
Hubungan mereka tidak banyak berubah sekalipun pernikahan ulang sudah disetujui, Ahin tampak acuh saat diberitahu. Anak itu tetap mengabaikan Wikra dan tidak mau memanggilnya ayah.
"Hari ini aku mau ngajak Ahin ke perusahaan cabang NEXT Media, tempat parabola dibuat," kata Wikra.
"Ngapain?" tanya Yifei mengerutkan kening.
Wanita itu mendongak ke atas, melihat Wikra yang sedang melipat lengan kemejanya. Hari ini Wikra tidak memakai jas, hanya kemeja putih dan celana dasar biru dongker.
"Supaya Ahin bisa lihat kalau ayahnya lebih keren dari Ezhar yang cuma bisa pose depan kamera."
Wikra tidak menyebutnya cemburu, untuk apa cemburu pada pria yang hanya bisa bersolek dan bicara sok manis. Ezhar penuh dusta dan kebohongan, maka dari itu Ahin bisa terpikat.
Namun, setelah Ahin melihat betapa keren ayahnya bekerja. Pasti Ahin akan kagum padanya.
"Nanti kalau dia rewel gimana? Apa aku ikut juga?" tanya Yifei khawatir.
Memang baik kalau bisa bertiga, tapi kalau Yifei ikut maka pusat perhatian Ahin hanya pada ibunya. Wikra ingin Ahin bergantung padanya.
"Nggak usah, aku bisa jaga Ahin."
Yifei tampak ragu dengan ucapan Wikra, calon suaminya itu seperti orang yang tidak bisa diandalkan dalam menjaga anak. Pada akhirnya Yifei menyerahkan Ahin.
Hari pernikahan semakin dekat, gaun pengantin sudah dipesan. Gedung sudah ditentukan, acara sudah dirangkai. Tinggal menunggu hari H.
Wikra ingin di hari pernikahan mereka, Ahin sudah memanggilnya ayah tanpa canggung. Lebih tepatnya dia ingin diakui Ahin.
"Ahin, hari ini mau lihat parabola nggak?" tanya Yifei mengalihkan pandangan Ahin dari kucing ke ibunya.
Bocah itu menunjuk atas, ingat bahwa ada parabola di atas rumah. Kepalanya meneleng, dia belum paham bahwa ayahnya adalah pembuat parabola sekaligus pemilik.
"Tipi?" tanyanya polos.
"Iya, alat yang dihubungkan ke TV. Ahin suka ngrangkai barang 'kan? Nanti Ahin bisa lihat parabola dirangkai."
"Ain au liat," katanya. Antusias.
"Ahin pergi sama ayah lihat parabola, Bunda nggak bisa ikut."
"Miao Miao ikut?" tanya Ahin menunjuk kucing kecilnya yang sedang bermain bola.
Yifei melihat ke arah Wikra, meminta jawaban apakah kucingnya Ahin boleh ikut.
__ADS_1
Meong... meong....
Seperti tahu arti percakapan, si kucing kecil bergelayut di kaki Ahin, tidak mau ditinggal. Memang mereka seperti tidak terpisahkan.
"Miao Miao boleh ikut," jawab Wikra.
Ahin terlihat senang, dia membawa si kucing ke dalam gendongannya. Mengelus bulu berwarna oren tersebut.
Yifei membekali Ahin uang dua ratus ribu, ponsel darurat, dia juga membawakan beberapa hal yang mungkin dibutuhkan Ahin seperti air minum dan topi. Semua dimasukkan ke dalam tas.
"Jaga Ahin baik-baik," kata Yifei mengingatkan. Wajahnya khawatir terjadi hal buruk pada putra mereka.
"Kamu tenang saja," jawab Wikra santai.
Mereka melakukan perjalanan berdua untuk pertama kalinya, sepanjang jalan Ahin hanya berbicara kepada kucing. Sulit untuk Wikra mengikuti arah pikiran Ahin.
Bocah kecil yang mirip dengannya itu begitu dingin, pipinya semakin tembem, kaki kecilnya bergerak ke depan belakang, sabuk pengaman tidak menghalanginya untuk bermain dengan kucing.
"Ahin, coba panggil Ayah." Pinta Wikra.
"Wikla," jawab Ahin masih tetap kekeh tidak mau.
"Kenapa Ahin nggak mau panggil Ayah?" tanya Wikra selembut mungkin.
"Ayah nggak jahat, Ayah sayang sama Ahin dan Bunda."
"Bo'ong."
Apakah anak ini bisa membaca pikiran orang? Wikra bertanya dalam hati.
"Ayah nggak bohong."
"Ain gak pelcaya." Bocah itu bersikeras.
Percakapan mereka terhenti ketika mobil berhenti di depan lobi, Wikra mengambil tas Ahin dan menggandeng tangan bocah itu. Sementara si kucing mengikuti dari belakang.
Semua orang yang berbaris menunduk hormat kepada mereka, raut wajah mereka seperti bertanya siapa anak kecil yang dibawa Wikra.
"Selamat datang, Pak."
Manager menyalami Wikra dengan senyum merekah, pandangannya tak luput dari Ahin.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan produk baru kita, kemarin saya dengar ada banyak komplain?"
"Itu karena ada kesalahan di bahan baku, tapi sekarang kami sudah menggantinya."
"Bisa-bisanya hal seperti itu terjadi, pecat penanggung jawab bahan baku."
"Baik, Pak. Silakan lewat sini untuk melihat langsung pembuatannya."
Wikra menarik Ahin mengikutinya, bocah itu tampak antusias melihat bahan-bahan parabola yang dirangkai, Wikra mengangkatnya dalam gendongan supaya Ahin bisa melihat dengan jelas.
"Ayah yang membuat parabola itu," kata Wikra membanggakan diri.
"Bica?"
"Ayah bisa merangkainya kalau Ahin mau lihat," kata Wikra lagi.
"Ain uga bica." Ahin tak mau kalah.
Sebenarnya Wikra ingin memperlihatkan kepada Ahin ketika dia bisa merangkai sesuatu menjadi barang berguna, hanya saja tempat itu terlalu berbahaya untuk Ahin yang masih kecil.
Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Ahin, maka Yifei tidak akan memaafkannya.
"Pak, ketua pembuat bahan baku menolak dipecat, dia membuat keributan dan membakar bahan-bahan baku."
Wajah mereka semua berubah, kepulan asap memenuhi kantor hingga membuat semua orang terbatuk-batuk. Semua orang berlarian menyelamatkan diri.
Mereka berhamburan keluar dari ruangan, berlari berdesak-desakan menuju pintu keluar. Barang-barang ditinggalkan dan hanya peduli dengan tubuh mereka.
Wikra panik karena kerugian pasti mencapai ratusan juta, apalagi baru kemarin bahan baku dari luar negeri itu sampai.
"Cepat panggil pemadan kebakaran!" Teriak Wikra. Dia menunjuk orang-orang supaya memadamkan api, bahkan dia sendiri ikut menarik selang dan menyelamatkan bahan baku yang belum terbakar.
Saat keributan itu terjadi, Wikra tidak sadar bahwa sudah melepas tangan Ahin dan membuat bocah itu menghilang.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung
makasih dukungannya manteman. Bantu promoin cerita ini ya biar jumlah favoritnya naik. Biar aku gk sedih-sedih amat. Kalau jumlah favorit banyak kan semangat up.