Buntalan Kosong

Buntalan Kosong
Pertengkaran


__ADS_3

"Ain, maem." Ila menyuruh Ahin yang sibuk dengan iPadnya untuk makan.


Mereka berada di restoran rumah sakit, di meja terdapat nasi goreng seafood. Milik Ila hampir habis sementara milik Ahin masih banyak.


"Iya, Den. Makan dulu baru mainan iPad lagi." Baby sitter berusaha menyuapi Ahin yang menolak membuka mulut.


Ahin mengabaikan mereka dan sibuk mengeja artikel di sana, dia bisa membaca tapi membutuhkan waktu lama untuk paham.


"Ain! Maem!" Ila berteriak. "Cepat maem!"


Lama-lama Ahin kesal dan mengambil sendok.


Tak!


Sendok itu digunakan untuk memukul kepala Ila, tidak keras tapi membuat Ila menangis. "Berisik."


"Den Ahin nggak boleh kayak gitu," kata baby sitter langsung menggendong Ila, berusaha menenangkannya.


"Makanya diem." Ahin tidak peduli dan melanjutkan membaca. Ia tengah membaca tentang operasi.


Ahin tidak paham bahasa medis, ia hanya bisa menyimpulkan bahwa operasi bisa membuat ibunya sembuh meskipun harus mengalami rasa sakit. Ahin terlihat sangat khawatir dan terus memikirkan ibunya yang berada di dalam ruang operasi.


Ila memang tidak paham itu semua, bagi Ahin ibunya sangat penting sampai Ahin tidak bisa tidur karena takut terjadi sesuatu pada ibunya.


Di restoran itu terdapat banyak orang, melihat ke arah Ila yang menangis kencang. Baby sitter harus membawa Ila keluar untuk menghentikan tangisannya. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Ahin sendirian.


Pada akhirnya baby sitter menghubungi Wikra untuk segera datang mengurus Ahin.


"Papa kalian akan datang, sekarang Kak Ahin harus minta maaf sama Dek Ila." Pinta baby sitter. Membahasakan Ahin dengan kak dan Ila adik.


"Gak mau. Ila berisik."


Akhir-akhir ini Ahin sangat keras kepala dan bersikap dingin, ia sering bersikap seenaknya sendiri pada Ila. Nama Ila sudah diganti dan Wikra membahasakan Ila dengan Kirana. Tapi Ahin menolak memanggil Ila dengan Kirana.


"Ada apa ini?" tanya Wikra baru datang, meninggalkan Reina dan Ezhar di depan ruang operasi. Napasnya naik turun melihat Ila dan Ahin bergantian.


"Den Ahin memukul kepala Non Kirana memakai sendok," jawab baby sitter.


"Ila berisik." Ahin membela diri dengan angkuh. Mirip Wikra saat kecil.


"Bawa Kirana keluar dulu, Mbak. Biar aku urus Ahin" kata Wikra.


"Baik, Tuan."


Baby sitter mengangguk dan membawa Ila keluar dari restoran, bocah balita itu masih menangis.


Wikra duduk di samping Ahin sembari mengembuskan napas berat, semakin besar sifat Ahin semakin mirip dengannya. Wikra tidak bersyukur akan hal itu. Ia harus bekerja keras membuat Ahin menjadi anak yang baik dan penyayang.


"Sekarang Ahin sudah menjadi kakak, seharusnya Ahin bisa jagain Dek Kirana."


"Dek Ila!" Ahin menyanggah.


"Ok ok Dek Ila."

__ADS_1


"Dek Ila berisik, ganggu Ahin."


"Walaupun berisik, tapi kamu nggak boleh pukul Dek Ila. Selain Papa dan Mama, yang bertugas menjaga Dek Ila itu kamu."


"Dek Ila udah besar."


Tubuh Ila dan Ahin setara, Ahin tidak berniat menjaganya.


"Walaupun Dek Ila sudah besar, kamu tetap bertugas menjaga dia sampai kapan pun. Ahin kan kakaknya Dek Ila."


Ahin diam sejenak, ia meletakkan iPad dan melipat kedua tangannya di depan dada. Kurang setuju dengan ungkapan bahwa dia kakaknya Ila.


"Dek Ila bukan adeknya Ahin."


Ahin bersikeras tidak menganggap Ila yang seumuran sebagai adik. Bagi Ahin, adiknya adalah bayi. Tidak bisa baru bertemu langsung jadi adik.


Wikra mengambil tangan kecil Ahin, menunjukkan urat nadi dan otot tangan bocah itu. Ahin mengamatinya.


