Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Pulang


__ADS_3

Aku menahan sakit di kamar mandi, memeluk lutut, keringat bercucuran dari pelipis, darah dari hidung sudah berhenti. Hanya saja perutku masih sakit sekali.


Andai aku memiliki saudara, mungkin bisa mendapat donor. Dokter menyarankan untuk dirawat di rumah sakit, katanya bisa menekan penyakitku.


Namun, berapa lama? Paling hanya satu tahun, bukankah sama saja aku akan tetap mati? Aku memejamkan mata, menahan sakit sekuat tenaga.


"Berikan aku sedikit waktu lagi, aku mohon Tuhan."


Walaupun nanti dirawat di rumah sakit saat aku tidak bisa berjalan lagi, ada hal yang harus aku lakukan dahulu, yakni memberikan kenangan indah untuk putraku. Sedikit lagi, aku mohon. Beri aku kekuatan.


Aku pingsan di kamar mandi selama beberapa jam, pukul dua dini hari aku tersadar, sudah tidak terasa sakit lagi. Aku segera berganti baju dan membersihkan noda darah.


Keluar dari kamar mandi, aku melihat Wikra tertidur di sofa. Ternyata dia sungguh-sungguh mengira aku tidak mau satu ranjang dengannya.


Aku menghampirinya sembari membawa selimut, dia terlihat kedinginan dengan posisi tidur yang tidak nyaman.


"Harusnya kamu tidur di ranjang aja," ucapku sembari berjongkok di samping wajahnya.


Wajah tampan yang mirip Ahin itu tertidur, bulu matanya lentik dan hidung mancung. Terlihat sangat lelah karena resepsi seharian.


Dia orang yang selalu berusaha keras untuk setiap hal, kalau sedang bekerja Wikra akan lupa makan dan tidur. Dia juga suka kucing sama seperti Ahin.


Aku ingat ketika kucing kesayangannya mati, dia sangat sedih dan tidak mau membuang mainan kucingnya.


Sebenarnya pernikahan pertama kali tidak sepenuhnya menyakitkan, ada kalanya kami bisa bicara santai layaknya orang yang saling menerima. Biasanya setelah melakukan hubungan suami istri dan Wikra dalam keadaan tidak emosional.


Ia akan mengajakku mengobrol santai sambil merokok di ranjang, dia cerita tentang perusahaan dan mimpi-mimpinya dengan antusias. Walaupun dalam impiannya itu tidak ada aku.


Aku akan mendengarkan sembari berbaring dengan tubuh ditutupi selimut, sesekali akan bertanya saat tidak mengerti bahasa perusahaan. Kupikir itu adalah kenangan yang manis.


Wikra juga pernah tersenyum padaku, waktu itu kami liburan tahun baru. Kami kehujanan ketika berlibur di bogor bersama keluarga besar.


"Padahal rambutku baru dismooting," keluhku.


Kami berteduh di bawah pohon rindang.


"Rambutmu kayak sarang lebah, jelek," ejeknya.


"Ini rambut tercantik di seluruh jagat raya ya Mas, jangan diejek." Aku merapikan rambut dengan jari.


Dia tertawa karena rambutku malah semakin mengembang, berantakan sekali. Di antara gerimis kami saling ejek tentang rambut, juga membandingkannya dengan rambut orang-orang.


Saat itu aku berpikir bahwa cinta telah datang di hatinya. Atau setidaknya menerimaku sebagai istri dan akan bersama selamanya. Ternyata tersenyum bukan berarti cinta, ramah bukan berarti menerima. Aku salah paham seperti orang bodoh.


Dia mencintai Yumna dan membuangku begitu saja, aku harus ingat bahwa pernikahan kali ini Wikra bersikap baik karena perjanjian pernikahan. Dia menginginkan hak asuh Ahin supaya saham berada di tangannya.


Dia hanya memikirkan harta, kemarin saja dia rela melepaskan tangan Ahin demi menyelamatkan barang-barang perusahaan.


Untuk anak kandungnya saja seperti itu, apalagi padaku? Dia tidak akan pernah bisa menerimaku dengan tulus.

__ADS_1


Aku berdiri, berjalan ke ranjang dan tidur dengan menahan perut yang kembali sakit. Aku berusaha tidur supaya besok tetap bertenaga, jangan sampai sakit di depan orang-orang.


Hingga sinar membuatku silau, mataku mengerjap, melihat sosok di pagi hari yang sering muncul dalam mimpi. Wikra.


