
Setelah kembali memimpin Next Media, Wikra tidak menyangka perusahaannya separah ini. Banyak korupsi dan pencucian uang. Ditambah produk baru gagal akibat ketidakmampuan CEO sebelumnya.
Next media ditinggalkan para investor dan memiliki citra yang buruk, Wikra bekerja keras untuk mengembalikan semua ke tempat semula. Padahal ia meninggalkan Next Media kurang dari setahun. Serasa kerja keras belasan tahun dihancurkan begitu saja.
Siang malam Wikra bekerja, menyusun tim baru dan perlahan semua pulih. Saham Next Media terus naik, investor berdatangan kembali. Wikra muncul ke publik dan menjadi tranding topik.
Waktu bersama keluarga menjadi sangat berkurang, Wikra berusaha keras supaya tetap bisa menyisihkan waktu bersama anak-anak.
Setidaknya makam malam ia harus di rumah dan tidak boleh lembur. Pernah ia lembur dan pulang malam, anak-anak mencarinya karena sulit sekali bertemu ayah mereka.
Yifei berkata waktu tumbuh kembang anak tidak bisa dibeli oleh uang, kalau Wikra sudah lenggang, anak-anak sudah tumbuh besar. Wikra akan melewatkan banyak hal.
Wikra berjanji membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan, ia juga tidak ingin jauh dari Yifei. Pulang tepat waktu dan liburan di akhir pekan selalu ia sempatkan.
Hingga kini keuangan mereka kembali pulih. Rumah lama sanggup Wikra beli kembali. Sementara kebun sawit milik Yifei dicicil.
"Kalian mau nggak nanti sekolah SD di dekat rumah kita yang dulu? SD yang ruangannya luas dan ada kolam renangnya?" tanya Wikra di meja makan.
Ahin menggeleng begitu juga dengan Ila.
"Ila gak mau."
Ila memiliki banyak teman di komplek sini. Setiap hari mereka bermain bersama. Bisa dibilang Ila sudah betah dan tidak mau pisah dengan teman-temannya.
"Ahin juga nggak mau," jawab Ahin sembari memasukkan nasi ke mulut.
"Kayaknya mereka suka di sini Mas, emangnya Mas mau mereka SD di mana?" tanya Yifei.
"Di SD Candida, SD elite bertaraf internasional. Aku ingin yang terbaik buat mereka."
Tiba-tiba Ahin bercelatuk. "Di mana pun Ahin sekolah, Ahin tetap pinter."
Anak itu memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, kalau sudah besar Wikra yakin sombong sepertinya dulu. Tapi semakin besar, wajah Ahin lebih condong ke gen kakek dari ibunya. Bermata sipit dan kulit putih.
"Kalau kita pindah ke rumah yang dulu. Kalian mau nggak? Kalian pasti kangen sama kolam renang dan taman yang luas?"
__ADS_1
"Ila suka kolam, tapi gak mau pindah."
"Kenapa Papa nggak buat kolam renang di sini aja, rumah sebelah kan kosong, bisa dibeli dan buat kolam renang?" Ahin memberi saran dengan cerdas.
"Mas, kayaknya mereka bener-bener nggak mau pindah."
"Kalau kamu sendiri gimana, suka di sini atau rumah lama?" tanya Wikra meminta pendapat Yifei.
"Aku juga lebih suka di sini, rumah lama terlalu luas. Di sini ada Ezhar sama temen-temen SMA ku. Terlebih, kayaknya Neli udah pacaran sama penjaga rumahnya Ezhar." Yifei menoleh ke arah Neli diikuti Wikra dan anak-anak.
Neli sudah seperti bagian dari keluarga, makan bersama tanpa memandang status sosial. Awalnya Wikra keberatan, tapi Yifei bersikeras dan berkata dulu Papanya begitu pada pembantu rumah.
Ayah Yifei adalah orang Taiwan yang masih membawa kebiasaan di sana. Keluarganya selalu memperlakukan pembantu seperti anggota keluarga.
"Eh, ngga gitu kok Nyonya, dia belum belum nembak." Neli berkilah. Wajahnya malu-malu.
"Tuh benar," kata Yifei.
"Hehe."
Keuangan mereka membaik sejalannya waktu, Wikra sangat bahagia dan merasa telah memenangkan kehidupan.
Renovasi rumah berjalan dengan baik, sesekali Ezhar berkunjung. Rumah Ezhar sudah lebih dulu direnovasi. Lebarnya tiga kali lipat dari rumah Yifei.
Ezhar sangat sibuk karena syuting box office Amerika. Ia go internasional. Lagu-lagunya masuk ke Billboard. Ezhar menjadi brand ambassador Next Media membuat citra dan saham Next Media meningkat drastis. Apalagi masyarakat kini tahu bahwa Ezhar pemilik 10 persen saham.
"Kenapa kamu membeli saham Next Media?" tanya Yifei ketika Ezhar berkunjung ke rumahnya.
"Supaya di masa depan posisi Ahin nggak tergoyahkan."
Ezhar tahu bahwa di masa depan, Ahin yang akan memimpin Next Media. Ia sudah menganggap Ahin seperti putranya sendiri.
"Kamu juga harus menikah dan punya keluarga." Yifei mengambil minum.
Anak-anak masih di sekolah, Wikra di kantor. Ia sedang mengawasi pembangunan di rumahnya. Bentuk kolam renang sudah terlihat. Para pekerja kalau tidak diawasi mereka bisa seenaknya sendiri.
__ADS_1
"Belum ada yang cocok."
Usia Ezhar tahun ini 26 tahun, masih sibuk berkarir dan tidak ada kabar berkencan.
"Apa kamu masih nunggu Celine?" tanya Yifei. Menyebutkan nama teman mereka yang kini berada di luar negeri.
Rumah kosong di samping rumah Yifei yang kini tengah dijadikan kolam renang tadinya milik Celine. Mereka bertiga bersahabat sejak kecil. Rumahnya berjejer.
"Nggak. Buat apa nunggu orang yang nggak bakal balik?"
Dari kecil Ezhar menyukai Celine, Yifei tahu hal itu.
"Kalau gitu aku jodohin sama Reina mau nggak?"
"Apaan sih, kok malah ngomongin ke sana. Aku bisa cari pasangan sendiri, oke?"
"Oke, tapi aku harap kamu cepet ketemu orang yang benar-benar tepat buat kamu."
"Nikah itu bukan siapa cepat dia dapat, aku masih enjoy jalanin karir. Nggak perlu buru-buru."
Seperti perkataan Ezhar, dia belum ada niatan menikah.
"Tapi aku senang melihatmu sekarang," lanjutnya.
Mendengar itu Yifei tersenyum, Ezhar adalah orang yang menemaninya di titik terendah. Tahu bagaimana perjuangannya dari mulai kehilangan kedua orang tua, menikah dengan Wikra dan melahirkan tanpa suami.
"Aku senang karena kamu sehat dan bahagia, aku nggak nyangka Wikra menepati janji."
"Iya kamu benar, aku juga nggak nyangka."
Tangan Ezhar terulur mengusap pucuk kepala Yifei. Mereka bisa bahagia setelah semua perjuangan panjang.
Yifei mengembuskan napas panjang, ia seperti telah memenangkan pertempuran panjang. Sekarang ia dekat dengan Ezhar, Wikra menjadi orang yang baik dan mencintainya dengan tulus. Juga memiliki putra dan putri yang menggemaskan.
bersambung.
__ADS_1
dikit lagi tamat ya manteman