
Dulu bagi Wikra, cintanya adalah Yumna. Wanita yang selalu tersenyum cantik. Memeluknya dengan hangat dan bersikap manja. Untuk Yumna, dia bisa memberikan segalanya termasuk menceraikan istrinya.
Dia pikir akan bersama selamanya dengan Yumna, ia bahkan rela dimusuhi orang tuanya demi wanita yang membuatnya senang itu.
Perkataan Yumna selalu manis, memujinya untuk segala hal. Berbeda dengan Yifei yang kaku. Sikap ngambek Yumna selalu menggemaskan hingga membuatnya terus tertarik.
"Mas udah pulang, hari ini lebih cepat ya? Apa karena akhir pekan?" tanya Yifei membuat lamunan Wikra buyar.
"Ah, iya. Aku pingin ngabisin weekend ini dengan kalian. Ini kan hari sabtu."
"Hari ini di kantor baik-baik aja kan?" Yifei mengambil tas kantor yang dibawa Wikra.
"Iya, semuanya berjalan baik. Produk parabola yang baru juga terjual laris."
"Alhamdulillah, Mas udah bekerja keras."
Wikra hanya tersenyum, Yifei masih perhatian dan menyemangati seperti dulu.
Sekarang jam 3 sore, biasanya walaupun weekend Wikra tetap bekerja sampai larut malam.
Ntah apa yang membuatnya ingin cepat pulang, rindu dengan Ahin kah? Atau Yifei? Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata.
"Sepeda," ucap Ahin menghampirinya. Anak itu perlahan mau menerimanya.
Wikra berjongkok, mengusap kepala Ahin. "Ahin mau diajari naik sepeda lagi?"
"He.em."
"Papa ganti baju dulu," kata Wikra.
"Aku siapin baju ganti dulu, Mas udah makan siang belum?"
"Udah di kantor."
"Mau mandi sekarang atau nanti malem?"
"Malem aja, sekarang mau main sama Ahin nanti keringatan."
"Yaudah aku siapin baju ganti."
Yifei meninggalkan mereka, punggung wanita itu terlihat rapuh. Tapi mampu mengurusnya dengan baik.
Setelah Yifei pergi 4 tahun lalu, ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Ia merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Perbedaannya sangat ketara, tidak ada lagi wanita yang perhatian menanyai ia sudah makan belum, bagaimana harinya di kantor, dan menyiapkan makanan serta pakaiannya.
__ADS_1
Walaupun ada Yumna, tapi terasa sangat berbeda. Yumna hanya memuji untuk hal seperti dia tampan, dia punya banyak uang dan selalu ingin diperhatikan.
Pernah suatu hari ia minta Yumna berperilaku seperti Yifei yang perhatian, menyiapkan makanan dan bajunya. Namun jawaban wanita itu adalah tidak mau karena takut kuteknya rusak, lalu menyerahkan segalanya pada pelayan.
Saat itu Wikra menyadari bahwa Yifei menjalankan tugas sebagai istri dengan baik. Padahal dia tidak pernah membalas kebaikan Yifei. Tidak pernah mengucapkan terimakasih dan malah terus memperlakukan dengan kasar.
Wikra masuk kamar, melihat Yifei sudah selesai menyiapkan baju. Membawakan tas kantornya dan menata di meja kerja.
"Itu bajunya, Mas. Mau aku buatin kopi nggak?"
"Iya."
Yifei meninggalkan kamar, ia segera berganti baju yang sudah disiapkan. Kaos dan celana pendek biasa. Ia menaruh baju kotornya di keranjang.
Pernikahan kedua membuka matanya lebih lebar, sadar banyak kesalahan yang dia buat. Dadanya mendadak nyeri. Penyesalan itu telah datang, menepis keegoisan. Membuatnya tahu mana yang benar dan salah.
Wikra turun ke bawah setelah ganti baju, ternyata sudah ditunggu anak dan istrinya. Ditambah kucing peliharaan Ahin. Mereka tersenyum ketika melihat Wikra menuruni tangga.
"Kopinya udah aku taruh di sana, cepet diminum nanti dingin."
"Iya, ayo ke sana."
Wikra menggendong balita yang menunjuk sepedanya. Katanya ingin segera naik sepeda.
Mereka bermain di samping rumah, ada taman dekat dengan kolam renang. Mengajari Ahin naik sepeda. Sementara Yifei menyemangati sembari menunggu di bangku.
Hanya saja, ia sedih mengingat semua kebahagiaan ini akan berakhir satu tahun lagi. Ia ingin seperti ini terus. Mengajari Ahin naik sepeda bersama Yifei. Mendapat perhatian Yifei setiap pulang dari kantor. Hingga suatu hari mereka mengantar Ahin ke sekolah dan mendampingi ke pelaminan.
Wikra baru saja merasakan kebahagiaan, ia ingin mempertahankan Yifei di sisinya. Ia janji akan berubah, apakah dengan begitu Yifei mau tetap tinggal?
Angin berembus menerpa wajahnya, ia menoleh ke Yifei yang sedang menyemangati Ahin naik sepeda tanpa dipegangi. Wanita itu tersenyum cerah.
"Istirahat dulu, yuk. Mama udah potongin mangga." Yifei melambaikan tangan.
Yifei yang awalnya membahasakan Ahin dengan Bunda kini berubah Mama, itu karena Yifei menghargainya. Tanpa diminta wanita itu mengalah untuk membuatnya senang.
Mungkin, dulu Yifei mengalah diceraikan untuk kebahagiaannya. Seharusnya dulu Yifei memperjuangkan rumah tangga mereka demi Ahin, menuntutnya di pengadilan atau mengadu ke orang tua angkatnya. Bukannya mengalah dan pergi.
"Mas, cepat makan. Mangganya enak loh."
Yifei memberikan sepotong mangga beserta garpu.
"Iya, rasanya manis."
"Ma, Miao ana?"
__ADS_1
"Tadi Miao di pot bunga sana." Yifei menunjuk pot bunga tak jauh dari mereka.
Ahin berlari ke arah pot, memanggil kucingnya.
"Fei," panggil Wikra.
"Hmm. Ada apa?"
Wikra ingin berjuang, kalau Yifei tidak ingin memperjuangkan rumah tangga mereka seperti dulu. Maka ia akan maju. Membuat keluarga harmonis untuk Ahin bukan untuk satu tahun, tapi selamanya.
"Apa kamu senang di sini?"
"Iya, aku senang. Ahin keliatan nyaman di sini."
"Apa kamu nggak pingin kayak gini terus?"
"Maksudnya gimana?"
"Apa kamu mau jadi istriku selamanya, bukan cuma untuk satu tahun?"
Pertanyaan Wikra membuat Yifei terkejut, wanita itu diam. Pandangan mata mereka bertemu. Ada keseriusan di mata Wikra. Ia sungguh menginginkan Yifei berada di sampingnya untuk selamanya.
.
.
.
.
bersambung
Hay gaes.
aku ngadain Giveaway nih.
Hadiah
- Novel Bidadari Jingga untuk 3 orang pemenang
- Pulsa 200 ribu untuk 2 orang pemenang (masing-masing 100 ribu)
- novel cetak bebas pilih untuk satu orang.
- Token listrik 150 ribu untuk 3 orang (masing-masing 50 ribu)
__ADS_1
yuk ikutan, info selengkapnya liat Instagramku @ka_umay8