Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Jadi Diri Sendiri


__ADS_3

Plak!


Tamparan keras di pipi Wikra terlayang sempurna dari Mama. Wanita paruh baya itu kecewa terhadap Wikra yang mencari ayah kandungnya.


Wikra tahu sejak awal, sekecil apapun identitasnya tidak boleh terbongkar. Akibat dari identitasnya yang terbongkar adalah keluarganya bisa dimusuhi oleh keluarga besar karena dianggap curang soal warisan, sahamnya bisa anjlok dan keluarga mereka bisa terpuruk


Tapi Wikra sudah tidak peduli. Baginya hidup Yifei jauh lebih penting. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tak takut.


"Kamu sangat ceroboh dan bodoh!" Bentak Mama. "Bagaimana kalau orang itu membongkar identitasmu?"


Kalau dipikir lagi sebenarnya efek dari orang-orang mengetahui identitasnya tidak jauh lebih buruk dari hatinya yang terluka, sampai kapan ia harus begini? Kakek sudah meninggal dan hanya menyisakan nenek. Warisan tidak akan diambil kembali hanya karena identitas Wikra terbongkar.


"Apa itu lebih penting dari keselamatan Yifei?" tanya Wikra, merasakan pipinya yang panas.


Mama terdiam sejenak, melihat Wikra yang berbeda dari sebelumnya. Dulu Wikra sangat penurut, takut jika identitas terbongkar dan kembali ke panti asuhan.


Sekarang, Wikra jauh berbeda. Seperti orang yang tidak takut kehilangan segalanya.


"Kita bisa cari solusi lain, Wikra!" Mama masih bersikukuh.


Perkataan Mama seolah tidak tahu seberapa besar usahanya mencari pendonor untuk Yifei, ia sudah mati-matian mencari golongan darah yang sangat langka itu.


"Tidak ada solusi lain, kalau pun identitas ku terbongkar aku tidak peduli, saat ini yang paling penting adalah kesembuhan Yifei."


Wikra akan melakukan apapun demi hidup lama bersama Yifei, wanita yang berkali-kali ia sakiti itu sangat berharga. Ia tidak bisa ditinggal begitu saja setelah jatuh cinta. Hatinya bisa mati dan hidupnya akan hancur kembali.


"Kalau orang-orang tahu identitasmu, kamu bisa kehilangan posisi CEO Next Media." Mama berkata lirih. Memalingkan wajah.


13 tahun Wikra habiskan untuk membangun perusahaan itu, dia bisa didepak jika para pemegang saham bergabung dan mengusirnya. Para pemegang saham itu kebanyakan adalah kerabatnya sendiri. Orang-orang yang sudah mereka tipu.


"Dari awal itu memang bukan milikku seberapa pun berusaha, posisi itu milik Wikra bukan Alan." Wikra tersenyum miris.


"Wikra!" Bentak Mama.


Mama paling tidak suka jika Wikra membahas nama aslinya, mereka dulu sepakat menganggap Alan adalah Wikra untuk selamanya. Hanya saja, sekarang Wikra lelah pura-pura.


Semua yang ia miliki sekarang adalah milik Wikramawardana, sementara Alan hanya memiliki Yifei, wanita yang terus mencintainya tak peduli dengan identitas.


"Aku akan mundur dari posisi CEO dan mengungkapkan identitas," ucap Wikra masih dengan senyuman miris.


Keputusan yang tidak pernah ia bayangkan, hanya saja sekarang dia sangat lelah, Wikra memang memiliki segalanya, tapi Alan hanya memiliki Yifei.

__ADS_1


Mendengar itu Mama meraih tangan Wikra dengan panik. "Kamu jangan bodoh, kita sudah sejauh ini dan kamu mau kehilangan segalanya?"


"Ini semua bukan milikku." Wikra melepaskan tangan Mama. "Aku sangat lelah pura-pura menjadi Wikra, sekarang aku ingin hidup untuk diriku sendiri."


Hidup sederhana dan bahagia bersama keluarga kecilnya, Yifei sembuh dan mereka merawat anak-anak hingga tua. Sesederhana itu keinginannya sekarang.


Wikra berbalik dan pergi meninggalkan Mamanya, tidak peduli panggilan Mama yang mengatakan dia sudah gila. Wikra lelah, ia ingin istirahat tanpa beban.


Kembali masuk ke ruangan Yifei, anak-anak baru saja diantar pulang. Setelah menutup pintu ia mendesah berat, melihat Yifei tidak sadarkan diri sejak dua jam lalu. Anak-anak mengira Yifei tertidur.


"Kamu adalah obat sekaligus racun," ujar Wikra menatap Yifei.