"Ahin tahu apa yang ada di dalam sini?"


Bocah itu menggeleng.


"Yang ada di dalam sini ada darah, Ahin sama Ila punya darah yang sama. Ahin tahu kenapa Mama sulit sembuh?"


Ahin menggeleng lagi.


"Karena Mama nggak punya saudara, kalau Mama punya saudara sedarah kayak Ahin sama Ila. Mama bisa cepet sembuh. Ila sama Ahin saling membutuhkan, harus saling menjaga, Ahin ngerti?"


Ahin masih diam, mencerna semua perkataan Wikra.


Lagi-lagi Ahin diam, tapi perlahan dia paham maksud Papanya. Kepala bocah itu mengangguk perlahan. Sejak Yifei masuk rumah sakit, sikap Ahin berubah. Tidak ada keceriaan lagi.


"Ahin paham, 'kan?"


Kepala bocah itu mengangguk. "Ahin paham."


Wikra mengusap kepala Ahin lembut. "Sekarang Ahin harus minta maaf sama Dek Ila."


Raut wajah bocah itu tampak keberatan, Wikra menurunkan Ahin dari kursi dan menarik tangannya meninggalkan restoran. Menghampiri Ila yang sedang digendong baby sitter.


Ila sudah berhenti menangis, tapi tidak mau melihat Ahin dan melingkarkan tangannya di leher baby sitter.


Wikra menggendong Ahin, menyeimbangkan tinggi dengan Ila.


"Dek Ila, ini Kakak Ahin mau ngomong, coba tengok sini." Wikra merayu.


Perlahan Ila mau menoleh, melihat Kakak dan ayahnya. Tangan Wikra terulur mengusap kepala Ila.


"Kepala Dek Ila masih sakit? Sini Papa tiup biar sembuh." Wikra meniup kepala Ila sembari mengusapnya.


"Gak sakit." Ila bersuara.


"Alhamdulillah kalau udah nggak sakit." Wikra mendekatkan Ahin pada Ila.

__ADS_1


"Dek Ila, maaf."


Ahin tampak ragu mengatakannya. Tangannya terulur mengusap kepala Ila seperti yang dilakukan Papanya tadi. Kemudian ia meniupnya.


"Dah Kakak tiup."


Mendengar itu Ila tersenyum, dia sudah tidak marah lagi. Mereka berbaikan dengan mudah. Anak-anak yang menggemaskan, Wikra harap mereka menjadi saudara yang saling menyayangi meskipun beda ibu.


Operasi Yifei berjalan dengan lancar, Pak Ilyas mendapat perawatan extra karena tiba-tiba tekanan darahnya menurun.


"Ahin jaga Mama."


Ahin tidak mau pulang walaupun operasi Yifei sudah selesai, ia bersikeras ikut menunggu di depan ruang ICU, dari kaca melihat Mamanya yang mendapat perawatan intensif.


"Kamu pulang sama Dek Ila, jangan bandel. "


Wikra berusaha keras mengurus semuanya sendiri, pikirannya sering kacau, gelisah dan lelah. Dulu, dalam keadaan kacau Wikra selalu lari ke club malam. Sekarang itu tidak terlintas sedikitpun.


Selelah apapun dia, keluarga adalah nomor satu. Mengurus istri, dua anak dan ayah kandungnya.


"Aku akan bawa Ahin sama Ila pulang," kata Reina. Gadis itu menunduk dan merayu Ahin.


Setelah mereka pergi tinggalah Wikra dan Ezhar yang melihat Yifei dari jendela kaca ruang ICU. Tiba-tiba Wikra mimisan.


"Ah." Ia lupa kapan terakhir istirahat.


Buru-buru darah yang keluar dari hidung diseka. Tapi sudah terlanjur mengotori kemejanya.


"Pulanglah, biar aku yang menunggu Yifei." Ezhar mengatakan itu setelah menoleh.


"Aku nggak papa."


"Nggak usah keras kepala."


"Aku baik-baik saja."


"Kalau kau sakit semua nanti kacau."


Darah mimisan semakin banyak, kepala Wikra pusing dan pandangan berubah buram. Tubuhnya lemas.


"Aku akan istirahat sebentar, tolong tunggu Yifei, mungkin sebentar lagi dokter akan keluar."


"Hm."


Baru saja Wikra berbalik langsung ambruk, dia pingsan hingga membuat Ezhar terkejut lalu berteriak meminta bantuan.


.


.


.


. bersambung

__ADS_1


manteman yang punya i n n o v e l. Mohon bantuannya pencet love karya-karyaku di sana ya 🥺🥺


__ADS_2