
Suasana di ruang tengah lantai dua tampak tegang, posisi duduk Robi tidak tenang, pria kisaran usia 30 an itu sudah bekerja di kediaman sejak Wikra membangun rumah ini. Sekitar 3 tahun sebelum aku menikah dengan Wikra.
Kalau ditotal maka dia sudah bekerja di sini 7 tahun, selama itu keuangan rumah selalu dihandle olehnya. Aku tidak tahu jumlah pastinya, hanya saja dulu aku tidak sengaja pernah melihat dia mengajukan sekitar 250 juta.
Aku tahu dari Neli, gaji pelayan di sini sekitar 5 juta tergantung pekerjaannya. Total ada 26 pekerja termasuk Neli. Mereka memiliki tugas masing-masing yakni mengurus dapur, rumah, halaman, pengawal dan satpam.
Dalam satu bulan Robi tidak hanya mengajukan uang satu kali dalam jumlah besar, kadang sampai dua hingga tiga kali dengan berbagai alasan.
"Apa maksud, Nyonya? Bagaimana mungkin saya berani melawan Nyonya?"
Robi melemaskan bahunya, dia mulai khawatir. Sementara aku menatapnya dengan dingin, jemariku mengetuk meja.
"Kalau begitu berikan pembukuan keuangan rumah."
"Saya tidak bisa memberikannya, kalau anda mau silakan protes ke Tuan Wikra. Tapi beliau pasti tidak mau diganggu dengan urusan rumah, malah beliau akan marah jika anda bertanya."
Dia masih sama seperti dulu, mengandalkan Wikra dan keras kepala. Berpikir aku yang dulu sering diperlakukan semena-mena oleh Wikra tidak berani bertanya. Yah, itu benar. Dulu aku sepayah itu.
Sayangnya semuanya sudah berubah, di surat perjanjian pernikahan aku menulis supaya Wikra harus menuruti semua keinginanku selama tidak merugikan perusahaan.
"Kau pikir Wikra akan marah?" tanyaku. Memegang cangkir teh. Kembali menyeruput ringan.
"Tentu saya, coba saja kalau anda berani bertanya kepadanya. Tapi saya sarankan supaya anda tidak macam-macam kalau tidak ingin Tuan Wikra marah."
Robi ikut mengambil teh, meminumnya sama sepertiku. Sepertinya dia harus diberikan pelajaran supaya lebih bisa melihat keadaan yang sudah berubah.
Aku menyiramkan teh yang dipegang ke wajahnya, dia berdiri dan berteriak padaku.
"Apa yang Nyonya lakukan?!" Dia tampak sangat terkejut.
Aku menenteng cangkir kosong itu hingga airnya tak tersisa setetespun, lalu melemparkannya ke lantai hingga pecah. Semua pelayan di tempat itu diam, mereka terkejut sama seperti Robi.
"Kau tahu berapa harga gelas itu?" tanyaku.
Robi mengerutkan kening, "eh?"
"Wikra membeli cangkir tea set ini di Jepang, harganya 3.000 dolar. Kalau aku memecahkannya seperti ini, apakah menurutmu dia akan marah?"
"Tentu saja!"
Aku mengulurkan tangan, memberikan isyarat kepada Neli untuk memberikan ponsel. Aku segera menelepon Wikra.
"Hallo, ada apa Fei?"
"Mas, aku nggak sengaja pecahin cangkir teh yang kamu beli di Jepang. Mas jangan marah ya?"
"Cuma cangkir tinggal beli lagi."
__ADS_1
"Makasih, Mas. Oh ya, aku pingin ganti kepala pengurus rumah. Kayaknya dia udah capek. Gimana menurut Mas?"
"Si Robi?"
"Iya."
"Ganti aja, terserah kamu."
"Oke makasih, Mas."
"Hari ini aku pulang cepat," katanya.
"Iya, aku tunggu."
Panggilan dimatikan, aku menyangga dagu, melihat Robi dengan kedipan mata dan senyum kemenangan. Mengejeknya.
Tubuhnya terlihat bergetar, kakinya lemas hingga berlutut di depanku. Sekarang ia paham bahwa semua sudah berubah. Hubunganku dan Wikra tidak seperti dulu.
"Maafkan saya, Nyonya!" Dia menunduk.
Neli memberikan cangkir baru dan mengisinya dengan teh, lalu mundur ke belakangku lagi. Aku yakin Neli dan pelayan yang lain sangat terkejut. Selama ini Robi adalah orang yang paling berkuasa di rumah ini setelah Wikra.
"Sekarang kau paham posisimu?" tanyaku sembari mengambil secangkir teh yang tersaji kembali.
Pecahan cangkir di sekitar Robi masih utuh, belum ada yang berani membereskannya.
"Kau bukan hanya tidak sopan, tapi juga kurang ajar."
Aku berdiri, sepatu hak tinggi membuatku mudah melewati pecahan cangkir untuk mendekat ke Robi yang masih berlutut. Aku menunduk.
"Sebelum makan siang, bawakan catatan pembukaan keuangan rumah."
"Ba-baik, Nyonya."
Aku kembali berdiri tegak, berbalik dan berjalan melewati para pelayan meninggalkan ruang tengah lantai dua.
Semua pelayan terdengar saling berbisik, mereka pasti sangat terkejut dengan perubahanku. Aku kembali ke kamar, belum ada yang memberesi barang-barang. Masih berantakan seperti tadi.
"Maaf, Nyonya. Nanti akan saya bereskan," kata Neli.
Padahal aku menyuruh pelayan lain membereskan barang-barangku, tapi mereka tidak ada yang mau bergerak mengikuti perintah.
"Sepertinya aku harus memecat banyak pelayan sekarang," ucapku.
"Saya akan memperingatkan mereka lagi, Nyonya."
"Tidak perlu, aku tidak mau memperkerjakan para pembangkang. Tolong kamu bereskan ini, aku akan keluar dengan Ahin."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
Aku mengambil tas dan keluar rumah. Aku memilih mobil paling bagus hingga membuat Robi ragu memberikan kuncinya.
"Mama, you chi nali?" tanya Ahin.
Ahin memiliki kebiasaan memanggilku Mama ketika memakai bahasa Mandarin.
"Kita akan pergi ke yayasan untuk mengganti para pelayan," jawabku.
Robi yang tadinya ragu memberikan kunci kini langsung memberikan padaku.
"Nyonya, tolong berikan saya kesempatan sekali lagi."
"Aku tidak hanya akan menggantimu, tapi juga mengganti semua pelayan yang ada di sini."
Para pelayan yang mendengar itu langsung gempar, mereka mendekat ke arahku dengan wajah panik.
"Nyonya, tolong jangan ganti saya."
"Nyonya, saya janji akan bekerja lebih giat."
"Nyonya, tolong maafkan kami."
"Nyonya tolong berikan kesempatan sekali lagi."
Ahin terlihat kebingungan melihat orang-orang yang terus memohon. Sementara aku menatap mereka semua dengan dingin.
.
.
.
.
.
bersambung
Hay gaes.
kalau mau masuk grup ntku sandinya sebutkan 6 nama tokoh Remarriage With CEO. JANGAN DISEBUTKAN DI KOLOM KOMENTAR YA!
Tapi aku lebih sering on di channel telegramku Dimensi Halu, di sana ada banyak side story novel"ku dr berbagai aplikasi. gabung yuk, gratis dan gk ada syarat apapun buat masuk.
ketik aja di pencarian telegram nama channelku Dimensi Halu. klik yang ada profilku. trus gabung deh.
__ADS_1