Kedatangan Yifei yang kedua mengubah banyak hal, membuatnya sadar dan kembali ke tempat semula. Beban sebagai Wikramawardana yang tidak dia sadari kini mampu dilepas. Dari awal hidupnya yang penuh kebohongan adalah salah.


Wikra duduk di samping Yifei yang berbaring, memegang tangan penuh infus itu dan diletakkan di pipinya. Yifei telah mengobati hidupnya yang penuh luka, tapi juga meracuni hatinya hingga tak sanggup kehilangan.


"Kenapa sedih?" pertanyaan lirih keluar dari bibir Yifei. Sudah sadar.


"Aku bahagia bukan sedih," jawab Wikra sembari tersenyum, ia lega melihat Yifei membuka kedua matanya.


"Bahagia bertemu ayah?"


Wikra mengangguk. "Iya, terimakasih, kamu membuatku sadar bahwa aku Alan."


"Kamu membuatku sadar kenapa aku tidak pernah puas dengan hidupku, itu karena aku menganggap semua pencapaianku milik Wikra. Di rapat pemegang saham, aku akan bicara terus terang. Kalaupun mereka menurunkanku dari posisi CEO, aku akan terima."


Mendengar itu Yifei terkejut, menatap Wikra dengan rasa tidak percaya. Wikra yang mati-matian menutup identitas kini mau membukanya.


"Kamu bisa sampai di posisi tertinggi karena punya kemampuan, apapun yang terjadi, aku akan mendukung."


Ucapan Yifei menguatnya, Wikra menggenggam tangan rapuh itu lebih lama.


Beberapa hari kemudian Wikra datang ke rapat para pemegang saham, mereka kebanyakan kerabat jauh dan dekat. Orang-orang yang percaya uangnya diinvestasikan pada ponakan.


Hari itu, mereka mendengar hal yang sangat mengejutkan. Papa terdiam di tempatnya. Tidak menghentikan Wikra yang membuat kehebohan.


"Mas, yang dikatakan anakmu itu tidak benar 'kan?!" teriak salah seorang pemegang saham di ruang rapat. Bibi Wikra.


Papa diam saja, tidak menjawab dan menatap mereka.


"Bisa-bisanya kalian menipu kami?!"

__ADS_1


"Kamu bukan bagian dari keluarga! Tidak berhak berada di posisi ini!"


"Dasar orang rendahan!"


"Tidak jelas asal usulnya!"


Sumpah serapah meluapkan kekecewaan lainnya membuat Wikra terdiam. Dia sudah hafal sifat mereka yang memandang status dan keturunan.


"Sekali lagi saya minta maaf, saya akan mundur dari jabatan CEO dan keluar dari Next Media."


Wikra menunduk dalam-dalam, mendengarkan segala sumpah serapah mereka lalu keluar ruangan. Tidak melihat Papa Yuda sama sekali. Wikra tidak sanggup.


Semua usaha yang Papa dan Mama lakukan selama 25 tahun ia hancurkan begitu saja, bukannya sedih tapi Wikra malah lega. Ia bisa hidup sebagai dirinya sendiri. Tidak menanggung beban sebagai Wikramawardana.


Ia melihat lorong ruangan yang begitu panjang, biasanya dia berjalan dengan penuh keangkuhan demi menjaga kehormatan. Sekarang ia berjalan cepat sembari membuka dasi.


Bibirnya tersenyum, hari ini ia ingin menemui Yifei secepatnya dan mengatakan bahwa dia sudah dipecat dari posisi CEO. Bukannya sedih, Wikra malah merasa senang kehilangan segalanya.


"Aku bebas!"


Wikra ke arah tangga darurat yang berada di lantai tiga, ia berlari turun sembari membuang dasinya, jas hitam dilepas kancingnya. Wikra berlari melewati lobi menuju keluar gedung.


Napasnya naik turun, berbalik dan melihat gedung Next Media yang sangat tinggi. Perusahaan yang ia bangun dilepas begitu saja. Wikra melihat ke kakinya, di imajinasinya ada rantai yang sudah terlepas. Ia bebas.


Perkataan Yifei tadi pagi sebelum berangkat ke rapat pemegang saham terlintas di pikiran.


"Kamu hebat bukan karena kamu Wikramawardana dan anak orang kaya. Sekalipun kamu keluar dari Next Media dan mendirikan perusahaan sendiri, aku yakin kamu bisa."


Posisi yang dia dapatkan di Next Media karena ia adalah Wikra putra Yuda, lalu bagaimana jika dia menjadi Alan? Jantung Wikra berdebar kencang.


Kecerdasan, pengalaman dan koneksi sudah ia memiliki semuanya. Ia yakin bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berbohong.


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


gaes. bantu pencet love Ada Apa Dengan Presdir di I N N O V E L ya. 🤧🤧🤧


__ADS_2