Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Ponsel Lama


__ADS_3

Ahin semangat belajar setelah kubilang akan ke Jakarta, dia sudah pandai membaca hingga membuat para tetangga heran. Pasalnya anak biasa bisa membaca di usia 5 - 7 tahun. Namun Ahin belum genap 4 tahun sudah lancar. Orang-orang menjuluki Ahin sebagai anak jenius.


"Wo you sui ciao," kata Ahin membaca sembari menunjukkan padaku.


"Ahin, you sui ciao?"


"Shi," jawabnya.


Aku melihat jam dinding, memang waktunya Ahin tidur. Aku juga banyak pekerjaan.


Bocah itu menguap, ia menutup buku belajarnya dan menumpuk dengan buku yang lain. Hal yang selalu aku ajarkan padanya adalah membereskan barang-barangnya sendiri, mainan dan buku belajar.


"Ayo tidur," kataku sembari mengulurkan tangan. Dia menyambutnya dengan mata mengantuk.


"Dongeng," katanya.


"Ahin mau denger dongeng apa?"


"Ain mau kancil."


Malam itu aku membacakan dongeng kancil untuk Ahin sembari berpikir, siapakah yang akan membacakan dongeng untuk putraku setelah aku tiada? Apakah dia bisa tidur nyenyak seperti sekarang tanpaku?


Aku takut Yumna memperlakukan Ahin dengan buruk, bagaimana jika Ahin tidak akur dengan anak Wikra yang lain? Apakah aku bisa berpesan kepada Tante Zara supaya Ahin tidak tinggal serumah dengan ayahnya? Apakah boleh begitu? Pasti Ahin sedih jika dia terlihat berbeda dengan anak Wikra yang lain.


Hal yang paling aku takutkan adalah Wikra menyakiti Ahin, sama seperti dia tidak mengakuiku sebagai istri pada rekan kerjanya. Ahin terlalu kecil untuk terluka.


Apakah lebih baik aku percayakan Ahin pada Ezhar? Tidak, itu terlalu egois. Mana ada wanita yang mau menikah dengan Ezhar dan mengurus Ahin. Endingnya Ez akan memiliki anak sendiri dan ntah istrinya mau mengurus Ahin atau tidak.


"Bunda nggak takut mati, tapi bunda takut meninggalkanmu sendiri." Aku mengecup keningnya.

__ADS_1


Almarhum orang tuaku sudah memanggilku, merindukan untuk segera berkumpul. Aku mengelap mimisan dengan tissue. Lalu mengambil obat di dalam laci. Hanya pereda rasa sakit dan tidak menyembuhkan.


"Beri aku waktu sedikit lagi untuk menitipkan Ahin, supaya aku bisa pergi dengan tenang."


Sekali lagi aku memandang wajah Ahin yang tertidur pulas, dialah cintaku dan hidupku. Satu-satu yang aku khawatirkan sebelum meninggal.


Berulang kali aku ingin minta maaf padanya karena tidak bisa mendampingi lebih lama. Dia akan kehilangan banyak momen bersama ibu. Pasti dia akan tumbuh dengan rasa iri ketika melihat anak lain diantar ibunya ke sekolah. Aku sungguh menyesal dan minta maaf.


Aku kembali ke meja kerja, masih harus menyelesaikan pekerjaan sebelum ke Jakarta. Ada buku bahasa Mandarin yang harus diterjemahkan. Penerbit meminta selesai akhir bulan ini. Setelah itu kami bisa berangkat ke Jakarta.


Duduk di meja kerja selama dua jam membuatku pegal, aku membuka laci, di sana ada ponsel lama. Kartunya sudah mati tapi masih terdapat nomor keluarga Wikra.


Aku takut goyah kalau mendapatkan bujukan mereka, Tante Zara, Om Firman dan Reina. Mereka orang-orang baik yang menyayangiku. Maka dari itu aku memilih mematikan ponsel lama.


Ponsel tua itu hidupkan, mengambil nomor Tante Zara. Aku mengirim pesan ke Tante Zara. Menanyakan kabar dan menunggu beberapa saat. Belum ada balasan. 4 tahun berlalu, apa saja yang sudah terjadi. Aku membasahi bibir. Jantungku berdebar kencang.


Ponselku tiba-tiba berdering, membuatku terkejut dan Ahin hampir bangun. Aku segera mengambil ponsel tersebut dan pergi keluar. Di halaman rumah aku melihat nama yang tertera.


"Yifei! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tante Zara sedikit berteriak.


Padahal tadi aku yang bertanya duluan tentang kabarnya, tetapi dia langsung menelepon dan bertanya balik.


"Aku baik-baik saja Tante, kalau Tante sendiri gimana?"


"Tante hampir mati karena merindukanmu, si bodoh Wikra membuatmu pergi. Selama ini kamu pasti sangat menderita."


Tante Zara masih sama seperti dulu, lebih mengkhawatirkanku dari pada Wikra, anaknya sendiri.


"Aku beneran nggak papa, Tante. Itu udah masa lalu. Oh ya gimana kabar Om sama Reina?"

__ADS_1


"Mereka juga mencemaskanmu, sekarang kamu di mana?"


"Aku di Lampung, akhir bulan nanti boleh nggak aku mampir ke rumah? Ada yang mau aku bicarain."


"Kirim alamatmu, biar kami jemput kamu sekarang."


"Nggak usah, Tante. Aku masih ada kerjaan di sini. Nanti aku aja yang ke sana."


"Baiklah kalau gitu, pokoknya jangan hilang kontak lagi. Hubungi Tante tiap hari, ngerti?"


"Iya, Tante aku ngerti. Makasih banyak ya?"


"Tante sudah kayak Mama kamu, jangan pernah sungkan. Pulanglah kapan aja, pintu rumah bakal selalu terbuka lebar untuk kamu."


Walaupun sudah memiliki menantu baru, Tante Zara tetap memperlakukanku dengan baik. Aku sadar bahwa kasih sayangnya begitu tulus. Bagaimana bisa aku menceritakan penyakitku nanti? Pasti beliau sangat sedih jika tahu hidupku tidak lama lagi. Sungguh, aku sulit membayangkannya.


.


.


.


..


bersambung


Hay manteman.


Makasih banyak udah mampir di karya baruku. Karya ini aku lombain di sini even anak genius. Mohon dukungannya ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2