik dengan mantan pacar. Kepalaku sakit karena khawatir pada Reina.
"Nyonya, ini buahnya." Neli sudah kembali masuk ke mobil.
"Ah, iya."
Aku mengirim pesan ke Reina, menanyakan apakah ia baik-baik saja menerima banyak komentar fans Ezhar. Mobil kembali melaju di jalan raya, Reina membalas satu jam kemudian.
Aku segera membuka pesan dari Reina, "aku bisa gila kak."
.
.
.
bersambung
jangan lupa komen dan pencet like ya manteman. Kalau ada waktu mampir ke akunku di. I N N O V E L. insyaallah aku bakal ikut lomba di sana. 🥺 ngajuin naskah lain kok. bukan cerita ini. Mohon bantuannya tap love novel-novelku di sana. ðŸ˜
__ADS_1
Walaupun gagal di sini, aku terus berusaha ikut lomba di manapun. 🙂