
Tatapan Wikra padaku memancarkan keseriusan, bola berjatuhan di sekitar kami. Tawa orang-orang tidak terdengar sama sekali, pandanganku fokus padanya.
Jantungku berdebar kencang, senang dan takut. Aku tidak bisa mengekspresikan perasaan yang hadir.
"Apa alasannya?" tanyaku.
Di surat perjanjian, dia akan mendapatkan segalanya setelah satu tahun. Ahin dan harta. Sekarang baru berjalan satu bulan. 11 bulan lagi dia akan bebas, bisa memilih wanita lain yang dia cintai.
Kenapa malah mau terikat denganku selamanya? Padahal dia bilang tidak akan mencintaiku.
"Karena kamu yang terbaik," jawabnya.
"Masih banyak kok wanita yang jauh lebih baik dari aku," balasku.
"Kamu ibu dari anakku, nggak ada yang bisa gantiin kamu dalam merawat Ahin."
Aku juga pernah berpikir begitu, khawatir istri Wikra nanti tidak bisa merawat Ahin dengan baik. Sungguh, aku tidak takut mati, tapi aku benar-benar takut Ahin terlantar setelah aku tiada.
Aku ingin menjawab pertanyaan Wikra, aku ingin menjadi ibu Ahin untuk selamanya. Tapi kalimat selamanya bagiku kurang lebih 7 bulan lagi. Sekarang saja aku menambah dosis obat. Waktuku tidak banyak.
Jauh di dalam hati aku berharap ada keajaiban, aku ingin bersama Ahin dan Wikra lebih lama. Tidak bisa meninggalkan mereka. Apalagi membuat mereka sedih.
Aku mengusap air di sudut mataku, kembali melihat Wikra.
"Aku nggak bisa," jawabku.
"Kenapa? Apa kamu ingin bersama pria lain?" tanya Wikra emosi.
"Andai masalahnya seringan itu." Aku tersenyum miris. Sekuat tenaga menahan tangis.
"Memang apa masalah yang lebih besar dari itu?"
"Itu adalah masalah yang nggak akan kamu pedulikan," jawabku.
Wikra tidak akan peduli apakah aku sekarat atau mati, yang dia pedulikan hanyalah dirinya sendiri. Dia orang yang tidak pernah peduli pada masalah orang lain. Apalagi aku, wanita yang tidak akan pernah bisa mengambil hatinya.
"Beritahu aku apa masalahmu?"
"Aku sakit."
Dia harus menyerah sekarang, percuma berharap aku mendampinginya. Kami tidak akan pernah bisa bersama dulu ataupun sekarang.
"Sakit hati? Kamu masih sakit hati padaku tentang kejadian dulu? Aku kan sudah bilang akan berubah. Kenapa kamu nggak percaya? Kita udah sebulan lebih nikah, bukankah aku udah ada perbedaan?"
__ADS_1
Ezhar tiba-tiba menyela, "apa kamu pikir sakit hati Yifei bisa sembuh dengan mudah? Kamu pikir wanita mana yang bisa melupakan suami yang sudah membawa wanita lain ke rumah?"
Wikra salah paham dan ditambahi Ezhar. Terkadang mereka cocok meski sering bertengkar.
Aku mengembuskan napas berat, percakapan seperti ini tidak cocok didengar Ahin. Aku segera mengambil Ahin dari gendongan Ezhar. Tidak jadi memberitahu Wikra tentang penyakitku.
Dia adalah orang yang emosian, di pikirannya hanya suuzon. Tidak ada kepercayaan di antara kita. Menikah lagi pun hanya akan seperti ini.
"Aku akan menyembuhkan sakit hati Yifei. Dan itu nggak ada hubungannya sama kamu." Wikra menunjuk Ezhar.
Aku pergi membawa Ahin untuk bermain, tidak memedulikan dua pria yang sedang berdebat itu. Mereka sudah dewasa, aku tidak perlu memisahkan.
"Mama akit?" tanya Ahin menatapku cemas.
Aku menggeleng. "Mama baik-baik aja selama ada Ahin."
"Mama akit bilang Ain."
"Mama sungguh baik-baik aja, Ahin mau beli es krim?"
"He.em."
Aku keluar dari area mandi bola, meninggalkan Ezhar dan Wikra yang masih debat di dalam. Aku tidak peduli mereka menjadi tontonan.
"Ahin mau es krim rasa apa?"
"Mbak es krim stroberi dua ya?"
Aku menurunkan Ahin dan membayar, kami berjalan sembari makan es krim. Melihat-lihat permainan. Tak lupa foto bersama, melupakan rasa sakit di hatiku tentang Wikra.
"Ma, dolaemon!" Ahin menunjuk orang yang memakai kostum Doraemon.
"Ahin mau foto bareng Doraemon?"
"He.em."
Kami menuju ke orang memakai kostum Doraemon yang berada di samping elevator. Baru beberapa langkah tanganku ditahan seseorang. Aku segera berbalik.
Napas Wikra tersengal-sengal dengan keringat bercucuran. "Kenapa kamu ninggalin aku?"
"Salahmu sendiri sibuk," jawabku santai.
"Dengar Fei, aku akan membuat sakit hatimu hilang sampai kamu berubah pikiran."
__ADS_1
"Coba aja," tantangku.
"Kamu memberi kesempatan?" tanyanya serius.
Aku mengangguk, ingin lihat apa yang akan dia lakukan jika diberikan kesempatan untuk membuktikan keseriusannya.
"Sungguh?"
"Iya."
Mata kami bertatapan di tengah mall, orang-orang berlalu lalang tidak menghiraukan sampai Wikra berteriak.
"Aku, Wikramawardhana CEO Next Media akan membuat istriku memaafkanku hingga mau hidup bersama selamanya!"
Aku terkejut dan malu, orang-orang melihat ke arah kami dan berbisik.
"Apaan sih kamu, Mas. Malu tahu."
"Papa, malu." Ahin ikut-ikutan.
"Kenapa malu, aku melakukan ini untuk kalian."
Wikra tersenyum lebar. Dia mengangkatku yang sedang menggendong Ahin. Membuat kami jadi bahan tontonan.
Aku melihat sisi Wikra yang berbeda, dia tidak lagi memedulikan omongan orang. Matanya fokus padaku sembari tersenyum senang seolah sudah memutuskan sesuatu.
Prok! Prok! Prok!
Orang-orang malah bersorak melihat kami. Aku pun hanya bisa tertawa. Menikmati momen ini. Wikra menurunkanku. Lalu mencium keningku dan Ahin bergantian.
"Tunggu dan lihat, aku akan membuat kalian bahagia sampai lupa rasanya sakit."
.
.
.
.
bersambung
awalnya aku dah nyerah sama karya ini sampe ngeluarin karya baru di sebelah. daftar lomba gagal, gk dpt dukungan apk, views seuprit, pembaca juga sepi. dr 3 apk. followers ku di nt yang paling dikit hahahahaha
__ADS_1
ditambah karya ini gk rame. aku pikir Halah yaudah yg penting up sampe selesai. ada sedikit pembaca pun gk papa. seenggaknya masih ada yg nungguin.
tapi tadi dpt kabar katanya minggu dpn dpt slot promosi. mohon dukungannya ya manteman. lempar bunga dan share cerita ini. π₯Ίπ₯Ίππ