"Selamat pagi," ucapnya berjalan duduk di ranjang.


Wikra sudah ganti baju, kini mengenakan kemeja putih. Bibirnya tersenyum lebar.


"Fei," panggilnya. Dia mendekat naik ke ranjang, wajahnya masih menunjukkan senyum. Jarak kami hanya setengah meter.


"Iya," jawabku singkat.


"Aku mencintaimu," ucapnya sembari tersenyum.


Kalau dia menjalankan tugasnya dengan baik seperti ini, maka aku akan semakin serakah meminta lebih. 


"Ucapkan itu di depan Ahin, bukan sekarang."


Aku duduk, mengikat rambut tanpa membalas senyumannya. Aku takut menjadi orang yang serakah karena memanfaatkan perjanjian kami untuk keinginanku.


Aku takut terbiasa dan bahagia dengan aktingnya. Aku takut menikmati ini semua dan lupa diri.  


"Apa kamu masih marah?"


"Untuk apa?"


"Sudahlah, cepat mandi dan sarapan. Ahin tadi ke sini saat kamu masih tidur. Sekarang dia menunggumu di bawah."


Baru kali ini Ahin tidak tidur denganku, pasti semalam dia rewel. Aku segera mandi dan berganti baju. Perutku lapar, roti dengan selai kacang sudah disiapkan. Aku memakannya dengan cepat.


Setelah roti habis aku keluar kamar, baru keluar aku langsung melihat Ahin melepaskan tangan Omanya dan berlari memelukku, wajahnya tersenyum lebar. Aku mengangkatnya dalam gendongan.


"Bunda angun?"


"Bunda udah bangun, Ahin udah makan belum?"


"Dah ma Oma."


Kepala kecilnya mengangguk hingga rambutnya bergoyang ke depan. Dia melingkarkan tangannya di leherku.


"Sekarang kita pulang ke rumah, aku sudah membereskan barang-barang." Kata Wikra mengusap rambut Ahin.


"Eh, emangnya Yifei udah sarapan?" tanya Tante Zara.


"Aku udah makan roti, Ma." Jawabku.


Pagi itu kami berpisah dengan Tante Zara dan keluarga besar. Wikra membawa kami ke rumahnya. Tempat yang dulu menjadi kenangan di pernikahan pertama.


Sekarang rumah itu banyak berubah, katanya sengaja menambah tempat untuk Ahin. Seperti kolam bola, area bermain kucing, kamar tidur, ruang belajar anak-anak usia dini, ruang santai, dan lain sebagainya.

__ADS_1


"Kamu masih suka nerjemahin buku 'kan? Aku juga siapkan meja kerja khusus buat kamu."


Wikra menunjukkannya dengan antusias seakan aku akan tinggal di sini selamanya. Padahal hanya delapan bulan, sebenarnya tidak perlu disiapkan seperti ini.


"Ahin suka nggak kamar yang disiapkan Ayah?" tanya Wikra.


Kepala bocah itu menggeleng, dia masih berada di gendongan. Tangannya melingkar di leherku.


"Ain tidul ma Bunda," katanya.


"Yang tidur sama Bunda itu Ayah, Ahin tidur sendiri." Wikra seperti anak kecil yang berebut dengan Ahin.


"Gak mau!"


"Terus Ayah tidur sama siapa? Kalau gitu kita tidur bertiga ya?" tanya Wikra.


"Gak oleh!"


Aku tersenyum mendengar pertengkaran kecil ini, terlihat seperti keluarga normal.


"Kita tidur bertiga aja, kasihan kalo Ayah tidur sendiri, nanti kesepian." Aku menyela.


"Miao Miao ikut oleh?" tanya Ahin menatapku. "Miao Miao cepian." Lanjutnya.


"Boleh," jawabku.


Wajah bocah itu terlihat senang, kami menata barang. Akhirnya tidur bertiga dan untuk sementara kamar Ahin kosong.


"Nyonya...."


Suara ini aku sangat familiar, aku menoleh. Mendapati pelayan yang dulu sangat dekat denganku, Neli.


"Neli." Aku tersenyum melihat matanya berkaca-kaca. Aku merentangkan tangan memeluknya.


"Akhirnya Nyonya kembali," ucapnya sembari terisak.


.


.


.


...


.


Bersambung.


hari ini up dobel. Jangan lupa lempar bunga dan bantu promo gaes. sedih liat views dan jumlah favoritnya yng seuprit. ༎ຶ‿༎ຶ

__ADS_1


__ADS_2